Senin, 28 Juni 2010

GENERASI MUDAH PECINTA AL-QUR'AN

بِسْمِاللّهِالرَّحْمنِالرَّحِيمِ
Kisah 1

“Ketika saya kecil, ibu dan ayah saya mendidik saya dalam suasana al-Qur’an sehingga hati saya amat terkesan dengan ayat-ayat al-Qur'an. Terutama ayat-ayat yang menganjurkan kita untuk menolak kezaliman dan pemerasan….Antaranya adalah firman Allah dalam surah asy Syura ayat 39 yang bermaksud : "Dan bagi orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri." Ketika ibu saya meninggal dan hati saya dirundung kesedihan saya sentiasa merenung surah al-Fajr, "Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhai-Nya. Maka masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga Ku"

Inilah antara coretan yang ditemui dalam salah satu lembaran diari kecil hingga kini tetap terpelihara. Di atas lembar-lembar diari itu, tertulis petikan ayat-ayat al-Qur’an. Begitulah sepintas kenangan manis masa kecil milik Alija Izzatbegovic. Sosok itu menghadapi badai permusuhan hebat yang menghempas agama dan bangsanya di Bosnia Herzegovina.

Inilah antara cebisan kisah peribadi-peribadi yang dibentuk oleh gema al-Qur’an dalam jiwa mereka sejak kecil.

Gema al-Qur’an semasa mereka kecil amat mempengaruhi kehidupan dewasa kemudian hari……

Kisah 2

“Ayahku menyimpan cita-cita agar Allah memberinya rezeki seorang anak yang mempunyai suara dan bacaan al-Qur'an yang indah. Ternyata, puteranya, tak ditakdirkan memiliki suara yang merdu. Puteranya itu sekadar menjadi seorang yang suka menyemak bacaan al-Qur'an. Ayahku sering mengundang para qurra' untuk tilawah al-Qur'an di rumahku. Bermula dari detik itu, sedikit demi sedikit, kesenangan dan rasa sukacita itu tumbuh subur dan memekar dalam jiwaku. Bila terdengar al-Qur'an dibaca, aku yang masih kecil terdiam dan menyemaknya dengan penuh perhatian. Berkembanglah keterpautan jiwaku dengan al-Qur'an. Dan kelak, aku memang sekali lagi tak menjadi qari'ul Qur'an……”

Namun putera ini termasuk segelintir para tokoh pemikir Islam yang memiliki saham besar dalam arus kebangkitan Islam di zaman kini. Sayyid Qutb nama yang tidak asing dalam dunia Islam. Beliau bukan qari’ul Qur’an namun beliaulah pengarang kitab Tafsir al-Qur’an – Fi Dzilalil Qur’an…….
Kunci kemenangan

Al-Qur'an telah terbukti menjadi kunci kemenangan dan ‘izzah kaum muslimin. Suatu ketika dahulu tatkala dalam dada umat tertanam kedekatan serta pemahaman yang dalam terhadap al-Qur'an, mampu mengobarkan semangat seterusnya melahirkan kekuatan sangat besar. Dalam siri-siri peperangan, banyak kisah sahabat yang berjaya meraih kemenangan melalui bacaan al-Qur'an. Dalam perang Qadasiyah contohnya, Umar ra memerintahkan Sa'ad bin Abi Waqash ra untuk membaca dan memperdalam kandungan ayat dalam surat al-Anfal di kalangan pasukannya. Lalu terjadilah perubahan dahsyat dalam jiwa pasukan Islam. Mereka bangkit setelah hampir tewas dan kehilangan semangat hingga mampu meraih kemenangan. (Hayatu shahabah 4, hal 556).

Malah keistimewaan orang yang membaca dan mempelajari al-Qur'an diumpamakan oleh Rasulullah, ibarat suata bejana yang penuh berisi minyak wangi yang baunya selalu semerbak di mana-mana (Riwayat Ibnu Majah, Tirmidzi, Abu Daud). Peribadi al-Qur’an bagai sebuah mercu obor yang memancarkan cahaya dan memberi terang di malam gelap kepada umat manusia.

Maka tidak ada yang lebih baik kecuali berusaha mengenalkan seseorang pada al-Qur'an sejak dini. Kisah Alija dan Sayyid Quthb semasa kecil di atas, boleh dijadikan ibrah bahawa pendidikan al-Qur'an sejak kecil, sebagai tonggak utama terbentuknya mental dan keperibadian anak yang sihat dan diredhai Allah SWT. Dalam petikan kisah di atas juga ternyata menunjukkan kesan yang lahir dari kedekatan seseorang dengan al-Qur'an. Alija yang terlatih dengan ayat-ayat Allah contohnya sentiasa menghubungkan garis peristiwa hidupnya dengan ungkapan-ungkapan al-Qur'an. Sayyid Quthb pula yang sejak kecil memiliki rasa hormat yang demikian agung dalam hatinya kepada al-Quran, sehiagga di akhir hayatnya, beliau dapat dengan tenang menyongsong syahadah di tiang gantung demi membela aqidahnya.

Oleh itu sudah sewajarnya seorang anak, sejak kecil diusahakan untuk memiliki ikatan-ikatan rohani melalui gema al-Qur’an. Sehingga jiwanya memiliki kejernihan, cahaya, keimanan dan keikhlasan. Menjadi tanggungjawab kedua ibu bapa untuk membuka mata anak sejak kecil untuk mengetahui prinsip baik dan buruk, masalah halal dan haram, benar dan salah, dosa dan pahala sebagaimana yang ditetapkan oleh al-Qur’an. Rasulullah SAW bersabda:"Suruhlah anak-anakmu mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya…"(Riwayat Ibnu Jarir dan Ibnu al-Mundzir).

Ikatan rohani dalam jiwa anak
Pendidikan al-Qur'an adalah salah satu ikatan rohani yang paling efektif untuk mendidik jiwa seseorang. Rasulullah SAW bersabda: "Didiklah anak-anakmu dalam tiga perkara: mencintai Nabimu, mencintai keluarganya dan membaca al-Qur'an.
Sesungguhnya orang-orang yang membawa a!- Qur'an berada dalam naungan Arsy Allah ketika tidak ada naungan kecuali naungan Nya, bersama para nabi dan orang-orang suci." (Riwayat ath-Thabrani).

Para ulama terdahulu telah menekankan kepentingan dan keutamaan pengajaran al-Qur'an agar dimulakan sejak zaman kanak-kanak. Dalam Muqaddimah-nya, Ibun Khaldun mengisyaratkan pentingnya mengajar dan menghafal al-Qur'an kepada anak-anak.

Menurut beliau pengajaran al-Qur'an adalah dasar pengajaran dalam semua kurikulum sekolah di berbagai negara Islam. Al-Qur’an merupakan semboyan agama yang mengukuhkan akidah. Begitu juga Ibnu Sina, dalam kitabnya "as-Siyasah", menekankan kaum muslimin seharusnya mempersiapkan fizikal dan mental anak yang dimulakan dengan pengajaran al-Qur'an. Imam al-Ghazali dalam Ihyanya pula mewasiatkan pengajaran al-Qur'an, hadis dan cerita orang-orang soleh kepada anak-anak. Malah telah menjadi suatu kebiasaan para orang tua menyerahkan anak-anak mereka kepada seorang syaikh murabbi (pendidik) untuk diajar al-Qur'an. Sehingga roh mereka begitu tinggi, hati mereka khusyuk, air mata mereka mudah berlinangan bila mengingati Allah. Inilah kesan lantunan gema al-Qur’an, keimanan dan aqidah yang telah meresap ke dalam jiwa.

"Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (iaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka." ( al-Hajj: 34-35).

Menumbuhkan Rasa Cinta pada al-Qur'an
“Tak kenal maka tak cinta.” “Dari mana datangnya cinta ? Dari mata turun ke hati.”

Ungkapan-ungkapan ini sering dilafazkan apabila kita berbicara tentang cinta. Oleh itu bagaimana menyuburkan rasa cinta dalam jiwa anak terhadap al-Qur'an? Dalam hal ini ibu bapa adalah pihak yang paling berperanan menjadi pembentuk cinta tersebut. Rasa cinta akan tumbuh subur dalam jiwa anak-anak apabila mereka sering melihat dan membaca Al-Qur’an. Anak-anak akan terpengaruh dengan persekitaran yang dilihat disekelilingnya. Hidup dalam suasana membaca Al-Qur’an, membincangkan atau menghafal ayat-ayat suci al-Qur'an dalam sebuah keluarga akan menumbuhkan rasa hormat dan menimbulkan kebanggaan dalam jiwa anak kepada al-Qur'an.

Perlihatkanlah kepada anak-anak suasana indah bersama Al-Qur’an. Tidurkan mereka dengan kisah-kisah dari Al-Qur’an. Bukannya dongengan dari kayangan. Dodoikan anak-anak dengan dendangan Al-Qur’an. Pujuklah mereka dengan janji-janji dari Al-Qur’an. Takutkan mereka dengan ancaman dalam Al-Qur’an. Bukan takut binatang atau hantu atau kegelapan.Biarkan mereka kenal Al-Qur’an dalam kehidupan. Jangan jadikan Al-Qur’an asing dalam kehidupan. Hanya disentuh apabila ada kematian atau diletakkan tinggi kononnya dimuliakan sehingga dibaca anai-anai.
Semaklah bacaan al-Qur'an anak-anak sebagaimana kita menyemak tugas sekolah mereka. Putarkan alunan Al-Qur’an melalui pita rakaman. Bukan hanya lagu-lagu yang mengasyikkan. Gemakanlah Al-Qur’an dalan jiwa anak-anak agar ia melahirkan generasi cinta Al-Qur’an.
Generasi tetap pendirian,
generasi yang hidup dengan semangat perjuangan.
Generasi yang sanggup menumpahkan darah demi mempertahankan Al-Qur’an.
Generasi bijak yang beriman.
Generasi yang berwawasan.
Generasi al-Qur’an…..
Ia bukan suatu dongengan.


Metode "Rumah Qurani" yang kami maksud adalah metode yang diilhami dari pengajaran Al Quran di Jamiatul Quran yang didirikan oleh Sayyid Muhammad Mahdi Tabatabai, di Iran. Insya Allah, metode lengkapnya secara bertahap akan di-upload di website Rumah Pohonku. Namun untuk sementara, inilah garis besar metode tersebut, yang bisa Anda terapkan kepada anak-anak Anda mulai dari sekarang.

Tujuan utama metode Rumah Qurani adalah mengajar anak mengenal Al Quran secara menyenangkan dan komprehensif sehingga insya Allah tercipta generasi yang cinta Al Quran dan berakhlak Qurani.

Langkah Pertama: tetapkan motivasi yang benar

Yang jelas, motivasi kita untuk mengajar anak menghafal Al Quran bukanlah karena orang lain, "Lihat itu, si Budi sudah hapal 10 surat, masak kamu tidak bisa?!" Carilah motivasi yang benar, antara lain, untuk mendidik akhlak anak agar sesuai dengan ajaran Kitab Suci Ilahi ini. (baca: Mengapa Kita dan Anak Kita Perlu Menghafal Al Quran)

Langkah Kedua: mulailah dengan pengajaran ayat-ayat yang sederhana dan mudah diaplikasikan anak dalam kehidupan sehari-hari

Langkah ini bertujuan antara lain untuk membuat anak familiar dengan bunyi-bunyi bahasa Arab yang tentu awalnya terasa asing bagi mereka. Dengan kata lain, mereka akan menyadari bahwa ayat Quran adalah sesuatu yang 'hidup' dalam keseharian, bukan 'mantra-mantra aneh'. Konsep-konsep dalam ayat-ayat pilihan tersebut dengan mudah bisa digambar oleh orang tua, lalu anak disuruh mewarnainya. Anak dan orang tua juga bisa mendiskusikan banyak hal dari ayat itu.

Sebagai contoh, ayat yang berhubungan dengan berbuat baik kepada ibu-bapak (waa bil waalidaini ihsaanaa -- Al Israa:23). Kita bisa menggambar di kertas: seorang anak yang sedang mencium tangan ibu dan ayah. Beberapa contoh gambar sederhana, bisa dilihat di situs ini :
http://www.arisprasetya.net/komunitas/modules/gallery2/main.php

Pilihan topik-topik ayat lain yang konsepnya mudah diaplikasikan:

a. Topik ayat: kebersihan badan
Ayat: wallahu yuhibbul mutathaahhiriin (At-Taubah:108)
Gambar: anak sedang mandi.

b. Topik ayat: kebersihan baju
Ayat: wa tsiyaabaka fa thahhir (Al Mudatsir:4)
Gambar: anak di samping mesin cuci dan baju di jemuran

c. Topik ayat: berhias/ berpenampilan rapi kalau ke mesjid
Ayat: khudzuu ziinatakum inda kulli masjid (Al A’raaf: 31)
Gambar: Anak sedang bersisir (bersiap-siap akan ke mesjid)

d. Topik ayat: mendirikan sholat
Ayat: wa aaqimis-sholaata li dzikrii (Thaha:14)
Gambar: anak sedang sholat (posisi berdiri)

e. Topik ayat: bekerjasama dengan teman dalam kebaikan
Ayat: wa ta’aawanu alal birri wa taqwaa (Al Maidah:2)
Gambar: seorang anak sedang memapah temannya yang kakinya terluka

Langkah Ketiga: lakukan proses menghafal dengan suasana yang menyenangkan dan komprehensif

Bila mengikuti metode aslinya (yaitu menggunakan metode Rumah Qurani), tentu saja diperlukan pelatihan terlebih dahulu. Namun, untuk sementara, kita bisa mencoba sebatas kemampuan kita saja, antara lain sbb:

a. Memahamkan kepada anak makna ayat yang sedang dihafal dengan menggunakan isyarat tangan. Misalnya ketika mengajarkan surat Al-Ikhlas:
qul huwal-Laahu ahad Qul (artinya: katakanlah) -> tangan menunjuk ke mulut
Huwal- (artinya: Dia) -> jari telunjuk menunjuk ke atas
Laahu (artinya: Allah) -> jari telunjuk menunjuk ke atas
Ahad (artinya: satu) -> tangan menunjukkan bilangan satu

b. Bila penggunaan isyarat tangan sulit dilakukan (karena memang untuk
itu, kita harus menguasai minimalnya, sedikit, bahasa Arab), kita bisa
menyiasatinya dengan menjelaskan makna ayat melalui gambar (seperti
langkah kedua di atas) atau melalui dongeng.

Misalnya, "Anakku, coba lihat di sekitarmu, ada pohon, gunung, langit,
bunga, kupu-kupu...tahukah engkau siapa yang menciptakan semua itu?
Alam semesta ini diciptakan oleh Allah yang Satu. Qul huwal-Laahu Ahad.
Allah itu Satu. Dst.c. Gunakan alat-alat bantu, misalnya VCD Quran yang banyak tersedia di pasaran.

c. Buat game atau permainan agar anak tidak merasa bosan.

Misalnya, ayah-ibu-Ahmad secara bergantian menyebut ayat yang sedang dihafal. Ayah ayat pertama, lalu Ibu ayat kedua, lalu Ahmad ayat ketiga, lalu kembali ke Ayah, dst. Ayah dan Ibu bisa saja berpura-pura lupa, lalu mendapat hukuman.

Langkah Keempat: berikan keteladanan

Salah satu hal yang paling menonjol dari metode pengajaran hafalan Quran yang diterapkan oleh Jamiatul Quran (yang sebagian metodenya kemudian diadaptasi oleh Rumah Qurani) adalah peran serta ibu dalam proses pengajaran itu (artinya, di Iran, para ibu ikut duduk di kelas bersama anak-anak mereka). Meskipun di Indonesia agaknya sistem ini sulit diterapkan, namun setidaknya ada nilai penting yang bisa kita ambil, yaitu pentingnya keteladanan orangtua. Bagaimana mungkin kita berharap anak-anak kita mencintai Al Quran dan memiliki akhlak Qurani bila kita sendiri orangtuanya jarang membaca Al Quran?

Langkah Kelima: berilah anak hadiah

Setelah anak berhasil menghafal satu ayat atau satu surat pendek, berilah dia hadiah. Bila kondisi keuangan terbatas, bisa saja hadiah diberikan secara akumulatif. Misalnya, ketika anak sudah menghafal satu ayat atau satu surat pendek, buat tanda bintang di kertas khusus. Katakan kepada anak, jika dia sudah mengumpulkan 10 tanda bintang (misalnya), dia akan mendapat hadiah buku cerita (atau apa saja sesuai kemampuan). Hadiah sangat berpengaruh besar kepada psikologis anak. Dia akan mendapatkan kenangan indah dari proses menghafal Al Quran dan insya Allah, kecintaan kepada Al Quran pun tumbuh dalam dadanya."


Namanya Muhammad Husain Tabatabai. Dalam usianya yang baru lima tahun (sekarang sih, mungkin 13 thn-an), dia sudah menghapal seluruh isi Al Quran, plus dengan artinya. Bak komputer, ia mampu menyebutkan ayat pertama dari setiap halaman Al Quran, baik berurutan dari depan ke belakang, atau dari belakang ke depan. Dia mampu membacakan ayat-ayat dalam satu halaman secara mundur (dari ayat terakhir hingga ayat pertama). Dia mampu menjawab pertanyaan “Apa bunyi ayat dari surat sekian, ayat sekian? ” atau sebaliknya, “Ayat ini berasal dari surat mana, ayat berapa?” Dia bisa menjawab pertanyaan tentang topik-topik ayat, misalnya “Sebutkan semua ayat dalam Al Quran yang berhubungan dengan Isa bin Maryam.” Pada usia enam tahun, dia mendapat gelar Dr. HC dari sebuah universitas Islam di London.
Ketika saya mengandung Kirana, saya dan suami telah bercita-cita memasukkan anak kami ke Jamiatul Quran, sebuah sekolah hapalan Quran untuk anak-anak yang didirikan oleh ayahanda Muhammad Husain Tabatabai, setelah beliau berhasil mendidik anaknya menjadi hafiz Quran. Akhirnya, ketika Kirana berumur empat tahun, cita-cita itu tercapai. Sejak empat bulan yang lalu, Kirana mulai belajar di Jamiatul Quran. Inilah sekelumit cerita tentang sekolah itu:
Anak-anak balita yang masuk ke sekolah ini, tidak disuruh langsung menghapal juz’amma, melainkan setiap kali datang, diperlihatkan gambar kepada mereka, misalnya, gambar anak lagi cium tangan ibunya, (di rumah, anak disuruh mewarnai gambar itu). Lalu, guru cerita tentang gambar itu (jadi anak harus baik…dll). Kemudian, si guru mengajarkan ayat “wabil waalidaini ihsaana/Al Isra:23” dengan menggunakan isyarat (kayak isyarat tuna rungu), misalnya, “walidaini”, isyaratnya bikin kumis dan bikin kerudung di wajah (menggambarkan ibu dan ayah). Jadi, anak-anak mengucapkan ayat itu sambil memperagakan makna ayat tersebut. Begitu seterusnya (satu pertemuan hanya satu atau dua ayat yg diajarkan). Hal ini dilakukan selama 4 sampai 5 bulan. Setelah itu, mereka belajar membaca, dan baru kemudian mulai menghapal juz’amma.
Suasana kelas juga semarak banget. Sejak anak masuk ke ruang kelas, sampai pulang, para guru mengobral pujian-pujian (sayang, cantik, manis, pintar…dll) dan pelukan atau ciuman. Tiap hari (sekolah ini hanya 3 kali seminggu) selalu ada saja hadiah yang dibagikan untuk anak-anak, mulai dari gambar tempel, pensil warna, mobil-mobilan, dll. Habis baca doa, anak-anak diajak senam, baru mulai menghapal ayat. Itupun, sebelumnya guru mengajak ngobrol dan anak-anak saling berebut memberikan pendapatnya. (Sayang Kirana karena masalah bahasa, cenderung diam, tapi dia menikmati kelasnya). Setelah berhasil menghapal satu ayat, anak-anak diajak melakukan berbagai permainan. Oya, para ibu juga duduk di kelas, bersama anak-anaknya. Kelas itu durasinya 90 menit .
Hasilnya? Wah, bagus banget! Ketika melihat saya membuka keran air terlalu besar, Kirana akan nyeletuk, “Mama, itu israf (mubazir)!” (Soalnya, gurunya menerangkan makna surat Al A’raf :31 “kuluu washrabuu walaatushrifuu/makanlah dan minumlah, dan jangan israf/berlebih-lebihan). Waktu dia lihat TV ada polisi mengejar-ngejar penjahat, dia nyeletuk “Innal hasanaat yuzhibna sayyiaat/ Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan” (Hud:114). Teman saya mengeluh (dengan nada bangga) bahwa tiap kali dia ngobrol dgn temannya ttg orang lain, anaknya akan nyeletuk “Mama, ghibah ya?” (soalnya, dia sudah belajar ayat “laa yaghtab ba’dhukum ba’dhaa”). Anak saya (dan anak-anak lain, sesuai penuturan ibu-ibu mereka), ketika sendirian, suka sekali mengulang-ulang ayat-ayat itu tanpa perlu disuruh. Ayat-ayat itu seolah-olah menjadi bagian dari diri mereka. Mereka sama sekali tidak disuruh pakai kerudung. Tapi, setelah diajarkan ayat tentang jilbab, mereka langsung minta sama ibunya untuk dipakaikan jilbab. Anak saya, ketika ingkar janji (misalnya, janji tidak main keluar lama-lama, ternyata mainnya lama), saya ingatkan ayat “limaa taquuluu maa laa taf’alun” …dia langsung bilang “Nanti nggak gitu lagi Ma…!” Akibatnya, jika saya mengatakan sesuatu dan tidak saya tepati, ayat itu pula yang keluar dari mulutnya!
Setelah bertanya pada pihak sekolah, baru saya tahu bahwa metode seperti ini tujuannya adalah untuk menimbulkan kecintaan anak-anak kepada Al Quran. Anak-anak balita itu di masa depan akan mempunyai kenangan indah tentang Al Quran. Di Iran, gerakan menghapal Quran untuk anak-anak kecil memang benar-benar digalakkan. Setiap anak penghapal Quran dihadiahi pergi haji bersama orangtuanya oleh negara dan setiap tahunnya ratusan anak kecil di bawah usia 10 tahun berhasil menghapal Al Quran (baik berasal dari Jamiatul Quran, maupun sekolah-sekolah lain). Salah satu tujuan Iran dalam hal ini (kata salah seorang guru) adalah untuk menepis isu-isu dari musuh-musuh Islam yang ingin memecah-belah umat muslim, yang menyatakan bahwa Quran-nya orang Iran itu lain daripada yg lain. Sepertinya, saya memang harus bersyukur bahwa Kirana memiliki kesempatan untuk bergabung dalam gerakan menghapal Quran ini.
(disalin dari: http://bundakirana.multiply.com/journal/item/10, tim rumah qur’ani )


Penemu metode Assalam (pembelajaran Al Qur'an sejak bayi dalam kandungan), Ustazd Drs.Mustofa AY mengungkapkan, anak akan cerdas dan berkualitas serta mencintai membaca apabila sejak dini sudah diajarkan Al Qur'an.
"Selain melahirkan anak yang cerdas dan berkualitas sebagai generasi mendatang, apabila di dalam rumah dibaca ayat-ayat suci Al Qur'an, maka rumah tersebut ber berkah,"ujarnya pada pelatihan pembelajaran Al Qur'an bagi bayi dalam kandungan, di Banjarmasin, Minggu.

Dihadapan ratusan peserta yang sebagian besar wanita itu, Ustazd Mustofa yang didampingi isteri dan anaknya yang baru berusia 2,5 tahun itu, menyatakan, pembelajaran Al Qur'an sejak dini kepada anak-anak itu akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak itu dimasa mendatang.

Pembelajaran Al Qur'an sejak dini itu, kata Mustofa yang merintis sekolah bayi itu menyebutkan, pengaruhnya selain terhadap anak, juga terhadap ibu, bapak dan seluruh lingkungan tempat tinggalnya.Dia menjelaskan, ayat-ayat Al Qur'an yang diajarkan kepada anak sejak dini atau sejak bayi masih dalam kandungan itu akan mampu
merangsang syaraf otak, telinga dan mata sehingga mereka akan mudah belajar Al Qur'an.

Adapun tujuan pembelajaran Al Qur'an sejak bayi dalam kandungan itu untuk menajamkan fitrah iman dan Islam pada anak sehingga mereka nantinya diharapkan menjadi anak yang shaleh dan shalehah dan mencintai Al Qur'an.Mustofa yang memiliki tiga anak dan dua orang sudah bisa mengkhatamkan Al Qur'an sejak Taman Kanak-kanak (TK) itu menjelaskan, anak yang sejak dini diajarkan membaca Al Qur'an itu, maka mereka akan mencintai membaca sehingga diharapkan akanlahir generasi yang lebih baik dimasa mendatang.

"Saya berharap sejak anak dalam kandungan itu hendaknya diajarkan orangtuanya pemikiran yang positif, mengingat sejak hamil ada rahasia pembentukan karakter anak," katanya. Dia menyatakan, mendukung program pendidikan usia dini yang akan dilaksanakan pemerintah dan pendidikan usia dini yang akan dilakukan itu harus dilandasi nilai-nilai Al Qur'an agar mampu melahirkan generasi Qur'ani dimasa mendatang.


Banjarmasin-RoL-- Ketua Tim Penggerak PKK Kalimantan Selatan, Ir.Hj.Hayatun Fardah Rudy Ariffin berpendapat,belajar Al Qur'an sejak dini atau sejak bayi dalam kandungan memiliki nilai strategis menyiapkan generasi Qur'ani dimasa mendatang.

"Generasi Qur'ani yang telah dibentengi dengan Al Qur'an itu diharapkan mampu menyelamatkan peradaban dunia dimasa mendatang," tandasnya dalam sambutan tertulis dibacakan, isteri Sekdaprov Kalsel, Dra.Hj.Jauhar Manikam Muchlis Gafuri, di Banjarmasin, Minggu.

Sambutan Ketua Tim Penggerak PKK Kalsel selaku pembina Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-kanak Al Qur'an (LPPTKA) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kalsel itu disampaikan saat membuka pelatihan mengajar Al Qur'an bayi dalam kandungan.

Pelatihan pembelajaran Al Qur'an bagi bayi dalam kandungan yang mendatangkan pelatih dari Ambarawa, Jawa Tengah (Jateng) ini terselenggara atas kerjasama LPPTKA BKPRMI Kalsel dengan Tim Penggerak PKK Kalsel.

Karena itu, kata Hayatun Fardah, melalui pelatihan pembelajaran Al Qur'an bagi bayi dalam kandungan oleh Drs.Mustofa AY bersama isterinya di Kalsel ini diharapkan mampu memberikan pengalaman dan pendidikan pada anak sejak dini untuk belajar dan mencintai Al Qur'an.

Menurut Hayatun Fardah, belajar Al Qur'an sejak usia dini sangat penting sebagai tonggak awal untuk membentengi anak sejak dini dari pengaruh peradaban dunia atau globalisasi yang tidak sesuai dengan akidah Islam.

Diharapkan dengan upaya tersebut, anak-anak di Indonesia terutama di daerah ini
tidak ikut-ikutan larut dalam sikap yang negatif dan bertentangan dengan akidah Islam akibat terpengaruh globalisasi.

Dia mengatakan, kegiatan pelatihan pembelajaran Al Qur'an bagi bayi dalam kandungan ini sejalan atau sinergi dengan program pemberantasan buta huruf Al Qur'an yang sedang dilakukan LPPTKA BKPRMI Kalsel.

Secara terpisah, Pengasuh Nasional LPPTKA BKPRMI, H.Chairani Idris berharap, pembelajaran Al Qur'an bagi bayi dalam kandungan dalam rangka menyiapkan generasi Qur'ani guna menyongsong masa depan gemilang akan menjadi gerakan nasional seperti gerakan TKA BKPRMI.

Menurut Chairani, umat Islam yang mengajarkan Al Qur'an terhadap bayi dalam kandungan dengan menggunakan metode Assalam ini adalah mereka yang merindukan anak atau generasi shaleh dan shalehah dimasa mendatang.

Untuk gerakan TKA BKPRMI, kata Chairani, Kalsel masih sebagai percontohan di Indonesia dan hal ini hendaknya bisa dipertahankan dan sampai saat ini sudah mampu membebaskan anak sekitar 20 persen warga Kalsel dari buta huruf Al Qur'an.
Ketua Panitia Pelaksana, M.Tarsyi T, A.Ma.Pd, melaporkan, pelatihan ini dihadiri sekitar 285 orang yang berasal dari Kota Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala (Batola), Kotabaru, Tanah Bumbu (Tanbu), Tabalong, Hulu Sungai Tengah (HST) dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).


Setiap orangtua pasti menginginkan buah hatinya menjadi anak yang shalih dan shalihah. Anak shalih shalihah merupakan harta yang paling berharga bagi orangtua. Untuk mendapatkan semua itu, tentu harus ada upaya keras dari orangtua dalam mendidik anak. Salah satu yang wajib diajarkan kepada anak adalah segala hal tentang al-Quran karena ia adalah pedoman hidup manusia.
Rasulullah saw. pernah bersabda (yang artinya): Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai Nabimu; mencintai ahlul baitnya; dan membaca al-quran karena orang-orang yang memelihara Al-Qur'an itu berada dalam lindungan singasana Allah pada hari ketika tidak ada perlindungan selain daripada perlindungan-Nya; mereka beserta para nabiNya dan orang-orang suci. (HR ath Thabrani).
Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberikan khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (QS Al-Isra'[17]:9)
Sejak kapan al-Quran sebaiknya diajarkan pada anak?
Tentu sedini mungkin. Semakin dini semakin baik.
Akan sangat bagus jika sejak anak dalam kandungan seolah-olah calon anak kita itu sudah terbiasa "hidup bersama" al-Quran; yakni ketika sang ibu yang mengandungnya, rajin membaca al-Quran.
Agar Anak Selalu Hidup Bersama al-Quran
1. Mengenalkan.
Saat yang paling tepat mengenalkan alQuran adalah ketika anak sudah mulai tertarik dengan buku. Sayang, banyak orangtua yang lebih suka menyimpan al-Quran di rak lemari paling atas. Sesekali perlihatkanlah al-Quran kepada anak sebelum mereka mengenal buku buku lain, apalagi buku dengan gambar-gambar yang lebih menarik.
Mengenalkan al-Quran juga bisa dilakukan dengan mengenalkan terlebih dulu huruf-huruf hijaiyah; bukan mengajarinya membaca, tetapi sekadar memperlihatkannya sebelum anak mengenal A, B, C. D.
Tempelkan gambar-gambar tersebut ditempat yang sering dilihat anak;
lengkapi dengan gambar dan warna yang menarik. Dengan sering melihat, anak akan terpancing untuk bertanya lebih lanjut. Saat itulah kita boleh memperkenalkan huruf-huruf al-Quran.
2. Memperdengarkan.
Memperdengarkan ayat-ayat al-Quran bisa dilakukan secara langsung atau dengan memutar kaset atau CD.
Kalau ada teori yang mengatakan bahwa mendengarkan musik klasik pada janin dalam kandungan akan meningkatkan kecerdasan, insya Allah memperdengarkan al-Quran akan jauh lebih baik pengaruhnya bagi bayi.
Apalagi jika ibunya yang membacanya sendiri. Ketika membaca alQuran, suasana hati dan pikiran ibu akan menjadi lebih khusyuk dari tenang. Kondisi seperti ini akan sangat membantu perkembangan psikologis janin yang ada dalam kandungan.
Pasalnya, secara teoretis kondisi psikologis ibu tentu akan sangat berpengaruh pada perkembangan bayi, khususnya perkembangan psikologisnya. Kondisi stres pada Ibu tentu akan berpengaruh buruk pada kandungannya.
Memperdengarkan al-Qurari bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja; juga tidak mengenal batas usia anak. Untuk anak-anak yang belum bisa berbicara, insya Allah lantunan ayat al-Quran itu akan terekam dalam memorinya. Jangan aneh kalau tiba-tiba si kecil lancar melafalkan surat al-Fatihah, misalnya, begitu dia bisa berbicara.
Untuk anak yang lebih besar, memperdengarkan ayat-ayat alQuran (surat-surat pendek) kepadanya terbukti memudahkan sang anak menghapalkannya.
3. Menghapalkan.
Menghapalkan al-Quran bisa dimulai sejak anak lancar berbicara. Mulailah dengan surat atau ayat yang pendek atau potongan ayat (misalnya fastabiq al-khayrat, hudan li an-nas, birr al-walidayn, dan sebagainya).
Menghapal bisa dilakukan dengan cara sering-sering membacakan ayat-ayat tersebut kepada anak. Lalu latihlah anak untuk menirukannya. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai anak hapal di luar kepala.
Masa anak-anak adalah masa meniru dan memiliki daya ingat yang luar biasa.
Orangtua harus menggunakan kesempatan ini dengan baik jika tidak ingin menyesal kehilangan masa emas (golden age) pada anak.
Agar anak lebih mudah mengingat, ayat yang sedang dihapal anak bisa juga sering dibaca ketika ayah menjadi imam atau ketika naik mobil dalam perjalanan. Disamping anak tidak mudah lupa, hal itu juga sebagai upaya membiasakan diri untuk mengisi kesibukan dengan amalan yang bermanfaat. Nabi saw. bersabda:

Demi Zat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya hapalan Al-Qur'an itu lebih cepat lepasnya daripada seekor unta pada tambatannya. (HR al-Bukhari dan Muslim).
4. Membaca
Siapa saja yang membaca satu huruf dari Kitab Allah maka dia.akan mendapat satu kebaikan. Satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa alif-lam-mim adalah satu huruf. Akan tetapi, alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu huruf. (HR at-Tirmidzi).
Sungguh luar biasa pahala dan kebaikan yang dijanjikan kepada siapa saja yang biasa membaca al-Quran. Bimbing dan doronglah anak agar terbiasa membaca al-Quran setiap hari walau cuma beberapa ayat. Orangtua penting memberikan contoh.
Jadikanlah membaca al-Quran, utamanya pada pagi hari usai shalat subuh atau usai shalat magrib, sebagai kegiatan rutin dalam keluarga. Ajaklah anak-anak yang belum bisa membaca untuk bersama-sama mendengarkan kakak-kakaknya yang sedang membaca al-Quran. Orangtua mempunyai kewajiban untuk mengajarkan kaidah-kaidah dan adab membaca al-Quran.
Untuk bisa membaca al-Quran, termasuk mengetahui kaidah-kaidahnya, sekarang ini tidaklah sulit. Telah banyak metode yang ditawarkan untuk bisa mudah dan cepat membaca. Ada metode Iqra, Qiroati dan sebagainya. Metode-metode itu telah terbukti memudahkan ribuan anak-anak bahkan orangtua untuk mahir membaca al-Quran.
Alangkah baiknya membaca al-Quran ini dilakukan secara bersama-sama oleh anak-anak di bawah bimbingan orangtua. Ketika seorang anak membaca, yang lain menyimaknya. Jika anak salah membaca, yang lain bisa membetulkan. Dengan cara itu, rumah akan selalu dipenuhi dengan bacaan al-Quran sehingga berkah
5. Menulis.
Belajar menulis akan mempermudah anak dalam belajar membaca al-Quran. Diktekan kepada anak kata-kata tertentu yang mempunyai makna. Dengan begitu, selain anak bisa menulis, sekaligus anak belajar bahasa Arab. Mulailah dengan kata-kata pendek. Misalnya, untuk mengenalkan tiga kata alif, ba, dan dal anak diminta menulis a, ba da (tolong tuliskan Arabnya, ya: a-ba-da) artinya diam; ba-da-a (yang ini juga) artinya mulai; dan sebagainya.
Sesekali di rumah, coba adakan lomba menulis ayat al-Quran. Berilah hadiah untuk anak yang paling rapi menulis. Jika anak memiliki kemampuan yang lebih dalam menulis huruf al-Quran, ia bisa diajari lebih lanjut dengan mempelajari seni kaligrafi.
Rangkaian huruf menjadi suku kata yang mengandung arti bertujuan untuk melatih anak dalam memperkaya kosakata, di samping memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertanya tentang setiap kata yang diucapkan serta mengembangkan cita rasa seni mereka. Jadi, tidak hanya bertujuan mengenalkan huruf-alQuran semata.
6. Mengkaji.
Ajaklah anak mulai mengkaji isi al-Quran. Ayah bisa memimpinnya setelah shalat magrib atau subuh. Paling tidak, seminggu sekali kajian sekeluarga ini dilakukan. Tema yang dingkat bisa saja tema-tema yang ingin disampaikan berkaitan dengan perkembangan perilaku anak selama satu minggu atau beberapa hari.
Kajian bersama, dengan merujuk pada satu atau dua ayat al-Quran ini, sekaligus dapat menjadi sarana tawsiyah untuk seluruh anggota keluarga. Sekali waktu, tema yang akan dikaji bisa diserahkan kepada anak-anak.
Adakalanya anak diminta untuk memimpin kajian. Orangtua bisa memberi arahan atau koreksi jika ada hal-hal yang kurang tepat. Cara ini sekaligus untuk melatih keberanian anak menyampaikan isi al-Quran.
7. Mengamalkan dan memperjuangkan AI-Quran.
AI-Quran tentu tidak hanya untuk dibaca, dihapal dan dikaji. Justru yang paling penting adalah diamalkan seluruh isinya dan diperjuangkan agar benar-benar dapat menyinari kehidupan manusia.
Sampaikan kepada anak tentang kewajiban mengamalkan serta memperjuangkan al-Quran dan pahala yang akan diraihnya. Insya Allah, hal ini akan memotivasi anak.
Kepada anak juga bisa diceritakan tentang bagaimana para Sahabat dulu yang sangat teguh berpegang pada alQuran; ceritakan pula bagaimana mereka bersama Rasulullah sepanjang hidupnya berjuang agar al-Quran tegak dalam kehidupan.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.


Oleh: Rasyidah Munir
Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu pada waktu kecil adalah seperti memahat batu, sedangkan perumpamaan mempelajari ilmu ketika dewasa adalah seperti menulis di atas air. (HR ath-Thabrani dari Abu Darda’ ra.).

Dalam sejarah, tidak ditemukan suatu agama yang mendorong pemeluk-nya untuk memberikan pengajaran kepada anak-anak seperti Islam. Islam menjadikan seorang Muslim memiliki antusiasme yang sangat tinggi untuk belajar dan mengajar. Antusiasme inilah yang menjadikan mereka sangat isimewa sepanjang sejarahnya yang panjang. Apalagi bagi mereka, menuntut ilmu adalah ibadah yang paling utama, yang bisa dijadikan media untuk mendekatkan diri kepada Alllah.
Masa kanak-kanak merupakan fase yang paling subur untuk melakukan pembinaan keilmuan dan pemikiran. Pada masa ini daya tangkap dan daya serap otak mereka berada pada kemampuan maksimal; dada mereka lebih longgar dan lebih hapal terhadap apa yang mereka dengar. Abu Hurairah ra. meriwayatkan secara marfû’, bahwa Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): Siapa yang mempelajari al-Quran ketika masih muda, maka al-Quran itu akan menyatu dengan daging dan darahnya. Siapa yang mempelajarinya ketika dewasa, sedangkan ilmu itu akan lepas darinya dan tidak melekat pada dirinya, maka ia mendapatkan pahala dua kali. (HR al-Baihaqi, ad-Dailami, dan al-Hakim).
Agar para orangtua dapat mengarahkan anak melangkah menuju ilmu, belajar, serta mencintai ilmu dan ulama, ada beberapa hal penting yang harus ditempuh:

1. Tanamkan bahwa menuntut ilmu adalah perintah Allah Swt.
Kecintaan anak kepada Allah, yang seyogyanya sudah terlebih dulu ditanamkan, akan memunculkan ketaatan pada perintah-Nya dan takut akan azab-Nya, termasuk dalam menuntut ilmu. Cinta dan takut kepada Allah akan memunculkan sikap konsisten dalam mencari ilmu tanpa bosan dan dihinggapi rasa putus asa.

2. Tanamkan bahwa al-Quran adalah sumber kebenaran.
Al-Quran sebagai sumber kebenaran (QS al-Maidah [5]: 48) sejak awal harus disampaikan oleh orangtua kepada anak. Semua yang benar menurut al-Quran itulah yang harus dan boleh dilakukan. Ini memerlukan keteladanan orangtua. Dengan begitu, anak akan melihat realisasi al-Quran sebagai sumber kebenaran dalam setiap perilaku orangtuanya. Begitu pula ketika menilai suatu keburukan, semuanya dinilai dengan standar al-Quran.

3. Ajarkan metode belajar yang benar menurut Islam.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam kitab As-Syakhshiyah al-Islâmiyyah jilid 1, bahwa Islam mengajarkan metode belajar yang benar, yaitu:
1. Mempelajari sesuatu dengan mendalam hingga dipahami apa yang dipelajari dengan benar.
2. Meyakini ilmu yang sedang dipelajari hingga bisa dijadikan dasar untuk berbuat.
3. Sesuatu yang dipelajari bersifat praktis, bukan sekadar teoretis, hingga dapat menyelesaikan suatu masalah.

Dalam mempelajari alam semesta, misalnya, dikatakan secara teoretis bahwa bulan mengelilingi bumi. Untuk menjadikannya sebagai pemahaman yang mendalam haruslah anak diajak melihat fakta bulan, yang dari hari ke hari berubah bentuk dan besarnya. Dengan demikian, anak pun menjadi yakin bahwa perubahan tanggal setiap harinya adalah karena peredaran bulan. Dengan begitu, ia dapat mengetahui bahwa menentukan tanggal satu Ramadhan, misalnya, adalah dengan melihat bulan.

4. Memilihkan guru dan sekolah yang baik bagi anak.
Guru adalah cermin yang dilihat oleh anak sehingga akan membekas di dalam jiwa dan pikiran mereka. Guru adalah sumber pengambilan ilmu. Para Sahabat dan Salaf ash-Shâlih sangat serius di dalam memilih guru yang baik bagi anak-anak mereka.
Ibnu Sina dalam kitabnya, As-Siyâsah, mengatakan, “Seyogyanya seorang anak itu dididik oleh seorang guru yang mempunyai kecerdasan dan agama, piawai dalam membina akhlak, cakap dalam mengatur anak, jauh dari sifat ringan tangan dan dengki, dan tidak kasar di hadapan muridnya.”
Imam Mawardi (dalam Nashîhah al-Mulûk hlm. 172) menegaskan urgensi memilih guru yang baik dengan mengatakan, “Wajib bersungguh-sungguh di dalam memilihkan guru dan pendidik bagi anak, seperti kesungguhan di dalam memilihkan ibu dan ibu susuan baginya, bahkan lebih dari itu. Seorang anak akan mengambil akhlak, gerak-gerik, adab dan kebiasaan dari gurunya melebihi yang diambil dari orangtuanya sendiri.”
Begitupun memilihkan sekolah yang baik yang di dalamnya diajarkan hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama, apalagi yang merusak akidah anak-anak Muslim. Banyak orangtua memilih sekolah untuk anaknya sekadar agar anak dapat memperoleh ilmu dan prestasi yang bagus, tetapi lupa akan perkembangan kekokohan akidah dan akhlaknya.
Namun demikian, tentulah guru yang paling pertama dan utama adalah orangtuanya, dan sekolah yang paling pertama dan utama adalah rumah tempat tinggalnya bersama orangtua.

5. Mengajari anak untuk memuliakan para ulama.
Abu Umamah ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda (yang artinya): Ada tiga manusia, tidak ada yang meremehkan mereka kecuali orang munafik. Mereka adalah orangtua, ulama, dan pemimpin yang adil. (HR ath-Thabrani).
Ulama adalah pewaris para nabi. Memuliakan dan menghormati mereka, bersikap santun dan lembut di dalam bergaul dengan mereka, adalah di antara adab yang harus dibiasakan sejak kanak-kanak. Memuliakan ulama menjadikan anak akan memuliakan ilmu yang diterimanya, yang dengannya Allah menghidupkan hati seseorang. Abu Umamah ra. juga menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda (yang artinya): Sesungguhnya Luqman berkata kepada putranya, “Wahai anakku, engkau harus duduk dekat dengan ulama. Dengarkanlah perkataan para ahli hikmah, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan hujan deras.” (HR ath-Thabrani).

6. Membiasakan seluruh keluarga membaca dan menghapal ayat-ayat al-Quran dan Hadis Nabi saw.
Dalam membina akidah anak, mengajarkan al-Quran dan Hadis Nabi saw. adalah hal yang utama dalam membentuk mentalitas anak. Keduanya merupakan sumber untuk menghidupkan ilmu yang akan menyinari dan menguatkan akal. Para Sahabat ra. sangat berambisi sekali mengikat anak-anak mereka dengan al-Quran. Anas bin Malik ra., setiap kali mengkhatamkan al-Quran, mengumpul-kan istri dan anak-anaknya, lalu berdoa untuk kebaikan mereka.
Pada masa Rasulullah saw. masih hidup, Ibnu Abbas ra. telah hapal al-Quran pada usia sepuluh tahun. Imam Syafii rahimahullâh telah hapal al-Quran pada usia tujuh tahun. Imam al-Bukhari mulai menghapal hadis ketika duduk dibangku madrasah dan mengarang kitab At-Târîkh pada usia 18 tahun.

7. Membuat perpustakaan rumah, sekalipun sederhana.
Mempelajari ilmu tak akan lepas dari kitab ataupun buku-buku sebagai media referensi yang senantiasa akan memenuhi kebutuhan ilmu. Keberadaan perpustakaan rumah menjadi hal yang sangat penting untuk mengkondisikan anak-anak seantiasa dekat dengan ilmu dan bersahabat dengan kitab-kitab ilmu.
Imam asy-Syahid Hasan al-Banna dalam Risâlah-nya, Sarana Paling Efektif dalam Mendidik Generasi Muda dengan Pendidikan Islam yang Murni, mengatakan, “Adalah sangat penting adanya perpustakaan di dalam rumah, sekalipun sederhana. Koleksi bukunya dipilihkan dari buku-buku sejarah Islam, biografi Salafus Shâlih, buku-buku akhlak, hikmah, kisah perjalanan para ulama ke berbagai negeri, kisah-kisah penaklukan berbagai negeri, dan semisalnya….”

8. Mengajak anak menghadiri majelis-majelis kaum dewasa.
Nabi saw. pernah menceritakan bahwa beliau ketika masih kecil juga turut menghadiri majelis-majelis kaum dewasa. Beliau mengatakan: “Aku biasa menghadiri pertemuan-pertemuan para pemuka kaum bersama paman-pamanku….” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan sanad sahih dalam Musnad-nya [2/157] dan oleh Ahmad [1/190]).
Dengan membawa anak-anak ke majelis orang dewasa, akalnya akan meningkat, jiwanya akan terdidik, semangat dan kecintaannya kepada ilmu akan semakin kuat. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.


Kehadliran buah hati bagi para orang tua merupkan investasi yang berkesinambungan. Tentu harus ditumbuhkembangkan sehingga menjadi kader penerus cita-cita besar keluarga. Yaaa, berusaha dan berdo’a jangan sampai anak-anak kita menjadi beban tiada berkeseduhan. Beban kita. Beban para anggota keluarga. Beban masyarakat. Dan beban negara. Nahhh, kiat sederhana ini diharapkan dapat menjadi jamu untuk menyembuhkan segala penyakit. Jamu racikan sendiri ini dihadiahkan para orang tua siap mempunyai generasi yang mBeneh. Mengapa demikian? Inilah jawabannya dalam kiat-kita melejitkan potensi anak
1. Ubahlah diri, prilaku, kebiasaan kita, para orang tua sesuai dengan visi, misi, target yang diharapkan pada diri anak. Nahhhh kita mengenal diri kita lebih dalam. Kita harus menyesuaikan diri kita dengan cita-cita terhadap masa depan anak. Bagaimana kita punya cita-cita mensholehkan anak jika tiap saat anak melihat kita dalam bencana keteledoran. Bagamana ada harapan anak mandiri jika setiap hari tidak ditemukan latihan-latihan. Mengubah diri untuk merancang masa depan anak kita. Mau? Berani? Pasti sukses.
2. Catat kembali kebiasaan buruk masa kecil, masa remaja, dan saat ini. Catat kebiasan buruk yang ditampilkan diri kita. Perbaikan menuju prilaku terpuji. Perbaiki menjadi investasi kenangan yang masuk di otak anak. Jangan biarkan prilaku buruk menghiasi kehidupan anda sehingga secara otomatis anda turunkan ke anak tiap waktu.
3. Sabarlah, tenanglah jika mendapatkan kenyataan perangai, fisik, prestasi dan kebiasaan anak jauh dengan target dan cita-cita kita. Saatnya melakukan pendekatan. Saatnya mencari sumber apinya. Yaaaa jika ada asap pasti ada sumber apinya. Melalui deteksi sumber api, kita masuk untuk mengubah bertahab, pelan, sabar dan telaten. Kemarahan, kejengkelan tidak mampu mengatasi masalah. Justru menambah rumitnya masalah.
4. Tempatkan anak-anak kita di situasi terbaik. Maaf situasi terbaik sering dalam persepsi yang tidak sama setiap orang. Semisal ada ibu-ibu yang memanjakan anak dianggap mendidik dalam situasi terbaik. Nah situasi terbaik adalah mengkondisikan lingkungan anak jauh dari pengganggu tumbuh kembang anak baik secara fisik, psikis maupun moral. Dan mendekatkan semua sumber kehidupan yang mampu menumbuhkembangkan inisiatif dan partisipatif positif setiap waktu.
5. Berilah waktu 24 dalam sehari dan tujuh hari dalam seminggu untuk buah hati kita. Tentu kita bertanya, “berarti kita tidak beraktifitas lain? Berarti kita tidak bekerja?”. Jawaban singkatnya “tidak. Tidak demikian.” Justru kita bekerja dan beraktifitas lain tetapi waktu kita tetap untuk anak secara penuh. Inilah kecerdasan dalam mengatur waktu diri sendiri dan keluarga. Semua dapat berjalan sesuai dengan cara mengatur waktu kita dan memandang esensi waktu. “Bagaimana dengan orang tua yang putra-putrinya lebih dari satu?” Jawabnya sama saja. Bergantung pada kecerdasan mengatur waktu. Masih bingung? Ikuti bahasan dalam sesi kecerdasan mengatur waktu, Insya Allah kali lain.
6. Salurkan energi bathin ke dalam raga dan kehidupan anak. Kekuatan bathin anda dapat mengubah semua prilaku anak. Do’a, tirakat, puasa senin kamis, sholat malam, memberi usapan pada kepala atau sekujur tubuh merupakan upaya menyalurkan energi perubahan prilaku. Kita saat ini sudah jadi orang tua. Napas doa kita harus tersampung dan terikat napas anak-anak kita. Keringat badan kita harus mampu menetes pada pori-pori tubuh anak. Hentakkan langkah perjalanan kita harus mengiringi kemana mereka pergi.
7. Siapkan perbekalan yang dibutuhkan. Apa sebenarnya perbekalan yang dibutuhkan oleh si buah hati kita untuk menjadi pemimpin?
8. Jangan biarkan buah hati kita, tidur di pangkuan pembantu. Jangan biarkan buah hati kita, makan dari kunyahan gigi pembantu. Jangan biarkan buah hati kita, mandi dari tetesan air sumber pembantu. Ambil alih segera tugas berat pembantu di tangan Anda. Segala tugas berat tersebut menyalurkan energi prilaku. Berilah tugas pada pembantu yang tidak terkait dengan hal-hal di atas.
9. Beri yang dibutuhkan tapi jangan diberi mata uang. Anak kita tidak makan uang tapi makan makanan yang halal dan thoyib. Hindari memberi uang. Memberi uang berarti menjerumuskan anak. Menjerumuskan ke dalam segala malapetaka.
10. Teliti apa yang dibawa anak dri luar rumah.
11. Hantarkan tidur anak dalam bekal kematian. (maaf keterangannya nanti yaaa. Ini tadi nulisnya sambil nuggu berbuka puasa)



1) Membiasakan dan melatih diri untuk cinta ilmu dan sekaligus menambah keilmuan setiap waktu.
2) Hiasi ilmu dengan ketawadluan dan keikhlasan.
3) Peganglah prinsip bahwa ilmu merupakan karunia Allah Ta’ala.
4) Guru ada di setiap kesempatan dan kehidupan. Ambillah hikmah dari guru yang dating setiap saat itu.
5) Buka diri untuk menerima kritik orang lain.
6) Amalkan ilmu secara bertahab. Datangi murid dan beri layanan padanya.


Jalan Pintas Guru Unggul
1. Kembalilah pada orientasi awal Anda. Apakah Anda sejak awal ingin jadi guru atau hanya masuk pekerjaan alternatif? Batu loncatan saja? Daripada nganggur lebih baik cari aktifitas. Nahhhh, ada peluang terbuka jadi guru. Anda masuk. Renungkan azam dan niat awal Anda. Apa. Bagaimana. Mau kemana. Udah di mana.
2. Apabila saat ini udah mendapatkan diri Anda. Mantapkan dan matangkan. Tak perlu melirik rumput tetangga. Sadari pengaruh hidup dari lingkungan.
3. Manfaatkan kemampuan dasar yang telah Anda kenali. Tumbuhkan menjadi bekal dasyat. Salah satu teknisnya adalah optimalkan lingkaran yang diamanahkan kepada kita.
4. Dengarkan pertanyaan siswa Anda. Bertanyalah kenapa siswa kita bertanya yang demikian. Lakukan evaluasi diri dari pertanyaan yang diajukan oleh siswa.
5. Lihatlah hasil kerja siswa Anda. Bertanyalah mengapa hasil siswa kita seperti ini dan atau seperti itu? Lakukan evaluasi diri dari pertanyaan yang diajukan oleh siswa.
6. Suara guru atas kelas kita. Suara guru atas mata pelajaran yang dalam tanggung jawab kita. Suara guru atas penampilan diri kita. Atas kita, bagaimana teman guru Anda, berkomentar?
7. Kepala sekolah harus Anda pandang sebagai sosok pemacu prestasi. Hindarkan prasangka negatif terhadap kepala sekolah. Sikap tersebut merupakan pedang tajam yang akan menusuk ulu hati kita.
8. Selamilah dunia anak dengan kaca mata orang desa bahwa anak seusia anak yang ada di hadapan Anda adalah anak, buka Anda dan bukan pula sosok teori dalam kuliah Anda.
9. Bujuklah kerumunan anak didik menjadi komonitas dan tim yang solid. Teknik membujuk tercanggih adalah mendengar segala yang diinginkan mereka.
10. Berikan penilaian pada siswa Anda, bahwa mereka adalah generasi siap dan mampu. Beri stempel bahwa mereka semua pandai dan cukup dewasa. Ajak komunikasi secara terbuka. Sebagaimana komunikasi suami istri dalam keterbukaan segala hal.
11. Hentikan keluhan di hadapan anak didik. Yang Anda perdengarkan kepada mereka adalah api kesuksesan.
12. Berilah anak didik kesempatan. Akui dan hormati hasilnya. Mulai dari diri Anda untuk berkomitmen.
13. Ambil segala hal yang terkecil tetapi fokus.
14. Janjilah bersama bahwa tim Anda semua ini tim pemberani dan siap ambil segala resiko.
15. Belajar besama untuk menyukai segala yang tidak enak, segala yang pahit, segala yang menyakitkan, segala yang di luar kemampuan. Sukai. Sekali lagi sukai dan jangan mencemooh apalagi melarikan diri.
16. Buatlah awal pembicaraan dengan siswa Anda segala yang layak didengar. Segala yang layak ditindaklanjuti. Segala yang layak mendapatkan penghargaan.
17. Ubahlah kepemimpinan serba memerintah menuju kepemimpinan serba kerja bersama. Ajukan tawaran. Tawaran. Tawaran dan tawaran. Walau harus memberi taaran hingga ke seribu.
18. Selalu mendahulukan kepentingan anak didik atau kepentingan teman guru lainnya. Perjuangkan segala yang menjadi hak anak didik.
19. Buatlah Janji untuk ditepati. Jangan obral janji
20. Mengajarlah materi pembelajaran yang bener-bener telah dikuasi. Paling tidak teah dipraktekkan. Jangan asal ngomong. Pasti tidak ada magnitnya. Jangan asal kutip sumber informasi dari teks book atau sumber lainnya. Tetapi materi pembelajari telah terhayati.
21. Katakan bahwa Anda telah prima. Anda telah unggul. Anda telah efektif. Saat ini sudah luar biasa. Saat ini waktu memutuskannya.
22. Latihlah diri Anda dapat jalan alternatif saat mendapatkan jalan buntu. Jalan buntu itu hanya sebatas pandangan mata kita saja.
23. Tinggalkan segera segala yang tiada manfaat.
24. Jauhi gunjing menggunjing
25. Libatkan Robb Anda


Usia tua mendapatkan gelar Doktor, wajar. Atau orang yang telah menempuh pendidikan strata tersebut untuk mendapatkan gelar Doktor juga wajar. Tapi anak usia 7 tahun mendapatkan gelar Doktor Kehormatan, sepertinya itu tidak wajar. Apalagi gelar Doctor Honoris Causa itu dari Hijaz College Islamic University, Inggris. Menurut standar yang ditetapkan Hijaz College Islamic University, peraih nilai 60-70 akan diberi sertifikat Diploma, 70-80 Sarjana Kehormatan, 80-90 Magister Kehormatan, dan di atas 90 Doktor Kehormatan (Honoris Causa). Tepat pada tanggal 19 Oktober 1998 lelaki cilik itu menerima ijazah Doktor Honoris Causa dalam bidang ‘Science of The Retention On the Holy Qur’an’ dengan nilai yang diraih 93. Luar biasa. Siapakah lelaki cilik itu? Dan seberapa pintarkah lelaki cilik itu?.
Bocah cilik itu bernama lengkap, Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i. Husein datang ke Inggris 2 pekan sebelum akhirnya dia menerima Doctor Honoris Causa. Selama 2 pekan itu, Husein diundang dalam berbagai acara Qur’ani. Situs BBC Online memberitakan bahwa sekitar 13.000 muslim Inggris datang menemui Husein di Islamic Centre yang berlokasi di barat laut London. Dalam pertemuan-pertemuan itu, berbagai pertanyaan diajukan kepadanya. Husein menjawab semuanya dengan lancar. Dia memang sudah biasa dengan forum semacam itu sejak usia 5 tahun. Biasanya, hadirin akan menyebutkan potongan sebuah ayat dan bertanya, “Ayat ini di mana letaknya dalam Al-Qur’an?.” Atau, hadirin menyebutkan arti/makna sebuah ayat dan menanyakan, “Apa bunyi ayat yang saya maksudkan?”, sebagian yang lain menanyakan pertanyaan sederhana, misalnya, “Engkau memiliki berapa orang paman?” Husein selalu menjawab dengan menggunakan ayat Al-Qur’an, sehingga pertanyaan tadi dijawabnya dengan dua ayat, “Sudah sampaikah kepadamu kisah Musa (QS 79:15)” dan “Muhammad itu adalah utusan Allah (QS 48:29)”. Yang dimaksud Husein, dia memiliki 2 paman, satu bernama Musa dan satu lagi bernama Muhammad (hal 14).
Husein seperti biasa duduk di depan mikrofon dan para hadirin silih berganti mengajukan berbagai pertanyaan kepadanya. Husein cilik akan terdiam sebentar, dan matanya yang bundar indah berputar-putar, seolah-olah sedang mencari-cari file data dalam benaknya. Lalu dengan lancar, dia akan menyebutkan ayat itu, lengkap dengan artinya, di halaman mana ayat itu berada, di baris ke berapa. Seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang dilakukan Imam Khomeini terhadap Iran?”. Husein menjawab, (Dia) membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (QS 7:157). Yang dimaksud Husein, pada masa pemerintahan monarki, rakyat Iran terbelenggu dan tertindas, lalu Imam Khomeini memimpin revolusi untuk membebaskan mereka dari belenggu dan penindasan itu. (hal 19).
Buku ini dibagi menjadi empat bab. Bab pertama menjelaskan tentang saat-saat menakjubkan di luar dan dalam negeri Mukjizat Abad 20 Doctor Honoris Causa 7 tahun. Bab dua menjelaskan tentang anak kecil yang berbicara dengan Al-Qur’an yang lebih menekankan pada substansi buku ini. Bab tiga menjelaskan tentang metode penghafalan Al-Qur’an ala Si Doktor Cilik. Dan bab empat menjelaskan tentang hasil uji coba Rumah Qur’ani terhadap metode Doktor Cilik di Indonesia.
Buku ini juga mempersembahkan metode menyenangkan untuk hafalan dan pemahaman Al-Qur’an buat anak-anak; teruji dari pengalaman Husein dan ratusan bocah serupa. Jadi buku ini sangat berguna sekali bagi orangtua yang menginginkan mengenalkan dunia Al-Qur’an yang menyenangkan kepada anak-anaknya. Sehingga membuat mereka menghayati makna Al-Qur’an serta bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu Al-Qur’an bukan lagi sekadar huruf-huruf dengan bentuk dan bunyi yang asing bagi anak-anak. Mereka tidak lagi dipaksa belajar membaca huruf-huruf asing itu dengan doktrin ‘harus, karena kamu beragama Islam”. Namun anak diajak untuk menyelami sebuah firman sebuah firman cinta dari Allah, Sang Pemilik Alam Semesta. Mereka bukan lagi diharuskan untuk menghafalkan ayat-ayat pendek tanpa tahu apa maknanya, tapi dimotivasi untuk menyadari, bahwa inilah surat cinta dari Sang Maha Lembut. Resensi di Harian Kedaulatan Rakyat, Minggu, 11 November 2007. (M. Faqih, santri PP. Nurul Ummah, Mahasiswa FIB, Sastra Indonesia UGM)


Dewan Imamah Nusantara pernah menggelar dialog dan dengar pendapat dengan anggota DPR yang tergabung dalam pnasus RUU Antipornografi dan Pornografi (RUU APP). Tepatnya Senin, 20 Maret 2006 bertepatan 19 Shafar 1427 H di Hotel Santika Surabaya Jl. Pandegiling Raya Darmo No. 45 Surabaya. Namun hasilnya hingga sekarang tidak jelas jluntrungnya, wujuduh ka adamih. Para peserta yang hadir menyepakati bahwa pornografi merupakan akar penyebab tindakkan mesum (baca perzinaan). Dalam tulisan sederhana ini kami hanya membatasi akar budaya mesum pelajar. Hal ini menarik dibahas karena budaya ini sudah membahayakan. Udah menjadi tradisi dan tidak lagi menjadi hal yang tabu. Para orang tua dan guru sudah tidak risi lagi jika mendapatkan kabar terjadi perbuatan mesum pelajar.
Ada baiknya peristiwa ini kita jadikan teladan. Suatu hari putrid Sahabat Abu Bakar yang bernama Asma’ masuk ke dalam kamar Rasulullah sholallah alaihi was salam. Putri tersebut memakai busana yang tipis. Saat itu Rasulullah sholallah alaihi was salam berpaling, seraya bersabda:
Wahai Asma’, sesungguhnya perempuan jika telah mencapai usia baligh, tidak diperkenankan terlihat darinya kecuali ini dan ini, seraya menunjuk wajah dan telapak tangannya. (HR Abu Dawud)
Busana perempuan dalam harus ditata, diatur dan diberi batasan tidak dibiarkan bebas. Demikian pula busana laki-laki. Inilah yang disebut dengan aurot. Aurat bagi perempuan yang sedang keluar rumah adalah kerudung (al-khimâr) yang menutup seluruh kepala, kecuali wajah hingga dada (al-Nur: 31) dan pakaian bagian bawahnya diwajibkan mengenakan al-jilbâb (al-Ahzab: 59). Jilbab itu merupakan baju yang menutup seluruh tubuh hingga telapak kaki. Di samping memperhatikan pakaian terdapat tata cara berhias saat para perempuan di luar rumah. Batasan minimalnya adalah memperhatikan apakah dandanya mencolok, berlebihan sehingga mampu menarik perhatian seksual laki-laki. Berhias yang berlebihan termasuk memakai parfum yang menimbulkan daya syahwat laki-laki.
Mendasarkan pembahasan di atas dapat ditelusuri akar permasalahan mengapa terdapat budaya mesum pelajar?
1. Pelajar baik laki-laki maupun perempuan di negeri kita ini memakai pakaian yang tidak menutup aurot
2. Para pelajar perempuan yang tidak menutup aurot tersebut berhias, dandanannya menimbulkan daya tarik laki-laki sehingga syahwat birahi seksnya meledak-ledak. Baik laki-laki tersebut sesama temannya maupun laki-laki itu gurunya.
3. Budaya kholwat yaitu bercampur antara laki-laki dan perempuan baik di dalam kelas, di kegiatan-kegiatan sekolah intra atau ekstra dan atau saat mereka lepas dari sekolah.
4. Tanggung jawab dan nasehat dari pihak sekolah sangat lemah. Peranturan dan tata tertib di sekolah tidak mengatur batasan pakaian dan pergaulan yang sesuai dengan aturan syariat.
5. Para orang tua memberi kelonggoran pergaulan semi bebas dan atau bebas pada putra dan putrinya
6. Akses bebas terhadap pornografi dan pornoaksi didapat oleh para pelajar dari berbagai sumber, dan jalur baik di sekolah, di masyarakat atau di rumah.
7. Iklan perusahan menggunakan adegan porno baik yang ditampilkan lewat tayangan TV dan atau gambar-gambar banner di pinggir jalan. Iklan ini memberi akses bebas setiap saat kepada semua usia.
8. (Mohon maaf) kadang-kadang pergaulan orang tua di rumah atau di luar rumah juga memberi dampak pada persepsi putra-putrinya, Jika budaya cium pipi kanan cium pipi kiri diterapkan dan anak menyaksikan maka itu sama saja dengan cara pembelajaran terefektif agar anak berbuat mesum.
9. Tidak ada sanksi yang menjerakan. Sanksi yang diberikan kadang-kadang hanya menimbulkan dampak psikologis saja. Belum menyentuh pada tujuan utama sebuah hukuman. Yaitu memberi pengaruh baik secara fisik, perasaan dan kesadaran agar jera bagi pelakunya dan bagi yang melihat hukuman tersebut sehingga tidak berani coba-coba.
10. Media. Baik itu media tertulis atau bergambar, tayangan TV ataupun saluran internet. Pemerintah yang ragu. Tidak tegas terhadap pembatasan dan pemberian sanksi terhadap media menjadikan media porno berkembang cepat dan mudah diakses oleh semua usia.
11. Tauladan para guru di sekolah udah sirna.
12. Orang tua memberi fasilitas agar pelajar dapat menjalankan akses mesum secara sempurna.
13. Peranan agama telah dikebiri
14. Budaya pergaulan gaul.
15. Perkembangan modes, bentuk dan trend pakaian
16. Menjamurnya warung cethe, warung café, dan vila atau hotel yang memberi akses bebas bagi para pelajar untuk berbuat mesum.
17. Kebijaksanaan pariwisata yang diambil dan diterapkan oleh pemerintah sangat tidak tepat karena hanya mementingkan pemerolehan PAD saja tanpa memperhatikan dampak kerusakkan moral. Para pelajar diberi akses bebas memanfaatkan pariwisata untuk perbuatan mesum
18. Rokok, narkoba dan miras merupakan teman dan pintu perbuatan mesum pelajar.
19. Jeratan makelar perdagangan seks.
20. Ada upaya dari bangsa penjah, negara barat untuk merusak moral generasi muda dengan pergaulan bebas yang mengarah perbuatan mesum.
21. Kehidupan dan budaya global yang masuk tanpa difilter.
22. Kehidupan rumah yang tidak sholih, tidak harmonis terdapat keretakan komunikasi.
23. Orang tua anak-anak pelajar yang TKI dan TKW juga menjadi penyebab adanya kegiatan mesum pelajar.
24. Perlakuan kekerasan seks dini baik oleh tetangganya, oleh gurunya atau oleh keluarganya sendiri memberi dampak pada prilaku seks pelajar.



Seseorang di antara kamu mengambil talinya, lalu dia memikul seikat kayu bakar di atas punggungnnya kemudian dia jual sehingga dengan begitu Allah menyelamatkan mukanya adalah lebih baik dari pada meminta-minta kepada orang, baik diberi maupun ditolak (HR Bukhori)
Setiap naik bus, baik bus kota maupun bus antar kota pasti akan mendapatkan hiburan dari para pengamen. Bahkan dalam satu perjalanan mendapatkan lebih dari lima kali pengamen. Saat ini mengamen juga dilakukan dari rumah ke rumah. Mengamen sudah dipandang sebagai pekerjaan. Jika pandangan kita seperti itu, dapatkah dijelaskan bahwa mengamen merupakan bentuk kemandirian anak dalam hidupnya. Benarkah mengamen itu bekerja? Ataukah mengamen itu hanya bentuk lain dari meminta-minta? Kalau tidak boleh dibilang mengemis?
Setiap hari di kantor LPI Al Azhaar tidak kurang dari 3 orang yang rutin meminta-minta. Peminta-minta ini keliling ke setiap rumah. Setiap kita berziarah ke makam para walisonggo pasti akan disambut segerombolan orang yang berprofesi meminta-minta. Profesi ini terorganisai dengan baik dan dilakukan oleh orang yang sudah memiliki kecukupan hidup. Mengapa mereka berprofesi yang tidak ada kemulyaan, bahkan mendekati kehinaan?
Dua tahun yang lalu ada seorang sarjana menyampaikan surat lamaran pekerjaan ke kantor LPI Al Azhaar. Hebatnya dia ditemani dan diantar langsung oleh ibunya yang sudah berusia di atas lima-lima tahun. Dua minggu berikutnya diadakan test tulis, wawancara dan micro teaching, sarjana ini juga ditemani ibunya hingga usia test. Lima hari beikurtnya saat menanyakan pengumuman juga bersama ibunya. Kemandirian belum dimiliki oleh sarjana tersebut, demikian simpulan para penguji saat itu sehingga tidak dapat diluluskan. Beberapa anak SD kelas tiga belum dapat melayani dirinya sendiri. Bahkan saat ini tidak jarang ditemukan anak-anak usia SLTP juga belum dapat mencuci bajunya sendiri, menyetelika atau pekerjaan untuk dia hidup dan menghadapi dirinya sendiri.
Kemadirian merupakan prilaku hidup yang tidak dalam ketergantungan mutlak dan selamanya. Seorang bayi tidak hidup dalam ketergantungan disusui, disuapi, digandeng dalam berjalan, dimandikan dan bentuk bantuan lainnya. Namun dia dilatih dan dibiasakan mengurangi ketergantungan prilaku tersebut, lambat laun dapat makan, mandi, berjalan dan berpakain sendiri. Prinsip kemandirian adalah mengerjakaan sesuai tahapan dan kemampuan sendiri. Salah satu tugas orang tua adalah memandirikan anak agar dapat menatap kehidupan masa yang lebih sulit dari masa yang dialami para orang tua. Para orang tua menyiapkan generasinya agar tidak menjadi generasi peminta-minta, generasi pengamen, generasi hedoisme tetapi yang kuat aqidah dan kuat ekonominya.

Kondisi masyarakat kita yang terjerumus ke dalam peminta-minta adalah disebabkan oleh faktor-faktor:
Pertama yaitu masyarakat yang lemah ekonomi dikarenakan tidak memiliki skill kehidupan dan skhill yang dibutuhkan oleh kehidupan. Bahkan secara pendidikan sangat rendah. Kedua adalah mereka yang bermalas-malas melakukan pekerjaan yang dianggap berat, tetapi dia ingin hidup enak. Mereka sebenarnya dapat bekerja dan bahkan memiliki lahan pekerjaan tetapi malas Ketiga ingin memperkaya diri dengan jalan pintas Keempat sangat ingin menikmati sesuatu tetapi tidak punya.
Kasus meminta-minta juga terjadi di lingkunagn para pejabat. Semisal atas dorongan mmiliki dan menikmati sesuatu tetapi gajinya tidak menukup. Maka para pejabat tersebut mendatangi toko, rekanan kerja atau pihak lainnya yang membutuhkan jasa dia untuk mengajukan permohonan-permohonan sumbangan dengan segala macam dalih. Yang lebih menyakitkan hati kita adalah mobil keliling meminta-minta atas nama pembangunan masjid atau pesantren. Tentu saja para pendidik dan orang tua tidak rela bila generasi yang sekarang diasuh terjerumus sebagai peminta-minta. Para pendidik dan orang tua sudah selayaknya bertekat untuk menghasilkan generasi mandiri.
Anak semestinya dilatih agar menjauhkan diri dari sifat meminta-minta. Para pendidik dan orang tua apabila menyaksikan anak dalam pergaulan dengan teman sebaya, meminta sesuatu yang dimiliki oleh teman sebayanya hendaknya menasehatinya dan mengarahkan agar tidak punya sifat meminta-minta. Upaya yang dilakukan oleh para pendidik dan orang tua ini untuk membentuk mental dan karakter kripribadian agar tidak terbiasa hidup hedoisme dengan jalan pintas meminta-minta. Untuk membentuk karakter mental dan kepribadian agar tidak terjerumus meminta-minta dan memiliki kemandirian, paling tidak yang dapat dilakukan oleh para pendidik dan orang tua adalah:
Pertama, melatih anak terlibat dalam pekerjaan keseharian. Pekerjaan yang dilakukan oleh anak ini sifatnya adalah melatih, membiaakan dan memberi pemahaman secara langsung, konkrit dan dilaksanakan bersama-sama. Semisal para pendidik dan orang tua mengajak anak-anak membersiahkan lantai, kaca cendela, menyiram bunga dan alangkah baiknya anak-anak kemudian diberi tugas dan jadwal.
Kedua apabila anak-anak meminta atau menginkan sesuatu baik harus dibeli ataupun tidak hendaknya para pendidik dan orang tua mengajak diskusi dengan cara apa anak-anak dapat memenuhi keinginannya jika pada suatu saat para pendidik dan orang tua sudah tidak mendampingi. Jika anak-anak telah memahami bahwa harus dengan cara bekerja, maka latihlah melakukan pekerjaan ringan sebagai latihan kemudian setelah dapat melaksanakan dengan baik baru permintaannya dikabulkan. Kasus yang ada saat ini adalah para pendidik dan orang tua mengkabulkan permintaan anak bersifat menjejali, mendikti dan tanpa dilakukan pendekatan kemandirian anak.
Ketiga membiasakan dan melatih anak menjaga harga dirinya. Dalam keadaan apapun dibiasakan dan ditumbuhkan rasa malu bila akan meminta-minta demi menjaga kehormatan dirinya. Bahkan para pendidik dan orang tua perlu menanamkan doktrin hukum para peminta-pinta itu dosa, jelek, tidak disukai oleh Allah dan harga dirinya rendah, serta terhina.
Keempat, para pendidik dan orang tua melatih dan membiasakan kemandirian anak dengan memberi pendidikan zuhud. Zuhud merupakan sifat dan sikap qonaah atas pemberiaan yang diberikan oleh Allah dan mencukupkan dirinya dari apa yang telah dimiliki, yang telah ada, dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan. Zuhud merupakan upaya memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan. Zuhud bukan berarti melupakan dunia tetapi memanfaatkan dunia seoptimal mungkin.
Kelima membiasakan hidup hemat dengan cara menyisihkan apa yang diberikan oleh Allah untuk ditabung.
Keenam membiasakan hidup untuk menolong orang lain, berempati atas kesusahan orang lain tanpa harus menunggu orang lain meminta-minta.
Membangkitkan Motivasi Bekerja
Tanggung jawab terpenting yang harus dimiliki oleh para pendidik dan orang tua adalah memotivasi untuk mendapatkan pekerjaan yang bebas baik itu pertukangan, bengkel, pertanian, perkebunan, perdagangan maupun jasa. Teladan berwiraswasta telah diberikan para nabi. Dalam QS 11: 37-38 dijelaskan kegiatan Nabi Nuh dalam membuat bahtera yang selanjutnya beliau dengan para pengikutnya selamat dati banjir. Dalam QS 21:80 dan QS 34:10-11, dijelaskan tentang keterampilan Nabi Daud mebuat baju besi. Dalam QS 28:27-28 dijelaskan Nabi Musa bekerja sebagai penggembala domba milik Nabi Syu’aib selama delapan tahun. Dan pekerjaan Nabi Musa nilia sebagai maskawin perkawinannya dengan putri Nabi Syu’aib. Dan Rasulullah juga pernah sebagai penggembala domba. Hal ini dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori kuntu ar’al ghonama qorooriitho liahli makkah, Aku (Rasulullah) pernah menggembala kambing dengan upah beberapa qiroth dari penduduk Mekkah. Rasulullah juga dua kali pergi ke Syam untuk berniaga. Kali pertama adalah ditemani dan bersama pamannya, Abu Tholib. Saat itu beliau masih berusia dua belas tahun. Kali kedua adalah beliau ditemani Maisarah yaitu hamba sahaya Khotijah.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda inna afdlolal kasbi kasbur rojuli min yadihi, sesungguhnya mencari nafkah yang paling mulia adalah mencari nafkahnya seseorang oleh tangannya sendiri (dari tangangannya sendiri). Sedangkan Ath Thobaroni, Ibnu “Adiy dan at Tirmidzi meriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda innallaha yuhibbul abdal muhtarifu, sesungguhnya Allah mencintai hanba yang bekerja (kreatif, memiliki skill dan bekerja dengan skillnya itu).
Untuk membangkitkan motivasi bekerja, Ibnu al jauzi meriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab r.a. menemui suatau kaum yang tidak bekerja. Kemudian beliiau bertanya, “kenapa kalian tidak bekerja”. Mereka menjawab, “kami bertawakkal”. Umar bin Khaththab r.a. berkata, “kalian dusta, sesungguhnya orang yang bertawakkal adalah orang yang menanamkan biji-bijian di tanah, kemudian bertawakkal pada Allah”. Dan Umar bin Khaththab r.a. berseru, “hendaknya tak seorang pun dari kalian hanya duduk saja, tidak beraktifitas mencari rezki dan hanya berka: “ya Allah berilah aku rezki, padalah ia tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak”. Sedangkan Imam Asy Syafi’I berkata:
Memindahkan batu besar dari atas gunung
Adalah lebih aku sukai dari mengharapkan
Pemberian orang
Orang-orang mngatakan bahwa pekerjaan
Seperti itu adalah cela
Aku katakan bahwa selaha adala bagi
Orang yang meminta-minta.
Minat dan menyenangi pekerjaan harus ditananamkan sejak usia muda sebagai upaya membentuk pribadi yang siap mandiri. Memandirikan anak memang harus diupayakan, karena kita akan meninggalkan anak-anak kita, mungkin setelah membaca artikel ini, atau mungkin besuk pagi. Tidakkah takut jika kita meninggalkan anak-anak kita dalam kondisi lemah, tidak mandiri dan terbiasa tercukupi oleh kita kemudian untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangannya dia terpaksa harus meminta-minta. Semoga Allah Ta’ala menjaga diri kita mendapatkan generasi yang tidak mandiri yaitu generasi pengemis dan pengamen.


Oleh Ummu Kultsum
Umat Islam adalah umat yang dibangun pertama kali oleh Rasulullah saw. Umat inilah yang digelari Allah Swt. sebagai umat terbaik atau khairu ummah (QS Ali Imran [3]: 110); yang terunggul di antara umat manusia.Kita yakin bahwa julukan khairu ummah bukan hanya untuk para sahabat Nabi, tetapi berlaku umum manakala kaum Muslim memenuhi syarat-syarat generasi unggulan itu.
Persoalannya, yang unggulan itu yang bagaimana?
Generasi unggulan adalah generasi yang tersusun atas individu-individu yang memiliki kepribadian yang unggul di dunia akhirat. Kepribadian yang unggul di dunia adalah kepribadian yang telah berhasil mencapai keunggulan dalam oleh pikir, olah rasa, dan olah raga sehingga mampu mengungguli pribadi-pribadi lainnya; dalam kondisi prima memiliki keunggulan sumber daya manusia melebihi 10 orang kafir (Lihat: QS al-Anfal [8]: 65) dan dalam kondisi di bawah form pun masih mampu mengungguli 2 orang kafir (Lihat: QS al-Anfal [8]: 66).
Kepribadian yang unggul di akhirat lantaran telah terlatih memaksimalkan segala yang dimiliki dan diperolehnya di dunia untuk kepentingan mendapatkan negeri akhirat (Lihat: QS al-Qashash [28]: 77). Manusia yang unggul di akhirat adalah manusia penghuni surga tertinggi dan paling tengah, yaitu Jannah al-Firdaus, yang dihuni oleh para pabi, shiddiqîn, para syuhada, dan orang-orang shalih.
Terwujudnya generasi unggulan dunia dan akhirat itulah visi yang mesti ditetapkan bagi seluruh usaha pendidikan yang diselenggarakan oleh kaum Muslim.
Visi dan misi itu wajib dimiliki seluruh umat Islam; baik individu, keluarga, kelompok masyarakat, maupun negara. Dengan visi dan misi itu, akan lahir kembali generasi unggulan sebagaimana generasi pertama umat ini dulu.

Mencetak Generasi Unggulan Lewat Pendidikan Alternatif
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama dari berbagai pihak, yaitu keluarga, masyarakat, dan negara. Akan tetapi, dalam kondisi saat ini, ketika masyarakat tidak berdaya dan negara pun berlepas diri, keluarga adalah benteng terakhir dalam penyelenggaraan pendidikan. Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama dalam membentuk generasi unggulan. Ayah sebagai kepala rumah tangga berfungsi sebagai pemimpin (leader) yang mengarahkan pendidikan anak-anaknya sesuai dengan visi dan misi pendidikan Islam, sedangkan ibu berperan sebagai pelaksana harian dalam pendidikan anak-anaknya.
Memang, dengan melihat kondisi masyarakat, negara, dan sekolah yang saat ini sangat memprihatinkan, pilihan yang sepintas kelihatannya lebih baik adalah sekolah Islam terpadu (fullday school) dan pesantren modern (boarding school).
Pada tataran masyarakat awam ada anggapan bahwa anak-anak mereka akan menjadi lebih baik keislamannya hanya jika anak-anak mereka bersekolah di pesantren. Pada kalangan aktivis dakwah ada sebagian pandangan bahwa anak-anak mereka dapat terhindar dari pengaruh negatif lingkungan yang tidak Islami dan dapat lebih mengental warna keislamannya dengan cara bersekolah di sekolah Islam terpadu atau pesantren. Bahkan, ada yang mengkhususkan dirinya untuk memperjuangkan sekolah-sekolah sejenis yang semakin marak.
Melihat kenyataan tersebut, tanpa mengurangi penghargaan terhadap usaha-usaha semacam itu, tampaknya kita perlu berhitung secara obyektif mengenai kelebihan dan kekurangan dari sekolah terpadu ataupun pesantren tersebut.
Dengan harapan, kita bisa menutupi kekurangan-kekurangan yang ada serta meningkatkan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Selanjutnya, kita bisa menemukan alternatif lain yang bisa kita lakukan untuk memecahkan permasalahan ini. Kelebihan dan kekurangan tersebut dapat kita lihat dari berbagai segi,
yaitu:
1. Pembiayaan.
2. Materi pelajaran.
3. Pembentukan kepribadian.
4. Efektivitas waktu membentuk generasi unggulan.
5. Efektivitas tenaga membentuk generasi unggulan.
6. Kontrol orangtua.
7. Efek multiplier dalam keluarga.
8. Efek multiplier dalam masyarakat.
9. Efektivitas penanaman nilai.
10. Kealamiahan: menghadapi kenyataan lingkungan masyarakat yang heterogen.
11. Gerak dakwah.
12. Sosialisasi dengan lingkungan.

Dilihat dari 12 segi di atas, penulis melihat kelebihan atau kekurangan sekolah Islam terpadu atau pesantren umumnya:
1. Relatif mahal, tidak terjangkau oleh kalangan ekonomi lemah.
2. Siswa relatif mendapat lebih banyak mata pelajaran tsaqâfah Islam dibandingkan dengan sekolah umum, namun relatif lebih sedikit dibandingkan dengan pesantren salafiyah yang hanya mengajarkan tsaqâfah Islam.
3. Karena kurikulum lembaga pendidikan formal ditentukan oleh negara, maka pembentukan syakhshiyyah islâmiyyah dalam definisi di atas tidak menjadi program utama. Sekolah lebih menekankan transfer pengetahuan Islam (ma‘ârif Islamiyah) dan aplikasi Islam yang terbatas pada ibadah ritual dan akhlak semata. Persoalan akan muncul setelah anak didik lulus dan berinteraksi dengan masyarakat. Belum ada satu bukti alumni pondok pesantren yang mayoritas maupun rata-ratanya menjadi pengemban ideologi Islam. Yang ada justru sebaliknya, umumnya alumni pondok pesantren larut dengan lingkungan masyarakat pergaulannya. Yang ketemu dengan penganut sosialis, menjadi aktivis sosialis kiri. Yang ketemu paham sekular liberalis, menjadi aktivis gerakan sekular liberal. Yang ketemu dengan gerakan Islam menjadi aktivis gerakan Islam.
4. Dengan melihat poin 2 dan 3, kita perlu mempertimbang efektivitas dan efisiensi pemberian materi pada model pendidikan tersebut dalam melahirkan generasi unggulan: apakah masih ada peluang bagi kita untuk memberikan usulan perubahan kurikulum yang memuat hal-hal yang memang urgen dan efektif bagi kehidupan anak, kaum Muslim, dan dakwah Islam. Bila tidak ada perubahan kurikulum, orangtua masih harus memberikan tambahan materi pelajaran di luar jam sekolah atau pesantren untuk menyempurnakan materi yang mempengaruhi pembentukan syakhshiyyah islâmiyyah. Bagi anak-anak yang sudah masuk pesantren hal ini hanya dapat dilakukan pada saat libur sekolah setahun sekali. Terlalu banyaknya tsaqâfah Islam yang dipelajari yang kurang terfokus pada materi pendidikan yang urgen bagi kehidupan anak, kaum muslimin dan dakwah Islam, maka proses pendidikan yang dijalani si anak akan lebih lama daripada yang semestinya bilamana materi pelajaran bisa diseleksi dengan seefektif mungkin.
5. Dengan melihat poin ke-4 maka orangtua harus mempunyai tenaga ekstra untuk menghapus pemahaman yang bertentangan dengan akidah Islam dan atau syariat Islam yang sudah beberapa saat mengendap dalam benak anak.
6. Orangtua memiliki kesempatan yang sangat kecil untuk dapat mengontrol perkembangan syakhshiyyah islâmiyyah anak-anaknya, karena hanya dapat dilakukan di luar jam sekolah (yang relatif sedikit sekali) bahkan bagi yang menginap di pesantren hanya setahun sekali.
7. Tingkat efek multiplier dalam keluarga rendah, karena waktu bertemu dengan keluarga sangat terbatas. Jadi, pengaruh yang ditularkan kepada adik-adiknya sangat terbatas.
8. Tingkat efek multiplier dalam masyarakat sekitarnya juga rendah karena tidak cukup waktu untuk bergaul dengan mereka. Jadi, pengaruh yang ditularkan pada lingkungan masyarakat sekitarnya kurang terasa dan keluarga yang bersangkutan kurang termotivasi untuk mendorong masyarakat di sekitarnya membentuk syakhshiyyah islâmiyah anak-anak mereka.
9. Lebih efektif dalam hal penanaman nilai, karena lingkungannya yang homogen sehingga lebih mudah terjaga dari pengaruh negatif di luar lingkungan sekolah. Hal ini mungkin terjadi mengingat anak lebih banyak bergaul dalam lingkungan sekolah saja, yang menerapkan aturan tertentu bagi seluruh siswanya.
10. Lebih rentan menghadapi kenyataan yang ada di tengah-tengah masyarakat yang sangat heterogen kondisinya, karena lebih terbiasa dengan suasana lingkungan yang homogen. Siswa-siswa yang lemah kepribadiannya akan lebih mudah terpengaruh dan sulit beradaptasi dengan kenyataan yang dihadapinya yang sangat berbeda dengan lingkungannya di sekolah.
11. Berkaitan dengan poin 1, orangtua yang kondisi ekonominya pas-pasan harus berusaha sedemikian rupa untuk dapat menutupi tingkat biaya yang relatif tinggi. Fokus perhatian orangtua sangat tersedot dalam menghadapi masalah ini. Dalam jangka panjang hal tersebut akan mempengaruhi kesempatan serta ketersediaan waktu, tenaga, dan pikiran untuk gerak dakwahnya; terutama ketika jenjang pendidikan anaknya bertambah tinggi dan semakin bertambah jumlah anaknya yang bersekolah. Berkaitan dengan poin 8, dakwah dari keluarga ini relatif kurang mengakar pada masyarakat di lingkungan sekitarnya. Anak-anak mereka menjadi mercusuar bagi anak-anak di lingkungannya. Orangtua sendiri relatif kurang menyatu dengan kehidupan masyarakat sekitar yang masih sangat memerlukan bimbingan keislaman.
12. Kemampuan sosialisasi dengan lingkungan relatif rendah, karena waktu anak habis di sekolah dan waktu yang tersisa tidak cukup untuk bergaul dengan masyarakat di sekitarnya. Namun demikian, khusus bagi lingkungan perumahan yang bersifat individual dan dalam kondisi keluarga yang kedua orangtuanya sibuk meniti jenjang karir, sekolah sejenis ini akan banyak membantu anak tersebut belajar bersosialisasi. Khusus pada kasus ini, ketika mereka di rumah tidak ada orang tua yang mendampinginya, dan kalaupun mereka keluar rumah, tidak ada teman yang bisa diajak bermain.

Program Praktis Membentuk Generasi Unggulan dalam Keluarga Masa Kini
Rasulullah Saw bersabda:
Seorang anak diaqiqahi pada hari ketujuh dari kelahirannya, diberi nama yang baik, dan dihilangkan penyakitnya (dicukur rambut kepalanya). Usia 6 tahun ia diajarkan adab, usia 9 tahun dipisahkan tempat tidurnya; usia 13 tahun dipukul jika tidak melaksanakan shalat dan shaum. Jika sudah menginjak usia 16 tahun, ayahnya mengawinkannya, lalu mendekatkan anaknya dengan tangannya sambil berkata, “Aku telah mendidikmu, mengajarimu, dan mengawinkanmu. Aku berlindung kepada Allah dari fitnah (yang disebabkan) kamu, dari azab yang disebabkan olehmu. (HR Ibn Hibban dari Anas r.a.)

Berdasarkan dalil tersebut di atas, tahapan pendidikan Islam untuk melahirkan generasi unggulan adalah sbb:

Tahap 1: Pendidikan masa kehamilan.
Saat hamil ibu sudah dapat melakukan hal-hal yang dapat merangsang janin yang masih dalam keadaan fitrah tauhid (QS al-A‘raf [7]: 172). Secara praktis, ibu mengkondisikan dirinya yang sedang mengandung janin agar selalu berada dalam suasana hati, jiwa, dan pikiran yang dipengaruhi oleh akidah Islam dan keterikatan terhadap syariat Islam. Di samping membereskan pekerjaan rumah tangga, Ibu hamil harus:
(1) lebih mengoptimalkan pendekatan dirinya kepada Allah dengan meningkatkan ibadah: shalat, tadarus, berdoa, berzikir, dll;
(2) lebih meningkatkan semangat mempelajari Islam (dengan cara membaca buku-buku keIslaman ataupun menghadiri majelis ilmu yang membahas akidah Islam dan halal-haram) sebagai bekal untuk mendidik anaknya dan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupannya.
(3) mengalirkan semangat memperjuangkan kemuliaan Islam dan kaum Muslim dengan lebih giat lagi berdakwah dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatannya.

Tahap 2: Pendidikan usia bayi (0-1 tahun).
Ibu harus merangsang seluruh pancaindera anak dengan hal-hal yang tidak dilarang oleh Allah, bahkan pelaksanaan perintah-perintah-Nya.
1) Bayi berkesempatan sebanyak mungkin menyaksikan ibu yang sedang menjalankan perintah-perintah Allah.
2) Bayi sering diperdengarkan bahasa Islam termasuk kalimat thayyibah, shalawat, istighfar, doa, bacaan al-Quran, dll.

Tahap 3: Pendidikan usia prasekolah.
Anak sudah dapat dilibatkan secara praktis dalam setiap usaha penanaman nilai-nilai Islam.
1) Mengenalkan Allah melalui ciptaan-Nya dan segala sesuatu Pemberian Allah untuk manusia.
2) Menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah dengan menunjukkan sekaligus mengajak anak melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah dalam kehidupannya sehari-hari.
3) Membentuk idola para tokoh Islam, terutama para sahabat, sebagai teladan nilai-nilai Islam.
4) Menanamkan akhlak Islam.
5) Mengenalkan dan membiasakan membaca al-Quran secara bertahap: talqîn, tahfîzh, tadarrus.
6) Membiasakan mengucapkan kalimat thayyibah sesuai dengan peristiwa yang dialami anak dalam kehidupan sehari-hari.
7) Membaca doa sehari-hari.
8) Membiasakan memanfaatkan waktu dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat: bermain yang selektif dalam jenis permainannya, teman bermainnya, waktu, dan tempatnya; menonton TV yang terkendali waktu dan programnya terutama program berita dan pengetahuan untuk menumbuhkan sikap intelektualitasnya dan terbiasa memperhatikan keadaan manusia termasuk kaum Muslim di berbagai negara dalam berbagai peristiwa; membaca buku (dibacakan).
9) Memasukkan anak ke TK Islam yang materi pendidikannya lebih banyak keislamannya meliputi doa, hadis, surat-surat pendek, gerakan dan bacaan shalat, kisah-kisah para nabi dan para sahabat, belajar al-Quran dengan metode iqra, lagu-lagu Islami, dll.
10) Mengajak anak mengikuti kegiatan keislaman ayah atau ibu setiap ada kesempatan, baik mengikuti maupun mengisi kajian keislaman.
11) Mengkondisikan suasana di rumah senantiasa kental warna keislamannya.
12) Bapak bisa mengajak anak shalat berjamaah ke masjid atau manakala bepergian jauh selalu mampir ke masjid untuk menumbuh kecintaan anak pada masjid.

Tahap 4: Pendidikan usia sekolah.
Anak-anak sudah mulai diajarkan untuk serius dan terencana dalam menjalani kehidupan. Penanaman nilai-nilai Islam sudah dapat dilakukan dengan metode berpikir dan berdialog untuk menumbuhkan kesadaran akan keterikatannya dengan syariat Islam dan mempersiapkan anak memasuki usia balig secara matang.
Kegiatannya sehari-hari sudah terjadwal sedemikian rupa sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Misalnya, membuat majalah dinding di rumah, terbiasa mendengarkan program berita setiap hari, banyak membaca buku untuk memperluas wawasan, mengomentari apa saja yang dilihat dengan pemikiran-pemikiran Islam dan syariat Islam, membuat klipping informasi penting, senang mengikuti kegiatan-kegiatan kajian keislaman, dll.
Dengan demikian, program majelis taklim keluarga sudah dapat dimulai. Waktu belajar adalah ba’da Subuh dan ba’da Maghrib sekitar 1/2-1 jam sesuai dengan kondisi masing-masing, setiap hari. Materi pelajaran ditujukan untuk membentuk kepribadian Islam serta yang diperlukan oleh umat Islam, yang akan berlanjut dari tingkat SD, SMP, SMU, dst.
Dana yang diperlukan hanya untuk melengkapi buku-buku pokok sebagai pegangan dan buku-buku referensi tambahan sebagai pelengkap. Pengajarnya adalah ayah dan ibu. Kita dapat melakuakn semua itu sambil memotivasi masyarakat sekitar agar terdorong untuk mendidik anak-anaknya menjadi generasi unggulan sehingga mereka membutuhkan adanya madrasah diniyah di lingkungan tersebut.
Selanjutnya, dengan menggunakan fasilitas dan sarana yang ada maka kita dapat melaksanakan madrasah diniyah tersebut setiap sore hari ba’da sholat Ashar bagi anak usia SD atau ba’da Isya setiap hari bagi anak tingkat SMP/SMU/dst. Gambaran materi pengajaran pada anak usia sekolah dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Gambaran materi pelajaran majelis taklim keluarga atau madrasah diniyah pada usia sekolah:

Khatimah
Dengan program pendidikan anak yang terjadwal rapi dan biaya yang sangat minim, fokus perhatian orangtua tidak hanya melulu pada masalah biaya pendidikan formal yang relatif tinggi bagi anak-anaknya. Dengan demikian, ayah dan ibu bisa optimal dalam berdakwah karena waktunya tidak habis untuk menutupi biaya pendidikan yang relatif mahal. Selanjutnya, majelis taklim keluarga ini akan lebih terasa langsung bagi lingkungannya ketika anak-anaknya bergaul dengan anak-anak tetangganya.
Orangtua terdorong untuk mewarnai lingkungan masyarakat sekitar yang akan menjadi lingkungan pergaulan dari anak-anaknya. Dengan demikian, gerak dakwah orangtua menjadi efektif karena mengakar pada lingkungan sekitar.
Satu catatan buat para aktivis dakwah yang mengklaim dirinya bergerak di tengah-tengah umat, sudahkah langkah pendidikan dan dakwah yang mereka tempuh benar-benar melibatkan umat dalam upaya membangkitkan mereka? Bila pendidikan yang diperoleh anak-anak umat dan anak-anak para aktivis dakwah menciptakan gap, bukankah ini akan semakin menambah faktor kesulitan masuknya dakwah Islam ke tengah-tengah masyarakat. Ironis sekali, para aktivis dakwah ingin menyelamatkan anak-anak mereka sambil membiarkan anak-anak masyarakat berada dalam keterpurukan pendidikan.
Bukankah keunggulan generasi yang ingin kita lahirkan adalah keunggulan generasi kaum Muslim, bukan keunggulan keturunan segelintir orang? Wallâhu a‘lam.

Ummu Kultsum, Kepala RA dan Madrasah Diniyah serta praktisi pendidikan kemasyarakatan

Usia Sekolah Gambaran Materi Pengajaran
SD
(umur 7 tahun sampai menjelang baligh) Melatih anak menyiapkan diri menerima tugas-tugas kemanusiaan sebagai hamba Allah dengan cara:
1) Mulai konsentrasi belajar baca tulis dan selanjutnya dirangsang untuk gemar membaca.
2) Penanaman aqidah agar tertancap kuat dalam benak anak, dengan metode aqidah aqliyah secara praktis sebagaimana pendekatan Al Quran.
3) Melanjutkan hafalan qur’an, hadits, do’a, bacaan sholat dan artinya.
4) Mengamalkan apa yang dibolehkan dan diharamkan sehingga mulai mengatur kehidupan anak agar selalu terikat dengan syariat Islam. Umur 7 sampai 10 tahun diajarkan hukum-hukum ibadah: shalat, shaum, zakat, haji, dll. Targetnya adalah pengenalan dan pelatihan (pembiasaan) praktek ibadah yang fardhu ‘ain. Salah satu metode yang dapat dilakukan misalnya dengan membuat buku catatan ibadah harian si anak, agenda ramadhan, dll. Pada umur 10 tahun sampai baligh, mulai pendisiplinan untuk menjalankan ibadah yang fardhu ‘ain (sampai kalau perlu dipukul) agar setelah memasuki usia baligh sudah tidak berat dan tidak lalai lagi dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya, sehingga dapat dilanjutkan pada hukum Islam yang bersifat fardhu kifayah. Jadi sudah harus ditumbuhkan kesadaran akan keterikatannya dengan syariat Islam, sehingga diperlukan kajian tentang Islam sebagai aqidah dan syariat.
5) Memperbanyak tsaqofah Islam (ilmu pengetahuan yang berlandaskan aqidah Islam) seperti fiqh, siroh nabi, teladan para sahabat (yang disampaikan dalam bentuk cerita), bahasa Arab untuk dipraktekkan dalam kegiatan sehari-hari, tajwid, tilawah, tafsir, khot.
6) Mulai latihan berbicara di depan umum, seperti membacakan ayat Qur’an, hadits, baca puisi, dll
SMP Anak sudah memasuki masa baligh, sehingga sudah wajib untuk melaksanakan hukum Islam secara sempurna. Sehingga anak harus mulai digambarkan Islam secara utuh sebagai sebuah system aturan hidup (mabda).
Materi yang urgen:
1) Mabda Islam dan perbandingannya dengan mabda lain
2) Kewajiban dakwah
3) Taqorrub ilallah
4) Fikrul Islam
5) Dirosat fil fikril Islam
6) Problematika umat
7) Bahasa arab dari segi nahwu shorofnya untuk diterapkan dalam mengkaji kitab-kitab berbahasa Arab
8) Kajian tafsir
9) Kajian hadits
10) Kajian lanjutan tentang siroh nabi dan teladan para sahabat nabi
11) Latihan menjadi imam dan khutbah
12) Latihan menulis
13) Mulai mengikuti kegiatan-kegiatan edukatif yang ada secara pasif seperti seminar, bedah buku, tabligh akbar, dll
SMU Anak sudah memahami Islam sebagai sebuah mabda, dan mulai ditumbuhkan untuk mengambil peran dalam memuliakan Islam dan kaum muslimin sesuai dengan posisinya masing-masing. Materi yang urgen:
1) Analisa siroh nabi
2) Ulumul Qur’an
3) Ulumul hadits
4) Bahasa Arab lanjutan
5) Ushul fiqh
6) Mulai diungkap pemikiran-pemikiran kufur yang merusak, aliran-aliran sesat dan ajaran-ajaran yang membahayakan
7) Belajar ketrampilan khusus untuk mempersiapkan anak terjun ke masyarakat: komputer, elektro, jurnalistik, menjahit, percetakan, memasak, akuntasi, montir, dll. Dan anak didorong untuk mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan dan bakatnya agar dapat memperoleh kemampuan maksimal dalam ketrampilan-ketrampilan khusus tersebut.
8) Latihan berdiskusi dan menyampaikan materi ke Islaman
9) Mulai mengikuti kegiatan-kegiatan edukatif yang ada dengan aktif seperti seminar, bedah buku, tagligh akbar, dll.
10) Mulai aktif mengirimkan tulisan-tulisan ke media masa.
11) Mulai mengkaji Islam secara langsung dari kitab-kitab berbahasa Arab
Perguruan Tinggi/ Pasca SMU Anak sudah menjadi anggota masyarakat yang siap bergerak bersama-sama masyarakat secara mandiri. Materi yang urgen:
1) Berinteraksi, berdiskusi dan berargumentasi serta berdebat menghadapi pengaruh ideology/kebudayaan selain Islam
2) Terus menggali tsaqofah Islam untuk diterapkan pada masalah-masalah yang dihadapinya di lingkungan masyarakat local maupun internasional
3) Menjadi panutan dan tempat bertanya bagi masyarakat di sekelilingnya
4) Dapat memanfaatkan ketrampilan-ketrampilan khusus yang dimilikinya sehingga dirinya menjadi eksis di masyarakat
5) Belajar bahasa Inggris agar dapat berkomunikasi secara internasional
6) Belajar menjadi muqallid muttabi’ dan berijtihad dengan modal tsaqofah Islam yang memadai, sehingga akan muncul para mujtahid yang sangat diperlukan ummat manusia di seluruh dunia.


Oleh: Dedeh Wahidah Achmad
Anak adalah aset terbesar bagi orangtua, bahkan umatnya. Bagi orangtua, anak-anak adalah buah hati di dunia, bahkan di akhirat. Karenanya, setiap orangtua senantiasa berupaya dan memanjatkan doa ke hadirat Allah Yang Mahasayang agar anak-anak mereka menjadi shalih/shalihah. Adapun bagi umat, anak-anak adalah penerus generasi untuk menerapkan, membela, dan memperjuangkan Islam.
Tulisan ini memaparkan teknis praktis bagaimana agar anak sejak usia dini mengenal Allah dan Rasul-Nya.

Apa yang Dikenalkan?
Persoalan utama yang harus dicamkan adalah anak harus mengenal Allah Swt. dan Rasulullah sebagai apa? Pertanyaan ini penting dijawab agar upaya pengenalan anak kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi fokus.
Tentu, secara syar‘i anak harus mengenal: (1) Allah Swt. sebagai Penciptanya; (2) Allah sebagai Tempat kembalinya; (3) Allah sebagai Zat Yang akan menghisabnya; (4) Sifat-sifat Allah Swt.
Adapun berkaitan dengan Rasulullah saw., anak harus mengenal: (1) Rasulullah saw. sebagai manusia pilihan; (2) Rasulullah saw. sebagai manusia yang membawa wahyu-Nya; (3) Sifat-sifat dan perikehidupan Rasulullah saw.; (4) Perjuangan dan pengorbanan Rasulullah saw. untuk Islam dan umatnya; (5) Rasulullah saw. sebagai suri teladan bagi manusia.
Pertanyaan yang penting diajukan adalah: selama ini anak-anak kita lebih mengenal siapa? Apakah mereka telah mengenal Allah, Rasul, dan al-Quran? Ataukah mereka lebih mengenal Dora the Explorer, Sponge Bob, artis cilik, sinetron Bajaj Bajuri, Mr. Bean? Alangkah rugi orangtua yang tidak berupaya untuk mengenalkan mereka kepada Allah, Zat Yang Mahaperkasa dan Rasulullah sebagai manusia utama.

Landasan
Pengenalan anak-anak kepada Allah dan Rasulullah ditujukan untuk menghunjamkan rasa cinta mereka kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Tidak cukup jika mereka sekadar mengenal nama atau cerita semata. Menanamkan cinta hanya bisa dilakukan dengan cinta pula. Karena itu, landasan pertama adalah cinta kepada anak. Ketika orangtua hendak mendarahdagingkan kecintaan kepada Allah dan Rasul dalam setiap aliran darah anak-anaknya, maka ia harus terlebih dulu menanamkan rasa cinta dalam jiwanya kepada anak-anak mereka.
Cermin dari kecintaan ini adalah:
(1) Tertanam dalam jiwa bahwa anak-anak itu adalah buah hatinya;
(2) Setiap berbicara dengan anak, tataplah matanya dengan cinta, dan bicaralah dengan penuh rasa cinta;
(3) Niatkan bahwa apa yang disampaikan kepada anaknya adalah sebagai hadiah baik sekaligus tanda kasih sayangnya kepada mereka. Gagal memiliki kecintaan dalam mengenalkan anak kepada Allah Swt. dan Rasulullah merupakan tanda utama kegagalannya.
Pada sisi lain, setiap ucapan atau perilaku yang ditujukan untuk mengenalkan anak kepada al-Khaliq dan Rasulullah haruslah mengandung ’ruh’. Artinya, ucapan dan perilaku kita sebagai orangtua pun harus lahir dari rasa cinta kita kepada Allah Swt. Mungkinkah seseorang yang tidak mengenal Allah dan Rasul dapat mengenalkan anak-anaknya kepada Zat Yang Mahaperkasa dan Rasul pilihan tersebut? Mungkinkah orang yang hampa dari kecintaan kepada keduanya dapat menghunjamkan kecintaan kepada anak-anaknya? Mungkinkah orang yang mengenal Allah dan Rasul secara biasa-biasa saja dapat melahirkan generasi yang kecintaan kepada keduanya luar biasa? Ammar bin Yasir sangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya karena ayah-ibunya, Yasir dan Sumayyah, adalah para pecinta Allah dan Rasul. Begitu juga, Abdullah bin Zubair; ia dibina oleh orangtuanya Asma binti Abu Bakar dan Zubair al-Awwam.
Landasan kedua adalah didik anak dengan cinta.
Ketiga, mendidik anak harus secara sengaja dan terprogram. Mendidik anak dengan seadanya apalagi asal jalan merupakan bentuk ketidaksungguhan. Nabi saw. pernah mengibaratkan bahwa mendidik anak di waktu kecil laksana mengukir di atas batu. Artinya, cukup sulit, perlu energi besar, dan kesabaran. Namun, jika berhasil, buahnya tak akan pernah hilang.

Langkah Praktis
Anak-anak memiliki dunianya sendiri. Karenanya, perlu banyak contoh nyata yang langsung dialaminya dalam mengenalkan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Di antara langkah praktis yang dapat ditempuh antara lain:

1. Formal.
Pendidikan anak secara formal berarti pendidikan di ruang kelas. Ruang kelas dimaksud bukan hanya sekadar di sekolah, melainkan juga bisa masjid atau bahkan rumah. Bisa bersama-sama dengan orang lain atau khusus anak-anak kita sendiri. Misalnya, anak disekolahkan di sekolah yang pendidikan agamanya bagus, atau disuruh mengaji di masjid. Pada sisi lain, di rumah sejatinya dilakukan pendidikan rutin untuk anak-anak. Katakan saja, dibuat agenda kuliah subuh. Ketika ayah ada di rumah maka yang memberi kuliah subuh kepada anak-anak adalah ayahnya. Namun, ketika sang ayah keluar kota, maka ibulah yang menjadi ustadzahnya.
Tidak perlu lama, 10–15 menit cukup. Saat azan subuh berkumandang, bangunkan anak-anak. Kalaupun mereka sulit bangun, munculkan kesabaran, bangunkan dengan penuh cinta. Setelah mereka shalat, kumpulkanlah semua anak-anak. Mungkin mereka sambil tiduran, tidak apa-apa. Jika di rumah ada komputer atau laptop, itu akan sangat membantu. Buat kebiasaan, saat membangunkan anak telah dimainkan musik instrumentalia yang lembut mengalun. Secara psikologis, anak akan merasa segar, pikiran jernih, biasanya mereka segera bangun. Materinya, dibuat variasi sesuai dengan tema mengenalkan anak kepada Allah dan Rasul di atas.
Sampaikan satu ayat atau hadis yang berkaitan. Jelaskan contoh-contoh makna yang mereka alami di rumah, jalan, sekolah, dll. Perlu juga, sekali-kali kuliah subuh berupa nyanyi bersama. Ayah dan ibu mengarang lagu sederhana sesuai tema. Anak-anak disuruh berdiri dan diajari bernyanyi. Bisa juga mereka diajak menonton film perjuangan Rasul (Ar-Risâlah) secara berseri untuk beberapa hari. Ayah/ibu menjelaskan siapa Rasul dan perjuangannya.

2. Non-formal.
Secara non-formal, belikan anak-anak buku bertemakan Allah dan Rasulullah. Biarkan mereka terbiasa membaca buku-buku tersebut. Untuk lebih menanamkan ’ruh’ cinta mereka, ayah atau ibunya yang menceritakan atau membacakan isi buku tersebut pada saat santai. Bisa juga mengoleksi CD berisi doa atau cerita anak Islam, perjuangan Nabi, keindahan alam, dll.
Jika tidak ada sarana elektronik, ganti dengan bercerita tentang semua itu. Hal ini dapat dilakukan menjelang tidur. Seorang ayah atau ibu penting menjadi seorang pendongeng/pencerita hebat bagi anak-anaknya.
Jangan lupa, menanamkan anak mengenal Allah dan Rasul dapat dilakukan dengan mengajak mereka ke forum pengajian. Ajak sesekali mereka pada acara pengajian ayah atau ibunya. Meskipun mungkin mereka tidak mengerti, tanpa kita sadari mereka akan mendarah-dagingkan sikap dan perjuangan ayah/ibunya untuk mencintai Allah Swt. dan Rasulullah saw.

3. Internalisasi.
Internalisasi yang dimaksud di sini adalah mengenalkan anak kepada Allah dan Rasulullah melalui sikap dalam kehidupan keseharian. Hampir semua kejadian dapat digunakan untuk mengenalkan tautan jiwa kita itu kepada Allah Swt. dan Rasulullah. Sebagai contoh, saat Isya pulang dari masjid terlihat ada bulan, kita bisa bertanya kepada mereka, siapa pencipta bulan? Lalu sambil berjalan kita menjelaskan kekuasaan Allah terkait dengan langit, bulan, dan bintang. Hal yang sama dapat dilakukan untuk pohon, bunga, pasir, laut, dll.
Mungkin anak kita suka main boneka. Kita tanya, bagus bonekanya? Dia akan bilang, bagus. Setelah itu, jelaskan kehebatan Allah Swt. yang menciptakan adik bayi, bisa bergerak sendiri, kedap-kedip, nangis, dll. Karenanya, katakan kepadanya bahwa manusia harus tunduk kepada Zat Yang Mahahebat, yaitu Allah Swt. Barangkali kita sering kelihatan capai oleh anak-anak, salah satunya karena dakwah. Ketika itu datang berarti kesempatan untuk menjelaskan bahwa dakwah yang dilakukan ayah/ibu belum seberapa. Rasulullah saw. berjuang dengan harta, pikiran, tenaga, bahkan mengorbankan nyawa.
4. Doakan dengan cinta dan airmata.
Anak-anak kita memang lahir melalui kita, tetapi bukan milik kita. Sering orangtua menghendaki anaknya begini atau begitu, tetapi dirasa sulit mencapainya. Tidak perlu mengalah apalagi menyerah. Berusaha terus. Jangan lupa, ada senjata orangtua yang sangat utama: doa! Setiap kali usai shalat, doakanlah anak-anak kita agar mengenal dan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Bayangkan wajah mereka satu persatu mulai dari yang terbesar.
Doakan satu persatu sambil menyebut namanya. Mintalah kepada-Nya dengan penuh kesungguhan dan tetes airmata kecintaan. Akan bagus jika itu dilakukan juga di tengah malam saat para malaikat turun ke langit dunia, setelah shalat malam. Ya, Allah, jadikanlah anak-anak kami mengenal serta mencintai-Mu dan Rasul-Mu! []

* P E N U T U P *
Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: "karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran".(HR Al Hakim,Imam Ahmad,dan Ad Darimi)
Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu pada waktu kecil adalah seperti memahat batu, sedangkan perumpamaan mempelajari ilmu ketika dewasa adalah seperti menulis di atas air. (HR ath-Thabrani dari Abu Darda’ ra.)
Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): Siapa yang mempelajari al-Quran ketika masih muda, maka al-Quran itu akan menyatu dengan daging dan darahnya. Siapa yang mempelajarinya ketika dewasa, sedangkan ilmu itu akan lepas darinya dan tidak melekat pada dirinya, maka ia mendapatkan pahala dua kali. (HR al-Baihaqi, ad-Dailami, dan al-Hakim).
Dirangkum oleh : MUHAMMAD IHSAN
http://c.1asphost.com/sibin
http://ccc.1asphost.com/assalamquran
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir
http://ccc.1asphost.com/assalam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar