Minggu, 27 Juni 2010

PERTAHANKAN SHOLAT 5 WAKTU

shalat

• More on 'SHALAT'

Mau tahu masa depanmu?

>>SHALAT LIMA WAKTU
Shalat Lima Waktu

Shalat Lima Waktu adalah shalat fardhu (shalat wajib) yang dilaksanakan lima kali sehari. Hukum shalat ini adalah Fardhu 'Ain, yakni wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang telah menginjak usia dewasa (pubertas), kecuali berhalangan karena sebab tertentu.

Shalat Lima Waktu merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Allah menurunkan perintah sholat ketika peristiwa Isra' Mi'raj.

Jenis shalat

Kelima shalat lima waktu tersebut adalah:

Shubuh, terdiri dari 2 raka'at. Waktu Shubuh diawali dari munculnya fajar shaddiq, yakni cahaya putih yang melintang di ufuk timur. Waktu shubuh berakhir ketika terbitnya matahari.

Zhuhur, terdiri dari 4 raka'at. Waktu Zhuhur diawali jika matahari telah tergelincir (condong) ke arah barat, dan berakhir ketika masuk waktu Ashar.

Ashar, terdiri dari 4 raka'at. Waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Khusus untuk madzab Imam Hanafi, waktu Ahsar dimulai jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri. Waktu Ashar berakhir dengan terbenamnya matahari.

Maghrib, terdiri dari 3 raka'at. Waktu Maghrib diawali dengan terbenamnya matahari, dan berakhir dengan masuknya waktu Isya'.

Isya', terdiri dari 4 raka'at. Waktu Isya' diawali dengan hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit barat, dan berakhir hingga terbitnya fajar shaddiq keesokan harinya. Menurut Imam Syi'ah, Shalat Isya' boleh dilakukan setelah mengerjakan Shalat Maghrib.

Khusus pada hari Jum'at, Muslim laki-laki wajib melaksanakan Shalat Jum'at di masjid secara berjamaah (bersama-sama) sebagai pengganti Shalat Zhuhur. Shalat Jum'at tidak wajib dilakukan oleh perempuan, atau bagi mereka yang sedang dalam perjalanan (musafir).

Berdasarkan hadist, dari Abdullah bin Umar ra, Nabi Muhammad bersabda: Waktu shalat Zhuhur jika matahari telah tergelincir, dan dalam keadaan bayangan dari seseorang sama panjangnya selama belum masuk waktu Ashar. Dan waktu Ashar hingga matahari belum berwarna kuning (terbenam). Dan waktu shalat Maghrib selama belum terbenam mega merah. Dan waktu shalat Isya' hingga pertengahan malam bagian separuhnya. Waktu shalat Subuh dari terbit fajar hingga sebelum terbit matahari. (Shahih Muslim)

♥♥♥

shalat

• More on 'SHALAT'

Ramalan Dedi

>>SHALAT JUMAT & KEUTAMAANNYA
"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui". (QS. 62:9)

Maksudnya, pergilah untuk melaksanakan shalat Jum'at dengan penuh ketenangan, konsentrasi dan sepenuh hasrat, bukan berjalan dengan cepat-cepat, karena berjalan dengan cepat untuk shalat itu dilarang.

Al- Hasan Al-Bashri berkata: Demi Allah, sungguh maksudnya bukanlah berjalan kaki dengan cepat, karena hal itu jelas terlarang. Tapi yang diperintahkan adalah berjalan dengan penuh kekhusyukan dan sepenuh hasrat dalam hati. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir : 4/385-386).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: Hari Jum'at adalah hari ibadah. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, laksana bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Waktu mustajab pada hari Jum'at seperti waktu mustajab pada malam lailatul qodar di bulan Ramadhan. (Zadul Ma'ad: 1/398).


KEUTAMAAN HARI JUM'AT

1. Hari Terbaik Abu Hurairah z meriwayatkan bahwa Rasulullah y bersabada:
"Hari terbaik dimana pada hari itu matahari terbit adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada

2. Terdapat Waktu Mustajab untuk Berdo'a.
Abu Hurairah z berkata Rasulullah y bersabda:
" Sesungguhnya pada hari Jum'at terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah y mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu (H. Muttafaqun Alaih)
Ibnu Qayyim Al Jauziah - setelah menjabarkan perbedaan pendapat tentang kapan waktu itu - mengatakan: "Diantara sekian banyak pendapat ada dua yang paling kuat, sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadits yang sahih, pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tadi (Zadul Ma'ad Jilid I/389-390).

3. Sedekah pada hari itu lebih utama dibanding sedekah pada hari-hari lainnya. Ibnu Qayyim berkata: "Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya laksana sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya". Hadits dari Ka'ab z menjelaskan:
"Dan sedekah pada hari itu lebih mulia dibanding hari-hari selainnya". (Mauquf Shahih)

4. Hari tatkala Allah l menampakkan diri kepada hamba-Nya yang beriman di Surga. Sahabat Anas bin Malik z dalam mengomentari ayat: "Dan Kami memiliki pertambahannya" (QS.50:35) mengatakan: "Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jum'at".

5. Hari besar yang berulang setiap pekan. Ibnu Abbas z berkata : Rasulullah y bersabda:
"Hari ini adalah hari besar yang Allah tetapkan bagi ummat Islam, maka siapa yang hendak menghadiri shalat Jum'at hendaklah mandi terlebih dahulu ......". (HR. Ibnu Majah)

6. Hari dihapuskannya dosa-dosa Salman Al Farisi z berkata : Rasulullah y bersabda:
"Siapa yang mandi pada hari Jum'at, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi diantara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum'at". (HR. Bukhari).

7. Orang yang berjalan untuk shalat Jum'at akan mendapat pahala untuk tiap langkahnya, setara dengan pahala ibadah satu tahun shalat dan puasa.
Aus bin Aus z berkata: Rasulullah y bersabda:
"Siapa yang mandi pada hari Jum'at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah".
(HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).

8. Wafat pada malam hari Jum'at atau siangnya adalah tanda husnul khatimah, yaitu dibebaskan dari fitnah (azab) kubur.
Diriwayatkan oleh Ibnu Amru , bahwa Rasulullah y bersabda:
"Setiap muslim yang mati pada siang hari Jum'at atau malamnya, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari fitnah kubur". (HR. Ahmad dan Tirmizi, dinilai shahih oleh Al-Bani).

♥♥♥ • shalat




shalat

• More on 'SHALAT'
FREE! Download SEPUASNYA!!

>>SABAR & SHALAT
SABAR & SHALAT, SEBUAH HARMONI

Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS Al Baqarah [2]: 155).
Shalatlah kamu sebagaimana kamu lihat aku shalat".

Demikian sabda Rasulullah SAW. Hadis ini menunjukkan betapa penting dan strategisnya peranan shalat bagi seorang Muslim, sampai detail gerakan dan bacaannya dicontohkan langsung oleh beliau.

Sejatinya, shalat adalah ibadah paripurna yang memadukan olah pikir, olah gerak, dan olah rasa (sensibilitas). Ketiganya terpadu secara cantik dan selaras. Kontemplasi dan riyadhah yang terintegrasi sempurna, saling melengkapi dari dimensi perilaku/lisan (al bayan), respons motorik, rasionalitas (menempatkan diri secara proporsional), dan kepekaan terhadap jati diri-kepekaan dan kehalusan untuk merasakan cinta dan kasih sayang Allah SWT.

Yang menarik, Alquran kerap menggandengkan ritual shalat dengan sikap sabar. Salah satunya dalam QS Al Baqarah [2] ayat 155, Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Mengapa Sabar dan Shalat?

Secara etimologi, sabar (ash shabr) dapat diartikan dengan "menahan" (al habs). Dari sini sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Allah.
Difirmankan, Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabb-nya (QS Ar Ra'd [13]:22),

Sabar termasuk kata yang banyak disebutkan Alquran. Jumlahnya lebih dari seratus kali. Tidak mengherankan, karena sabar adalah poros sekaligus asas segala macam kemuliaan akhlak.

Muhammad Al Khudhairi mengungkapkan bahwa saat kita menelusuri kebaikan serta keutamaan, maka kita akan menemukan bahwa sabar selalu menjadi asas dan landasannya. 'Iffah [menjaga kesucian diri] misalnya, adalah bentuk kesabaran dalam menahan diri dari memperturutkan syahwat. Syukur adalah bentuk kesabaran untuk tidak mengingkari nikmat yang telah Allah karuniakan. Qana'ah [merasa cukup dengan apa yang ada] adalah sabar dengan menahan diri dari angan-angan dan keserakahan. Hilm [lemah-lembut] adalah kesabaran dalam menahan dan mengendalikan amarah. Pemaaf adalah sabar untuk tidak membalas dendam.
Demikian pula akhlak-akhlak mulia lainnya. Semuanya saling berkaitan. Faktor-faktor pengukuh agama semuanya bersumbu pada kesabaran, hanya nama dan jenisnya saja yang berbeda.

Cakupan sabar ternyata sangat luas. Tak heran jika sabar bernilai setengah keimanan.

Sabar ini terbagi ke dalam tiga tingkatan. Pertama, sabar dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan, seperti musibah, bencana atau kesusahan. Kedua, sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat. Ketiga, sabar dalam menjalankan ketaatan.

Tidak berputus asa saat menghadapi hal yang tidak mengenakan merupakan tingkat terendah dari kesabaran. Satu tingkat di atasnya adalah sabar untuk menjauhi maksiat serta sabar dalam berbuat taat.

Mengapa demikian?

Sabar menghadapi musibah sifatnya idhthirari alias tidak bisa dihindari. Pada saat ditimpa musibah, seseorang tdak memiliki pilihan kecuali menerima cobaan tersebut dengan sabar. Tidak sabar pun musibah tetap terjadi. Lain halnya dengan sabar menjauhi maksiat dan melaksanaan taat, keduanya bersifat ikhtiari atau bisa dihindari. Di sini manusia "berkuasa" melakukan pilihan, bisa melakukan bisa pula tidak. Biasanya ini lebih sulit.

Secara psikologis kita bisa memaknai sabar sebagai sebuah kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Dengan kata lain, sabar adalah upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Allah.

Difirmankan, Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabb-nya (QS Ar Ra'd [13]: 22).

Jiwa yang Tenang
Salah satu ciri orang sabar adalah mampu menempatkan diri dan bersikap optimal dalam setiap keadaan. Sabar bukanlah sebuah bentuk keputusasaan, melainkan optimisme yang terukur. Ketika menghadapi situasi di mana kita harus "marah" misalnya, maka marahlah secara bijak serta diniatkan untuk mendapatkan kebaikan bersama.

Karena itu, mekanisme sabar dapat melembutkan hati, menghantarkan sebuah kemenangan yang manis atas dorongan syaithaniyah untuk menuruti ketidakseimbangan pemuasan hawa nafsu.
Dalam shalat dan sabar terintegrasi proses latihan yang meletakkan kendali diri secara proporsional, mulai dari gerakan (kecerdasan motorik), inderawi (kecerdasan sensibilitas), aql, dan pengelolaan nafs menjadi motivasi yang bersifat muthma'innah. Jiwa muthma'innah atau jiwa yang tenang inilah yang akan memiliki karakteristik malakut untuk mengekspresikan nilai-nilai kebenaran absolut. Hai jiwa yang tenang (nafs yang muthmainah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang bening dalam ridha-Nya(QS Al Fajr [89]: 27-28).

Orang-orang yang memiliki jiwa muthma'innah akan mampu mengaplikasikan nilai-nilai shalat dalam kesehariannya. Sebuah nilai yang didominasi kesabaran paripurna. Praktiknya tercermin dari sikap penuh syukur, pemaaf, lemah lembut, penyayang, tawakal, merasa cukup dengan yang ada, pandai menjaga kesucian diri, serta konsisten.

Tak heran bila Rasulullah SAW dan para sahabat menjadikan shalat sebagai istirahat, sebagai sarana pembelajaran, pembangkit energi, sumber kekuatan, dan pemandu meraih kemenangan. Ketika mendapat rezeki berlimpah, shalatlah ungkapan kesyukurannya. Ketika beban ...






Di Balik Sebuah Senyum
Oleh : Ida Inurwati [1B]
Ada yang mengatakan bahwa senyuman adalah sesuatu yang aneh tapi nyata. Walaupun semua orang punya bibir, namun untuk yang satu ini tidak semua orang mampu melakukannya. Terlebih lagi jika orangnya sedang marah, biasanya susah sekali lepas dari cemberut. Akhirnya wajah yang aslinya cantik dan tampan rupawan, jadi kelihatan buruk dan menakutkan. Memang benar, melihat orang berwajah “angker” dalam keseharian bisa menimbulkan kesan asing dan menakutkan.
A. Sebentuk Akhlak Mulia
Bila kita renungkan, tersenyum merupakan suatu perbuatan yang punya nilai untuk menghormati orang lain. Sebagaimana senyuman Rasulullah SAW kepada keluarga, anak-anak, dan para sahabatnya. Begitu pun dengan para sahabat yang menghadiri majelis beliau dengan wajah ceria serta murah senyum. Senyuman rasulullah SAW mencerminkan indahnya akhlak beliau dalam tindak-tanduknya sehari-hari. Manis senyumnya memancarkan kesan indah yang mempesona hingga menembus dimensi waktu ribuan tahun dan jarak ribuan kilometer. Itupun akan terus berlanjut hingga hari kiamat nanti.
Sampai kini kita ikut merasakan getar-getar senyuman kasih sayang beliau melalui nilai-nilai yang terkandung dalam Alqur'an dan As-Sunnah An-Nabawiyah. Itulah kemuliaan beliau yang mengalir lewat istri-istri dan sahabat beliau. Begitu indahnya akhlak beliau masih terasa hingga kini.
B. Warna-warni Senyuman
Sebagaimana jamaknya suatu budaya, senyuman pun kini telah mengalami perkembangan. Senyum menjadi sangat bervariasi dengan nilai dan karakteristiknya masing-masing. Dari warna-warni senyuman itu dapat dibagi menjadi beberapa macam. Diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Senyum Egois atau Sinis
Sebuah senyuman yang tidak bersahabat. Senyuman tersebut terbentuk dari perasaan dendam kesumat. Senyum ini dapat menyakiti hati orang yang melihatnya.
b. Senyum Menggoda
Sebuah senyuman nakal yang bertujuan untuk memperdayai beberapa lelaki hidung belang. Suatu perbuatan yang dapat menjerumuskan seseorang kedalam jurang kemaksiatan. Naudzubillahi mindzalik.
c. Senyum Ketabahan
Sebuah senyuman yang muncul dari orang-orang perkasa dan jantan. Sosok-sosok yang mampu menghadapi musibah hidupnya dengan tabah, tanpa kecengengan. Senyum ini akan dirasakan oleh orang-orang yang merasa dekat dengan Allah.
d. Senyum Ketegaran
Sebuah senyuman yang menghiasi bibir orang-orang yang berwibawa dan mempunyai kekuatan dalam hidupnya. Biasanya mereka pernah melewati musibah yang berat kemudian sukses. Sehingga masalah yang berat sekalipun dapat teratasi jika seseorang mampu dan memiliki senyum seperti ini.
e. Senyum Ketulusan
Sebuah senyuman yang datang dari relung hati yang paling dalam. Muncul untuk membahagiakan, menghormati, dan memuliakan orang lain. Senyuman ini menunjukkan kondisi paralel antara bibir (lahiriyah) dengan hati (batiniyah). Sebuah senyuman yang dalam syariat islam mempunyai nilai ibadah, sebuah sedekah yang mudah dan ringan. Senyuman model ini memang terasa multiguna dalam mengarungi samudera kehidupan. Senyuman ini mampu menambah keakraban dan hubungan dalam berkomunikasi. Baik dalam komunikasi langsung maupun dengan media perantara. Entah itu dilakukan terhadap orang tua, teman, atau pihak lain. Dengan kata lain, meski lawan bicara tidak bertemu langsung, getaran senyumnya dapat menggetarkan mata batin kita. Masyaallah.
C. Manfaat Senyum
Senyum punya segudang manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Dari segi penampilan
Senyuman dapat memperbaiki penampilan dan menambah daya tarik. Walaupun yang tersenyum adalah kakek-kakek yang ompong dan keriput, namun senyuman tetap menjadikannya lebih baik. Sepertinya mempunyai makna dan nuansa tersendiri, mungkin lebih manis kesannya, lebih indah dan menyejukkan hati. Dengan senyum kita akan lebih dihargai dan disegani.
2. Dari segi kesehatan
Orang yang murah senyum biasanya terjaga dari penyakit yang namanya stress. Jantungnya akan berdetak secara normal, sehingga terhindar dari berbagai macam penyakit ketegangan. Menjalani kehidupan sehari-hari dengan hati yang senang dan ceria membuat tubuh lebih sehat dan awet muda. Menurut pendapat para dokter, untuk menghasilkan sebuah senyuman hanya dibutuhkan 17 otot wajah. Maka dari itu, tidak heran jika sering ditemukan orang dengan usia 50-an tahun punya wajah masih tetap segar, ceria, dan sehat. Berbeda dengan orang yang suka marah, hobinya cemberut, atau suka ngomel, biasanya kelihatan lebih tua. Memang tiga aktivitas terakhir membutuhkan 32 otot wajah, inilah yang menjadi penyebabnya.
3. Dari segi sosial
Dari segi sosial, senyuman merupakan suatu bentuk keakraban dalam pergaulan masyarakat. Ini akan dapat menambah suasana lebih hangat dan indah. Karena memang ketika melihat orang yang murah senyum, akan terasa menyenangkan. Bahkan apabila hidup ini tidak sepi dari nuansa aktivitas yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW ini, insyaallah akan menambah semangat hidup.
Senyum memang sesuatu yang hebat. Senyuman penuh ketenangan akan mampu meluluhkan kemarahan orang. Untuk itu dalam pergaulan hendaknya kita membiasakan diri bersikap tenang dan murah senyum. Bila kita mampu melaksanakan sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW, maka pertengkaran dan permusuhan dapat ditekan. Hendaklah kita menciptakan nuansa yang seperti ini, setiap kehidupan kita tapaki dengan penuh ketulusan dan ketenangan. Hendaklah itu kita lakukan baik ketika bertegur sapa di jalan, bertelepon, berkomunikasi dengan teman, atau orang tua. Insyaallah kebaikanlah yang datang. Asal lihat-lihat situasi dan kondisi, jangan kebablasan. Kalau terlihat senyum-senyum terus, nanti dikira kurang waras.
Ayo, tunggu apalagi ? Budayakanlah senyum dan salam keramahtamahan di MAYOGA yang tercinta ini. Kini kita sudah tahu hikmah dan manfaat dari senyum itu sendiri, maka bergegaslah memperbaiki diri kita dengan senyuman dari hati yang paling dalam (seperti lagunya Raihan yang berjudul “Senyum”). Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari akibat kita susah untuk tersenyum. Mari kita latih diri kita untuk senyum dengan tulus, dimana saja dan kapan saja. Senyum akan membuat suasana terasa indah. Selain membuat kita merasa bahagia, orang lain pun menjadi tertarik dengan kemuliaan sikap kita. Karena itu hadapilah perjalanan hidup kita dengan senyuman yang tulus.
Sumber: Aa Gym 5s dan el-fata

>>SHALAT BKN FIQIH SEMATA
♥♥♥
Dalam Islam, shalat itu memiliki banyak kategori. Ada yang wajib (harus), ada yang sunnah (dianjurkan), ada yang makruh (dibenci), dan ada juga yang haram (dilarang).
Islam juga mengajarkan tentang waktu-waktu shalat yang dibagi berdasarkan peredaran kosmis menjadi pagi (subuh), siang (zuhur), sore (ashar), petang (maghrib), dan malam (isya)
Bahwa kategorisasi di atas, sepenuhnya adalah kategorisasi fikih. Para fukahalah yang membuat pembagian- pembagian waktu dan bilangan shalat semacam itu. Para fukaha (ahli fikih) pula yang mengkatagorisasi shalat menjdi "wajib," "sunnah," dan "makruh."
Istilah-istilah teknis ini tak pernah dikenal pada zaman Nabi. Definisi terhadap konsep-konsep fikih baru dikembangkan ulama pada abad kedua dan ketiga hijriah.
Disiplin fikih banyak membantu kita memahami kegiatan-kegiatan dan urusan-urusan keagamaan yang kompleks. Berbagai peristiwa keagamaan yang memiliki intensitas dan sifat berbeda-beda dikelompokkan menjadi katagori-katagori tertentu. Ada yang wajib, ada yang sunnah, ada yang haram, ada yang halal, dan seterusnya.
Sebagai sebuah upaya penyederhanaan, fikih sangat berguna.
Namun demikian, shalat bukanlah urusan fikih semata. Sebagai sebuah aktivitas ubudiyah, shalat tak ada kaitannya dengan fikih. Ia lebih dekat dengan tasawuf yang lebih menekankan dimensi spiritual atau dimensi esoteris manusia.
Inti daripada shalat adalah bukan bilangan (menjadi dua, tiga, atau empat rakaat), dan bukan pula waktu (menjadi subuh, zuhur, asar, dan seterusnya).
Shalat seseorang yang selalu memperhitungkan bilangan, seperti dikatakan Nabi, adalah shalatnya seorang pedagang.
Inti dari shalat adalah kedekatan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, zat yang menciptakannya.
Dalam hal ini, para sufi adalah orang-orang yang paling mengerti apa makna dan fungsi shalat.
Shalat pada dasarnya merupakan "alat bantu" (agency) bagi manusia untuk merefleksikan kesadarannya akan keberadaan Tuhan.

Sebagai sebuah alat bantu, shalat memiliki keterbatasan-keterbatasan. Setiap orang, mendapatkan efek kesadaran yang berbeda- beda dari shalat yang dijalankannya. Yang paling bagus adalah orang yang mampu menciptakan alat bantu itu pada dirinya sendiri, sehingga ia selalu berada dalam ruang kesadaran di mana Tuhan tak perlu lagi dipancing untuk selalu hadir. Wallahu a'lam.

♥♥♥















ter-SENYUM-lah
Apr 10, '08 3:29 AM
for everyone
Akan tetapi, sudahkah kita melakukannya setiap hari? Jika belum, mulailah! Karena ternyata senyuman itu mengandung manfaat yang luar biasa baik bagi pemberi maupun penerimanya.

Kesederhanaan dan manfaat senyuman dapat kita dalami dan pahami melalui berbagai pendapat dan kata-kata bijak dari para ahlinya. Rasulullah SAW menegaskan dalam sabdanya bahwa senyum itu ibadah. Sementara, Phyllis Diller melukiskan senyuman sebagai sebuah lengkungan yang meluruskan segala sesuatunya. Bahkan senyuman telah menjadi perbincangan mendalam oleh golongan ahli fikir dan filosofi awal seperti Locke, Schopenhaur, Spencer, Descrates dan Hartley melalui karya-karya tulisan mereka.

Senyuman adalah sikap dan energi positif yang dipancarkan lewat ekspresi wajah yang ceria dan menggembirakan. Oleh karena itu, senyuman merupakan perbuatan kecil yang mencerminkan salah satu ciri akhlak yang mulia, namun kesannya cukup besar dalam mempengaruhi keadaan . Menurut Tanadi Santoso, dalam senyum ada hal yang sederhana, mudah dan murah untuk dilakukan tapi hasilnya luar biasa.

Tanadi Santoso menyebutkan keluarbiasaan senyuman sebagai sebuah kekuatan universal yang menarik sekali. Disebutnya demikian, karena ia berpandangan bahwa senyuman akan menunjukkan hal yang positif. Senyum yang tulus dengan hati terbuka akan memancarkan sikap mental yang positif. Akan memancar kehangatan dari orang tersebut. Sebuah perasaan (feeling) yang mudah menular. Juga menunjukkan keterbukaan kita dengan orang lain. Terasa sebuah perasaan keyakinan (confident) akan hidup ini. Dan yang terasa lainnya, apapun yang kita katakan akan terasa lebih manis, enak didengar dan menyenangkan bagi orang lain.
Soejitno Irmim dan Abdul Rochim dalam bukunya Penampilan Pribadi yang Simpatik, menyatakan bahwa disamping senyum itu murah, tidak usah membeli dan stoknya luar biasa banyaknya, senyum ternyata memiliki daya ajaib seperti senyum dapat membangkitkan jiwa-jiwa yang damai dan semangat.
Manfaat senyum memenuhi seluruh relung kehidupan manusia, mulai dari sudut kepribadian, ekonomi, perasaan, kesehatan, hingga pengabdian pada Allah yang Maha Mengasihi dan Menyayangi makhluk-Nya. Dari segi kepribadian, senyum menjadi salah satu syarat untuk menjadi pribadi yang karismatik. Menurut Andrew DuBrin dalam bukunya The Complete Ideal's Guides Leadership, orang yang mirip patung sangat sulit disebut karismatik. Untuk menunjukkan dinamisme personal, perlu sering-sering menggunakan ekspresi wajah yang hidup, yang antara lain dengan senyum yang mengembang, senyum simpul, dan ekspresi senang. Senada dengan itu, Tanadi Santoso mengatakan, senyum memiliki efek menular dan merupakan cara yang murah untuk memperbaiki penampilan. Wajah yang penuh senyum selalu bersedia menerima siapa saja.
Senyum adalah lambang optimisme, simpati, empati, keceriaan, berpikir positif, persahabatan dan sikap-sikap positif lainnya. Menurut Soejitno Irmim dan Abdul Rochim, orang yang selalu ceria dan banyak senyum mencerminkan pribadi yang optimis dan senyum membuat kita terbebas dari sikap apriori. Pribadi yang tak gentar menghadapi rintangan dan resiko yang menghadang di depan matanya. Orang yang optimis selalu punya harapan akan masa depannya. Ia menjalani hidup ini dengan nyali yang besar, karena ia yakin hanya nyali dunia ini dapat ditaklukkan. Hidup harus dilalui dengan penuh keberanian karena ketakutan merupakan setengah dari kegagalan.
Kalau kita tersenyum dada akan terasa lapang, sehingga kita dapat berpikir cerdas dan dengan hati yang bening. Kecerdasan pikiran dan kebeningan hati selanjutnya akan mencegah unsur-unsur negatif merasuk ke dalam diri. Pada akhirnya kita akan menjadi manusia yang selalu berprasangka baik dan bersikap simpatik terhadap setiap persoalan.
Dari segi ekonomi, senyuman dapat menjadikan sesuatu lebih efektif, membahagiakan dan informatif. Bahkan pepatah Orang Cina Kuno mengatakan, "Seseorang tanpa wajah yang tersenyum tidak boleh membuka toko." Dale Carnegie dalam bukunya How To Win Fiends and Influence People mengutip pernyataan Prof. James V. McConnell, seorang psikolog di Universitas Michigan yang mengekspresikan perasaannya mengenai senyuman. "Orang yang tersenyum," katanya, "cenderung mampu mengatasi, mengajar dan menjual dengan lebih efektif, dan membesarkan anak-anak yang lebih bahagia. Ada jauh lebih banyak informasi tentang senyuman daripada sebuah kerut di kening. Karena senyum itulah yang mendorong semangat, alat pengajaran yang jauh lebih efektif daripada hukuman."
Senyuman menciptakan kegembiraan, membuat suasana menjadi ceria, membantu mengembangkan keinginan yang baik dalam bisnis, membangkitkan semangat, dan mempererat hubungan dengan orang lain (Ted W. Engstrom). Dan, Dale Carnegie menyimpulkan bahwa dengan melakukan tindakan tersenyum, kita dapat mengatur perasaan sehingga bersemangat dan dimampukan untuk melayani pelanggan dengan lebih baik atau menjual dengan efektif.
Lebih tegas lagi, Tjantana Jusman dalam buku Tips Memberkati Bisnis Anda menyatakan bahwa salah satu faktor penentu kesuksesan Layanan Pelanggan di banyak perusahaan ternyata adalah keramahan yang terpancar di balik senyuman para karyawannya. Dari segi perasaan, senyum adalah obat yang paling mujarab untuk mengatasi kekurangberuntungan hati dan jiwa, bahkan perang. Menurut Soejitno Irmim dan Abdul Rochim, senyum adalah obat yang paling mujarab. Dengan senyum, kita dapat menghilangkan kesedihan, gundah gulana, gelisah dah keresahan. Banyak persoalan berat yang hanya dapat dipecahkan dengan senyum. Perang bisa batal gara-gara senyum. Alangkah indahnya jika semua manusia di dunia ini pandai tersenyum, sebab di dalam senyum terdapat penawar semua niat jahat yang berkecamuk di dada manusia.
Mereka menambahkan bahwa sebuah senyuman yang diberikan dengan tulus dan ikhlas nilainya tak dapat ditukar dengan segepok uang. Senyum memberikan banyak arti bagi kehidupan manusia, dunia akan nampak suram jika kita tidak pandai tersenyum. Dengan senyum manusia dapat mencapai maksudnya, dengan senyum sesuatu yang mustahil bisa menjadi mungkin.

Selain itu, dijelaskan pula bahwa hati manusia lebih mudah ditaklukkan dengan senyuman daripada dengan kata-kata yang bernada ancaman dan paksaan. Kalau kita ingin mempengaruhi orang lain, pertama kali yang kita lakukan adalah memberinya senyum. Jarang sekali orang yang kebal terhadap senyuman, meskipun diberikan oleh orang yang tidak berarti apa-apa. Seulas senyum dapat meruntuhkan sebongkah karang yang kokoh di tengah samudera. Seulas senyum dapat mencairkan hati yang beku dan menutup kebenaran.
Senyuman memberikan sinyal perasaan keamanan bagi siapapun. Dalam sebuah situs internet ditulis, percayalah senyum itu adalah seni yang tercermin dari kedamaian hati. Semakin damai hati kita, maka senyum itu akan tersebar pada setiap insan yang terjumpai. Hingga terbersit arti "aku aman bagimu, aku menebarkan kebaikan untukmu dan aku adalah sahabat baikmu." (http://achoey.wordpress.com/2007/12/10/senyum-adalah-kekuatan/)
Dari sudut kesehatan, terbukti senyuman dapat merangsang otot-otot wajah dan memberi kesegaran dan mengurangkan kerut-kerut di wajah, kesehatan tubuh dan jiwa dengan melepaskan tenaga emosi yang berpusat dari dalam. (http://www.geocities.com/tgk_maat/ index_sunyuman.htm). Menurut Tanadi Santoso, diperlukan lebih banyak otot untuk mengerutkan wajah dibanding memberikan senyuman. Jadi, lebih mudah untuk tersenyum daripada mengerutkan wajah. Senyum meningkatkan nilai pada wajah. Dan, tentunya membuat wajah kita lebih indah dan berseri, sehingga tampak lebih awet muda.
Lebih dari itu semua, ternyata senyuman berorientasi pada akhirat, yaitu pengabdian (ibadah) kepada Allah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad, "Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah." Oleh karena itu, tersenyum merupakan salah satu sifat yang selalu melekat pada pribadi Rasulullah SAW. Jarir bin Abdullah Al Bujali Radhiyallahu 'Anhu berkata, "Setiap kali saya menjumpai Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa Sallam kecuali beliau selalu tersenyum." (HR. Bukhari). Sehingga penulis memaknainya, bahwa tiada hari tanpa tersenyum bagi Rasulullah.
Setelah kita tahu tentang luasnya kemanfaatan senyuman, tentu akan lebih baik bila kita tahu kunci kesuksesan seulas senyuman. Kunci berfungsinya keluarbiasaan senyuman ialah dilakukan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan yang bersumber dari lubuk hati yang paling dalam. Bukan senyum dengan keterpaksaan atau sekenanya saja.
Bagaimana senyum yang tulus dan ikhlas? Jamil Azzaini seorang Inspirator Sukses-Mulia, penulis buku Best seller Kubik Leadership dalam bukunya Menyemai Impian, Merasih Sukses Mulia memberikan tips Senyum Tulus yang disebutnya dengan Senyum "227". Tipsnya, saat tersenyum, tarik ke atas sudut bibir kiri 2 cm, sudut bibir kanan 2 cm, dan kembangkan selama 7 detik lamanya. Senyum seperti itulah yang disebut oleh Jamil Azzaini dengan senyum yang tulus. Bukan senyum basa-basi. Bukan pula senyum service excellent ala Standard Operational Procedure (SOP) belaka.
Sebenarnya masih banyak manfaat luar biasa yang dapat kita nikmati dari seulas senyuman yang tulus dan ikhlas dari bibir mungil kita. Akan tetapi, ruang opini ini sangat terbatas untuk menampung luasnya hikmah senyuman itu. Walaupun demikian, penulis berharap tulisan ini mampu untuk membuat kita tersenyum. Pembaca yang penulis banggakan, mulai saat ini, tersenyumlah !!








© 2008 Multiply, Inc. A
o aZti aRlina
Bacaan shalat yang menyentuh hati
Ditulis pada 19 Desember 2008 oleh M Shodiq Mustika
Subagio IN, seorang wartawan senior, menuliskan pengalamannya menjadi makmum ketika KH Mas Mansur menjadi imam shalat Jumat. Dalam buku KH Mas Mansur: Pembaharu Islam di Indonesia yang ditulisnya, Subagijo mengaku: “Tidak mungkin saya dapat melupakan hari itu”. Subagijo sedang [ber]shalat Jumat di sekolah Muallimin Muhammadiyah Yogya pada 1940-an. Imam dan khatibnya ketua PP Muhammadiyah, KH Mas Mansur. Tempat shalat sudah penuh. Dia dan banyak orang lain yang tidak kebagian tempat harus [ber]shalat dan mendengarkan khutbah di luar di bawah terik sinar matahari yang menyengat kulit.
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 4 - Rengkuh ruh | yang berkaitan: khusyuk, menangis, shalat jumat | Tidak ada komentar »
Mengapa hanya menyebut nama Muhammad dan Ibrahim dalam shalawat
Ditulis pada 18 September 2008 oleh M Shodiq Mustika
“Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 2 - Mantapkan wujud | yang berkaitan: bacaan shalat, ibrahim, muhammad, shalawat | 7 Komentar »
Pedoman Shalat Berjamaah by M Muchlas Abror
Ditulis pada 7 September 2008 oleh M Shodiq Mustika
Shalat sangat diutamakan dilaksanakan secara berjamaah bahkan ada yang berpendapat wajib. Shalat berjamaah yang dilakukan secara sungguh-sungguh, khusyu’, thuma’ninah, dan dihayati di dalamnya mengandung nilai-nilai akhlak mulia lagi terpuji, yang seharusnya membentuk pribadi dan dimiliki oleh setiap pelakunya. Beberapa nilai akhlak mulia lagi terpuji dalam shalat berjamaah di antaranya sebagai berikut:
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 5 - Tebarkan hikmah | yang berkaitan: akhlak, masjid, shalat berjamaah | 1 Komentar »
Mengapa cara shalat kita beda?
Ditulis pada 2 September 2008 oleh M Shodiq Mustika
Alkisah, seorang pemuda Madura datang ke Yogyakarta. Ia menempuh studi lanjut, berkuliah di kota pelajar ini. Dijumpainya, cara shalat teman-temannya berlainan. Kenyataan ini agak mengejutkan baginya. Di kampung asalnya, semua orang bersholat dengan cara yang “sama”, patuh mengikuti petunjuk sang kyai.
Tapi di Jogja, Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 3 - Arungi makna | yang berkaitan: al-albani, cara shalat, madzhab, muhammadiyah, NU, sunnah nabi, takbir | 4 Komentar »
Panduan Lengkap & Praktis Shalat yang Mencerdaskan
Ditulis pada 26 Agustus 2008 oleh M Shodiq Mustika
Anda sering menunaikan shalat, bukan? Pagi-sore, siang-malam, bertahun-tahun, Anda sudah mengerjakannya. Jutaan kali telah Anda tundukkan badan dalam ruku’ dan sujud. Jutaan kali pula telah Anda baca bermacam-macam dzikir dan doa di dalam shalat. Hanya saja, bagaimana kualitas shalat Anda? Dalam perhitungan atau perkiraan Anda sendiri, seberapa besar bagian dari shalat Anda yang memberikan pengaruh positif pada kehidupan Anda?
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 1 - Siagakan pelaku | yang berkaitan: buku, kecerdasan, kecerdasan majemuk, shalat | 4 Komentar »
Shubuh Yang Terlupakan !
Ditulis pada 6 Agustus 2008 oleh agorsiloku
Sudah lebih dari sebulan ini kelelahan begitu mencekam. Kerja sampai larut dan perjalanan menyita beban, sehingga entahlah, sudah berapa kali sholat shubuh di kamar hotel, atau di rumah. Mata yang mulai terpejam ketika sebagian orang-orang terbangun untuk melaksanakan sholat tak lagi dirasakan. Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 2 - Mantapkan wujud | 2 Komentar »
Shalat istikharah yang efektif menurut sunnah Nabi
Ditulis pada 17 Juli 2008 oleh M Shodiq Mustika
Selama ini, saya lihat ada dua jenis wacana tentang salat istikharah yang mendominasi umat. Pertama, “cara praktis” meminta petunjuk Allah melalui salat istikharah. Kedua, cara salat istikharah “menurut sunnah Nabi”. Namun, keduanya sama-sama mengandung kelemahan.
Baca lebih lanjut »
Panduan Shalat
RSS Entri | Comments RSS

Konsultasi: Melarang Istri Ke Masjid
Ditulis pada 6 Juli 2008 oleh M Shodiq Mustika
Saya sudah menikah lebih kurang 20 tahun dan istri saya tersebut mau mendengar perintah dan larangan saya sebagai suaminya. Tapi satu larangan saya yang istri saya tidak mau tinggalkan adalah shalat berjamaah di masjid. Dia tidak mendengar larangan saya, padahal kaum wanita lebih baik shalat di rumah daripada shalat di masjid.
Yang ingin saya tanyakan:
1. Bagaimana hukum saya melarang istri saya shalat berjamaah di masjid?
2. Bagaimana hukum istri saya karena melanggar larangan suaminya untuk tetap shalat berjamaah?
3. Bagaimana hukum saya menceraikan istri saya karena alasan tersebut di atas?
Jawaban Ustadz Dr. Rusli Hasbi, MA:
Pada zaman Rasulullah, Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 5 - Tebarkan hikmah | 2 Komentar »
Ajaklah Anakmu Shalat !
Ditulis pada 2 Februari 2008 oleh aZti aRlina
Alkisah, Abu Bakar As-Shidiq Radhiyalllahu’anhu hendak berangkat menuju masjid untuk menjadi imam shalat. Ketika melewati rumah putranya Abdullah, ia mendengar suara candaan mesra Abdullah dengan istrinya Atikah, seorang wanita yang cantik sholihah, yang baru saja dinikahi anaknya beberapa waktu lalu. Abu Bakar berlalu saja menuju masjid, dengan harapan sang anak akan segera menyusul bersama orang-orang beriman lainnya untuk melaksanakan sholat fardhu berjama’ah. Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | 4 Komentar »
Shalatlah Seperti Rerumputan
Ditulis pada 2 Februari 2008 oleh aZti aRlina
Shalatlah seperti Rumputan, begitulah pesan seorang sastrawan muslim, Ahmadun Yosi Herfanda, yang tertuang dalam puisinya “Sembahyang ku Sembahyang Rumputan”. Dalam kelelahan spiritualitasnya, ketika rakaat demi rakaatnya berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, seperti sia-sia; ia menghanyutkan diri dalam lautan tahajud. Mengantarkan dia pada permukaan untuk bertemu pada tuhan. Pertemuan yang begitu indah, hingga tangannya menuntun pena menuliskan bait sajak.. Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | 2 Komentar »
Kiat Bertahajud Sesuai Porsinya
Ditulis pada 27 Januari 2008 oleh M Shodiq Mustika
Pada artikel terdahulu, sudah kita simak dua ujung ekstrem (yaitu antara “kurang” dan “berlebihan”) dalam menyambut panggilan Allah di malam hari. Lalu, bagaimana agar kita tidak terjebak di antara dua ujung tersebut? Dengan kata lain, bagaimana menyambut panggilan Allah dengan bertahajud sesuai porsinya?
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 2 - Mantapkan wujud | 2 Komentar »
Kebiasaan Tahajud yang Terlalu Semangat
Ditulis pada 20 Januari 2008 oleh M Shodiq Mustika
Pada artikel yang lalu, sudah kita kenali tanda-tanda tahajud yang “kurang merasa terpanggil oleh Tuhan”. Bagaimana dengan tahajud yang “terlalu merasa terpanggil oleh Tuhan”? Ada jugakah?
Ya. Pasukan iblis sangat lihai mengecoh kita dalam beribadah. Bila mereka gagal membuat tahajud kita kurang (“kurang merasa terpanggil oleh Tuhan”), mereka mungkin saja berusaha menjadikan tahajud kita berlebihan (“terlalu merasa terpanggil oleh Tuhan”).
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 3 - Arungi makna | 1 Komentar »
Kebiasaan Tahajud yang Kurang Semangat
Ditulis pada 13 Januari 2008 oleh M Shodiq Mustika
Selain dalam hal porsi waktu, mungkinkah kita “kurang merasa terpanggil oleh Tuhan” ketika melakukan tahajud? Ya. Bisa saja itu terjadi.
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 4 - Rengkuh ruh | 2 Komentar »
Sambutlah Panggilan Allah Sesuai Porsinya
Ditulis pada 6 Januari 2008 oleh M Shodiq Mustika
Rasulullah saw bersabda: “Tuhan kita kagum kepada dua [macam] orang, [yang pertama] yaitu seseorang yang bangun dari tempat tidurnya dan selimutnya, di antara para keluarga dan kekasihnya, untuk menghidupkan malam (Qiyamul Lail), kemudian Allah SWT berfirman: “Wahai MalaikatKu, lihatlah hambaKu yang bangun dari tempat tidurnya dan selimutnya di antara kekasihnya dan keluarganya untuk menghidupkan malam, karena mengharap sesuatu (pahala) dari sisiKu dan belas kasih dariKu …” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la dan ath-Thabrani. Ibnu Hibban juga meriwayatkannya dalam kitab shahihnya dari Ibnu Mas’ud. Al-Albani menganggapnya hasan dalam kitab Shahih at-Targhib wa at-Tarhib (I: 258)).
Aktivitas “bangun dari tempat tidurnya dan selimutnya … untuk menghidupkan malam” itu menunjukkan adanya “rasa terpanggil oleh Tuhan”. Sebab, Allah memang sudah memanggil kita, “Hai orang yang berselimut. Bangunlah …” (QS. Al-Muzammil ayat 1-2)
Sedangkan “sesuatu (pahala) dari sisiKu dan belas kasih dariKu” menunjukkan hasil dari tahajud, yang meliputi kekayaan dan kebahagiaan. Jadi, hadits tersebut mengisyaratkan bahwa tahajud yang menumbuh-kembangkan rasa terpanggil ini dapat menghasilkan kekayaan dan kebahagiaan.
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 1 - Siagakan pelaku | 1 Komentar »
« Previous Page — Next Page »
o
Pangkal Sukses dan Bahagia
Ditulis pada 22 September 2007 oleh M Shodiq Mustika
Subuh baru menjelang. Sebuah waktu yang biasanya masih menghanyutkan sebagian besar kita di alam mimpi atau bahkan melelapkan. Namun, sejak kemarin tak lagi demikian. Sebagian besar kita telah memulai aktivitas sejak dini hari. Ada yang khusyuk tertunduk berdzikir di atas sajadah, ada yang perlahan-lahan mengaji Alquran, ada yang penuh perhatian membangunkan anak-anaknya dan menemani mereka terkantuk-kantuk bersahur.
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 5 - Tebarkan hikmah | 5 Komentar »
Haruskah makmum membaca Al-Fatihah?
Ditulis pada 18 September 2007 oleh M Shodiq Mustika
Bolehkah Kita Tidak Membaca Surat Al-fatiha Pada Sholat Berjama‘ah
Assalamualaikum.wr.wb Pak ustadz yang saya hormati saya mau bertanya tentang kewajiban kita memabca surat Al-fatiha dalam sholat berjama‘a, karena saya pernah membaca bahwasanya kalo di bacakan ayat-ayat Al Qur‘an kita harus diam dan menyimak.ini saya kaitkan dng sholat berjama‘a dimana ketika imam selesai membaca surat Al-fatiha langsung di lanjutkan dng ayat-ayat Al Qur‘an yang lain, biasanya saya di sela-sela saat kalo imam berhenti sebentar saya baca surat Al-fatiha tetapi biasanya kalo imam langsung membaca ayat-ayat ALQur‘an yang lain biasanya konsentrasi saya jadi buyar dan malah sering salah-salah dalam membacanya yang akan saya tanyakan apakah kewajiban membaca surat Al-fatiha dalam sholat berjama‘a bagi ma‘mum tetep di wajibkan kalo enggak gimana dengan syarat syah nya sholat, kan harus membaca surat Al-fatiha? Demikianlah pertanyaan dari saya atas perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih .
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 2 - Mantapkan wujud, 3 - Arungi makna, 4 - Rengkuh ruh | 1 Komentar »
Membaca Buletin Saat Khutbah
Ditulis pada 13 September 2007 oleh M Shodiq Mustika
Assalamualaikum wr wb. Mendengarkan khutbah Jum’at hukumnya wajib. … Tapi, dalam praktik di depan pintu masjid selalu disediakan buletin yang mengundang kita membacanya.
Bagaimana hukumnya? Kemudian ada jamaah yang terlambat datang ke masjid yakni ia tiba setelah azan berkumandang. Ia ingin shalat sunnah yang mana yang ia boleh lakukan, tahiyatul masjid atau qobliyah Jum’at, bagaimana hukumnya? Terima kasih.
Wassalam
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 5 - Tebarkan hikmah | Tidak ada komentar »
Salat SMART go international
Ditulis pada 3 September 2007 oleh M Shodiq Mustika

Alhamdulillah, ketika aku beristirahat dari dunia ngeblog, aku mendapat kabar gembira:
Sebentar lagi, buku Pelatihan Salat SMART go international.

Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 5 - Tebarkan hikmah | 3 Komentar »
Sholat Jama’ Bukan Karena Musafir
Ditulis pada 12 Juni 2007 oleh M Shodiq Mustika
http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/651
Ya, selama ini mungkin kita hanya mengkaitkan sholat jama’ dengan status kita musafir atau bukan. Ternyata, sebenarnya tidak hanya demikian, karena sholat yang dijama’ (digabungkan waktunya) dapat dilakukan walaupun status kita mukim alias tidak sedang mengadakan perjalanan ke tempat lain.
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 1 - Siagakan pelaku | 1 Komentar »
Sujudku… (puisi Salbiah Sirat)
Ditulis pada 28 Mei 2007 oleh M Shodiq Mustika
sujudku hanya padaMu Ya Allah
berlindung dari segala keburukan dunia akhirat dan di jauhkan dari azab neraka
juga dekatkan segala kebaikan dunia dan akhirat yang dapat dihisabkan ke JannahMu
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 4 - Rengkuh ruh | 1 Komentar »
Nabi lupa menunaikan salat dan melakukan qadha
Ditulis pada 9 Mei 2007 oleh M Shodiq Mustika
Dalam tulisan [salinan dari blog tetangga] ini akan ditemukan bagaimana Nabi lupa menunaikan salat dan kemudian melakukan qadha atas salat yang telah berlalu itu. [Qadha = menunaikan setelah waktunya berlalu.]
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: 2 - Mantapkan wujud | 7 Komentar »
« Previous Page — Next Pag

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar