Minggu, 27 Juni 2010

MENJADI GURU PROFESIONAL

Artikel:
Menjadi Guru Profesional, Mungkinkah?

Judul: Menjadi Guru Profesional, Mungkinkah?
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Afrianto Daud
Saya Mahasiswa di Monash University
Topik: MENJADI GURU PROFESIONAL; MUNGKINKAH?
Tanggal: 09 Mei 2006
Oleh: Afrianto Daud

Membaca judul tulisan diatas, sepintas barangkali kita akan menjawab kenapa tidak mungkin. Tak ada yang mustahil di dunia ini, termasuk untuk bisa menjadi guru yang profesional. Bahkan mungkin ada diantara kita yang berfikir kalau pertanyaan diatas sedikit silly, pertanyaan yang sesungguhnya tak perlu disampaikan. Namun kalau kita mau jujur, menjawab pertanyaan di atas dalam konteks dunia pendidikan nasional kita, maka minimal kita tidak berani untuk segera menjawab pertanyaan itu secara sederhana dengan jawaban why not?

Ketidakberanian kita barangkali disebabkan karena begitu kompleksnya permasalahan guru di tanah air tercinta ini. Telah ada begitu banyak diskusi, seminar, lokakarya, dan pertemuan ilmiah lainnya yang membicarakan betapa rumitnya permasalahan guru di negri ribuan pulau ini. Guru kita sering berada pada posisi yang sangat dilematis karena pada satu sisi menjadi tumpuan harapan keberlangsungan masa depan anak bangsa ini dalam bidang pendidikan di masa yang akan datang, namun pada saat yang sama guru sulit keluar dari permasalahan klasik yang melilit mereka, seperti kesejahteraan, penghargaan, dan isu tentang profesionalisme.

Menurut saya, masalah profesionalisme guru adalah isu yang paling serius diantara permasalahan lain yang dihadapi guru kita. Pembicaraan mengenai problematika guru sering sampai pada kesimpulan bahwa sampai hari ini sepertinya guru "belum percaya diri" menyebut profesi mereka sebagai sebuah profesi yang sejajar dengan profesi lainnya, seperti dokter, pengacara, hakim, atau psikolog. Dengan kata lain, guru seperti "tak bisa" menyebut diri mereka sebagai seorang profesional yang sejajar dengan para profesional di bidang yang lain.

Hal ini disebabkan karena mereka sadar bahwa suatu jenis pekerjaan yang disebut profesi idelnya memiliki kedudukan lebih dibanding dengan pekerjaan lain yang tidak dianggap sebagai profesi. Kedudukan lebih itu bisa berupa materiil maupun sprirituil. Disamping itu, untuk menjadi profesional harus memenuhi kriteria dan persyaratan tertentu. Seorang profesional menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap lebih dibanding pekerja lainnya. Maka untuk menjadi profesional, seseorang harus memenuhi kualifikasi minimun, sertifikasi, serta memiliki etika profesi (Nurkholis, 2004).

Kalau kita bandingkan dengan profesi guru dengan profesi terhormat lainnya, seperti dokter, pengacara, dan akuntan, maka kita akan melihat betapa besarnya perbedaan profesi guru dengan profesi lainnya itu. Lazim diketahui bahwa untuk menjadi seorang dokter, pengacara, dan akuntan, misalnya, membutuhkan proses yang panjang dan waktu yang lama. Mereka harus mengikuti berbagai jenis jenjang pendidikan formal, praktek lapangan, atau magang dalam waktu tertentu di bidangnya masing-masing. Bahkan, di negara-negara maju, seperti Jerman dan Amerika, konon untuk mendapatkan status guru seseorang harus magang di lembaga pendidikan minimal dua tahun. Hal ini dilakukan sebagai salah satu jaminan bahwa yang bersangkutan profesional dalam menjalankan tugasnya.

Bagaimana untuk menjadi seorang guru di negeri ini? Di Indonesia, setelah lulus dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dan bekerja di lembaga pendidikan, maka seseorang langsung disebut guru. Bahkan, banyak pula lulusan non-LPTK, namun bekerja di lembaga pendidikan, juga disebut guru. Untuk disebut sebagai guru sangatlah mudah, sehingga profesi ini sering dijadikan pelarian oleh banyak sarjana kita setelah gagal memeperoleh pekerjaan lain yang mereka anggap "lebih baik".

Kemudian, untuk mendapatkan izin kerja, pada ketiga profesi yang disebut di atas, harus memiliki izin praktik dari lembaga terkait atau sertifikat dari lembaga profesi. Izin atau sertifikat itu diperoleh melalui serangkaian tes kompetensi yang terkait dengan profesi maupun sikap dan perilaku. Organisasi profesi memiliki kontrol yang ketat terhadap anggotanya, bahkan berani memberikan sanksi jika terjadi penyalahgunaan izin. Tetapi di negeri ini, izin kerja sebagai guru, berupa akta mengajar, diperoleh secara otomatis begitu seseorang lulus dari LPTK.

Apalagi kalau kita membandingkannya dari sisi kesejahteraan, maka perbedaannya akan semakin kentara. Tiga profesi yang dijadikan model perbandingan di atas memiliki standar gaji dan renomerasi yang jelas. Sebagai seorang profesional, mereka mampu menghargai diri sendiri, mereka juga mampu menjaga etika profesi dengan baik. Namun banyak guru di pelosok negeri ini yang bergaji Rp. 60.000 per bulan. Banyak guru yang gajinya di bawah buruh pabrik. Gaji guru tidak mengikuti standar UMK, karena kebanyakan dibayar berdasarkan jumlah jam mengajar, dan kebanyakan guru tidak memiliki serikat pekerja, sehingga tidak bisa menuntut hak-haknya. Akhirnya, untuk mencukupi kebutuhan hidup harus membanting tulang di luar profesi keguruan, seperti mengojek atau berjualan. Padahal mereka dituntut untuk mencerdaskan anak bangsa, sebuah tuntutan yang amat berat. Jika kualitas pendidikan di negeri ini rendah, pantaskah kita menyalahkan, gurunya tidak profesional?

Harapan Di Balik UU Nomor 14/2005

Tumpukan permasalahan guru memang kadang membuat dada kita sesak, sampai kemudian pemerintah bersama DPR mengesahkan UU Nomor 14/2005 tentang Guru dan Dosen tanggal 30 Desember 2005, harapan barupun kemudian muncul. Banyak pihak berharap bahwa Undang Undang ini bisa menjadi tonggak bersejarah untuk bangkitnya profesi ini menjadi profesi mulia yang betul-betul setara dengan profesi lainnya. Sebuah profesi yang tak hanya dihargai dengan ungkapan "pahlawan tanpa tanda jasa", tapi sebuah profesi yang betul-betul diakui sejajar dengan profesi lainnya.

Undang-Undang Guru dan Dosen lahir melengkapi dan menguatkan semangat perbaikan mutu pendidikan nasional yang sebelumnya juga sudah tertuang dalam UU Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kita berharap, kedua undang-undang ini mampu menciptakan iklim yang kondusif bagi lahirnya para guru yang betul-betul profesional dalam makna yang sesungguhnya. Lebih jauh kita berharap, kedua undang-undang ini akan membuka jalan terang bagi segenap anak bangsa ini untuk secara perlahan tapi pasti keluar dari berbagai krisis yang melilit bangsa ini melalui perbaikan mutu pendidikan nasional dengan membentuk guru yang profesional sebagai entry point.

Sebagai implementasi dari undang-undang yang baru ini, pemerintah telah merencanakan akan melakukan program sertifikasi guru dalam waktu dekat. Seperti yang dikatakan Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas Fasli Jalal bahwa pemerintah sedang menyiapkan peraturan pemerintah (PP) untuk sertifikasi para guru, dan diharapakan dalam enam bulan telah keluar PP dan telah ditunjuk LPTK penyelenggara sertifikasi. Setelah itu, dilangsungkan pendidikan profesi serta uji sertifikasi bagi para guru yang sudah sarjana (Kompas, 27/02/2006)

Sekalipun masih ada perdebatan tentang siapa yang paling berhak menyelenggarakan program sertifikasi dan yang melakukan uji komptensi guru, namun terlepas dari siapa yang meyelenggarakan, program sertifikasi dan uji kompetensi jelas akan berdampak positif bagi proses terbentuknya guru yang profesional di masa datang. Selain karena dengan program sertifikasi dan uji kompetensi akan ada proses terukur bagi seseorang layak disebut sebagai guru, juga karena program ini bisa menjawab permasalahan klasik guru menyangkut kesejahteraan karena pasal 16 ayat (1) dan (2) UU 14/2005 menyebutkan bahwa guru yang memiliki sertifikat pendidik akan memperoleh tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok dan diberikan oleh pemerintah kepada guru sekolah negeri maupun swasta.

Apalagi kalau pemeritah berkomitmen menjalankan amanat undang undang yang menegaskan bahwa pemerintah harus mengalokasikan 20 persen anggaran negara ke sektor pendidikan, dampaknya akan diyakini begitu luar biasa kepada kualitas dunia pendidikan kita secara umum, dan terbentuknya guru yang profesional secara khusus.

Dengan lahirnya guru yang profesional dalam makna yang sesungguhnya, maka diyakini masyarkat tidak akan lagi melihat "sebelah mata" kepada profesi ini. Efek dominonya adalah akan banyak para siswa pintar kita kembali secara sadar memilih profesi ini sebagai alaternatif karir mereka di masa datang. Jadi, menjadi guru profesional di negeri ini memang bukan tidak mungkin, tapi sepertinya butuh waktu lama dan komitmen yang kuat dari berbagai pihak. Wallahu'alam

* Afrianto Daud, guru MAN 3 Batusangkar, Mahasiswa Program Master of Education Monash University Australia
Saya Afrianto Daud setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan say






Merenung tentang sosok guru, pahlawan tanpa tanda jasa, saya jadi teringat salah satu guru saya ketika di saya masih di bangku SMU di kota solo. Beliau bernama Bapak Drs. Syamsuddin. Seorang guru yang menurut saya bisa dijadikan teladan di dunia pendidikan. Kebersahajaan guru yang satu ini membuat banyak siswa terkesan. Guru yang dapat menguasai mata pelajaran yang diembannya dengan baik, guru yang jarang sekali marah kepada anak muridnya. Pernah beliau berkata, ”saya sebagai seorang guru masih dalam taraf guru yang mampu mengajar, saya belum mampu menjadi seorang pendidik yang baik, karena menjadi pendidik jauh lebih sulit dari pada sekedar menjadi pengajar”. Statement yang mempunyai nilai tersendiri buat saya…
Dalam hal marah, beliau terkenal sebagai orang yang sabar, jarang sekali beliau marah. Pernah suatu saat beliau sudah tidak mampu menahan amarahnya melihat kelakuan salah satu anak didiknya yang terkenal ”trouble maker” dikelas. Namun, kemarahan itu hanya berlangsung sesaat, kemudian beliau terdiam sejenak”—nampak jelas beliau berusaha menahan marah—dan kembali melanjutkan pelajarannya.
Di depan kelas, beliau pernah sedikit bercerita, ada salah satu orang tua yang anaknya datang ke rumahnya dengan maksud agar dimudahkan bisa menjadi salah satu murid di SMU itu, dengan memberikan satu amplop uang yang mungkin jumlahnya tidak sedikit. Tetapi secara baik-baik, beliau memilih untuk menolak pemberian itu, beliau sangat ingin menjaga diri dan keluarganya dari penghasilan dari sumber yang tidak jelas. Orang tua itu langsung terkesan dengan beliau, dan dan terucap, ”baru kali ini saya menemui seorang guru yang menolak pemberian uang pelicin seperti ini”.
Ada moment yang sulit untuk dilupakan, moment yang kurang baik tapi lucu juga, suatu saat ada pertandingan tarik tambang antar kelas yang biasa diadakan usai ujian catur wulan. Si ”trouble maker” di kelas saya kebetulan ikut berpartisipasi di event itu, saat tarik tambang sudah dimulai, dengan kekuatan penuh, dia menarik tambang bersama teamnya sembari menirukan salah satu statement iklan sebuah rokok, dia berteriak keras ”Dji…..Sam…..Soe……….namun setelah itu dia lanjutkan, ” Sam…..Soe……Din…… Pecahlah tawa para murid yang menyaksikan pertandingan itu. Ya……. kadang kesabaran dan kebaikan seseorang dijadikan ajang untuk melecehkan orang tersebut. Heeeem…. tidak didalam kelas, diluar kelas pun dia dicap si ”trouble maker”. Entahlah… pak syamsuddin mendengar teriakan itu atau tidak.
Tidak lupa disaat mengajar, beliau menyempatkan diri memberikan sedikit nasihat untuk muridnya, salah satu nasihatnya, beliau berpesan kelak, jika suatu saat anak didiknya sudah bekerja dan memiliki rumah, ” beliau berkata, ”belilah / kontraklah rumah yang dekat dengan masjid, agar rasa malas untuk shalat berjamaah di masjid bisa diminimalisir karena suara adzan terdengar jelas dan jarak antar rumah dengan masjid dekat.”.’ Sebuah nasihat yang cukup bagus, yang terus mengingang-ngiang di telinga ini.
Ada keinginan beliau yang saat itu belum tercapai. Di sela-sela kesibukannya mengajar, beliau sedang berusaha untuk bisa menghafal seluruh isi Al qur’an. Sebuah cita-cita mulia, hanya segelintir manusia yang mempunyai cita-cita itu. Kepada bapak Syamsuddin (mungkin nggak yaa beliau baca tulisanku?? ) semoga bapak selalu dalam lindungan dan kasih sayang Alloh SWT dan menjadikan keikhlasannya dalam mengajar, menjadi wasilah menuju pintu jannah-Nya. Amien.



Berita Opini

Kamis, 14 Agustus 2003
Ungkapan Perasaan Seorang Guru
Burhan

Kehidupan ini, sebenarnya lebih mirip sebuah pelangi ketimbang sebuah photo hitam putih. Setiap manusia akan merasakan begitu banyak warna kehidupan. Ia akan mungkin mencintai sebagian warna tersebut, tetapi yang pasti ia tidak mungkin akan memiliki semua warna tersebut.
Begitu pula dengan perasaan setiap guru, semua warna kehidupan yang pernah dan dialami saat ini tentu ia akan merespon dengan berbagai perasaan dan fenomena yang berbeda. Oleh karena itu, kodrat alam tidak dapat dipungkiri dari sudut pandang apapun juga. Sebab di depan gembira ada sedih, ada duka di depan suka, ada cinta di depan benci, ada harapan di depan cemas. Begitulah gambaran realitas kehidupan.
Seseorang menjadi pahlawan karena sebagian dari kemampuannya untuk mensiasati perasaan-perasaan sedemikian rupa sehingga ia tetap berada dalam kondisi kejiwaan yang mendukung proses aktivitas dan produktivitasnya. Semisal kita menghadapi suatu kegagalan, banyak orang yang lebih suka mengutuk sebuah karunia dari kegagalan tersebut. Dan ironisnya lagi dianggap sebuah musibah dan cobaan hidup. Mungkin saja kita tidak akan melakukan itu seandainya di dalam diri kita ada kebiasaan untuk memandang berbagai peristiwa kehidupan secara obyektif,ada tradisi jiwa besar, ada kelapangan dada serta pemahaman akan takdir itu sendiri.
Sudah merupakan perlambang bagi manusia, bahwa peradaban manusia bukanlah suatu barang jadi yang jatuh dari langit untuk diwariskan secara turun temurun melainkan suatu hasil perjuangan manusia dari masa ke masa dengan menggunakan segala kemampuannya, baik yang dibawa lahir maupun yang diperoleh melalui pengalaman masing-masing sebagai hasil budi daya dan rekayasa dalam menghadapi segala tantangan dan hambatan serta keterbatasan yang dijumpai sepanjang perjalanan hidupnya. Seperti halnya pada masa-masa yang lampau, manusia selalu memikirkan dan memperjuangkan suatu perubahan yang lebih baik pada masa akan datang. Namun terkadang manusia senantiasa akan mencapai kemajuan di samping kemundurannya, kemenangan di samping kekalahan, disertai harapan di samping kecemasan.
Demikianlah pasang surutnya sebuah perjuangan hidup manusia, gagal dan berhasil, suka dan duka silih berganti memperkaya pengalaman hidup manusia. Dalam proses itulah pendidikan senantiasa merupakan faktor yang menentukan, baik dalam arti dan peran maupun dalam kegunaannya. Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan kalau dikatakan, bahwa pendidikan menentukan hasil perpacuan antara peradaban dan kehancuran. Kalau pendidikan tidak diperkuat, maka kehancuranlah yang akan menimpa. Olehnya itu, tujuan pendidikan tidak lain agar manusia memiliki kelengkapan, Life skill, baik fisik, emosional maupun intelektual yang diperlukan agar dalam proses hidupnya selalu mampu menghadapi segala macam tantangan yang hakikih dan hirarkis sebuah makna kehidupan.
Pendidikan, demikian pula dalam arti pengajaran adalah persoalan manusia, sebab hanya manusia yang mempersoalkan pendidikan, karena menurut kodratnya manusia harus dididik, tanpa pendidikan manusia tidak dapat berkembang sebagaimana layaknya. Oleh sebab itu dapatlah dipahami kalau Immanuel Kant, seorang filosof Jerman yang kenamaan itu mengatakan bahwa "Manusia hanya dapat menjadi manusia karena dan oleh pendidikannya".
Mungkin ini yang dinamakan sebuah proses mengajar dan belajar yang dapat diumpamakan dua buah sisi dari satu koin atau bagaikan pinang dibelah dua. Keduanya saling melengkapi sehingga dapat dikatakan dua buah kegiatan dari satu proses tunggal (Yamamoto). Proses mengajar -belajar adalah suatu peristiwa yang melibatkan dua pihak, yakni pihak guru sebagai motivator dan anak didik sebagai subyek dan objek sekaligus, namun mempunyai tujuan yang sama yaitu meningkatkan prestasi akademik antara guru dan anak didiknya.
Dalam pelaksanaan pendidikan secara formal, tugas utama setiap guru adalah mendidik dengan menggunakan mengajar sebagai pelaksanaan tugas pokoknya. Anak didik aktif belajar sebagai dampaknya, perubahan pola pikir dan perilaku sesuai dengan yang diharapkan sebagai hasilnya. Tugas guru sangat mulia, kewajibannya begitu berat, tanggungjawabnya demikian besar, pengabdiannya meyakinkan, namun semua itu hanyalah sanjungan semata. Itulah sebabnya ia dijuluki "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" - Guru bagaikan Umar Bakri. Dengan julukannya itulah sehingga ia menjadi sasaran empuk dalam pendapatan segelintir orang. Ironis memang, keadaan seorang guru, yang banyak memberikan andil pada negara mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun belum pernah ada seorang guru mati dimakamkan di taman makam pahlawan dan diberikan kalungan bunga walaupun anak didiknya sudah ada yang jadi Jenderal, konglomerat kaya,dan bahkan ada yang sudah menjadi Profesor.
Benar memang kata orang, bahwa kekuasaan itu layaknya gula-gula. Bermacam-macam rasa dan aromanya, namun substansinya hanya satu jua. Kekuasaan tidak akan pernah luput apalagi dibilang sepi, karena pemburunya dari berbagai latar belakang yang berbeda mulai dari kelas teri sampai pada kelas kakap bergumul demi aromanya gula-gula kekuasaan. Ironisnya bajingan berdasipun berpenampilan jentelemen dan berwibawa ternyata adalah kampiun kriminal.
Guru sudah waktunya harus angkat bicara bahwa "saya" bukan lagi sapi perah dan objek pendapatan di kalangan penentu kebijakan, tujunjukkan identitas jati dirimu bahwa sesungguhnya, kami lebih baik dan lebih jujur ketimbang "pejabat yang tidak bermoral". Dalam kehidupan kita ternyata tidak sedikit buron-buron kelas kakap yang masih tertawa lebar di negeri orang, seperti Bambang Rahmadi yang menyulap dana Jamsostek sejumlah 40 miliard; Hendra Rahardja menyelewengkan dana Bank Harapan Sentosa, Akbar Tandjung yang divonis hukuman 3 tahun penjara, bahkan memproklamirkan diri untuk menjadi Presiden, Edy Tansil Maskot penipu kelas kakap yang kala itu mendapat restu dari Pak Sudomo.
Contoh-contoh tersebut diatas merupakan ego kekuasaan yang tak terkendali. Atau dapat saya katakan bahwa kekuasaan kadangkala seperti benang merah yang menyangkut diduri-duri kaktus, sulit diurai, sulit pula dicari ujung manfaatnya dari pangkal kepentingan material. Ketika tradisi kekuasaan berkembang pesat bersamaan dengan lahirnya konsep sosialisme dan materialisme, maka kekuasaan menemukan paradigmanya yang megah dan mengesankan. Format-format kekuasaan semakin menggila dan menggilas serta mewarnai semua aspek kehidupan. Demikian pula lorong-lorong menuju kekuasan tersebut yang begitu panjang, berliku-liku dan bermacam-macam sampai menguras emosional serta mengguncang perasaan dan pemikiran jutaan rakyat dan ribuan guru. Akan tetapi, tetap saja yang menikmati keuntungannya hanyalah segelintir orang.
Jika kekuasaan bisa berbicara dalam bentuk dan bahasa apa saja yang diinginkannya, maka ia sangat misteri terhadap siapa saja yang ada dihadapannya. "Kalau kau mampu tundukkan aku - kau akan menang, tapi jika tidak, maka kau yang akan "kugilas". Kata "orang bijak" kekuasaan memang bukan najis atau barang haram, tetapi ada garis demarkasi yang memisahkan antara "penguasa" yang bersumber dari syaitan dan "penguasa" yang bernaung di bawah kekuasaan Allah Yang Maha Adil dan bijaksana. Al-Qur`an Surah Al-Hajj ayat 1 menegaskan "Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscara mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat dan menyeruh berbuat ma`ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar dan kepada Allah-lah kembali segala urusan".
Sebagai guru yang meyakini sesuatu agama harus percaya bahwa berkah-berkah yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa di bumi termasuk kekuasaan harus dimanfaatkan demi kemaslahatan semua orang dan bukan hanya untuk segelintir orang saja. Justru itu, marilah kita raih berkah-berkah kesalihan dan jangan meraut sebuah keuntungan besar dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai kepentingan sesaat. Tak satupun tarikan napas kita yang terlepas dari kontrol Tuhan, olehnya itu beramallah yang ilmiah dan berilmu yang islamiah. (Penulis adalah Guru SMU 7 Palu dan Ketua Litbang FORKI Sulteng)
________________________________________
[ Kembali ] [ Atas ]





Berkah Dari Guru
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian 2 - oleh: Wisnu Prakasa")
Didalam kehidupan yang penuh dengan berbagai macam halangan dan hambatan untuk membina kehidupan spiritual. Diperlukan jodoh dan karma baik yang sangat besar untuk dapat menemukan seorang guru spiritual. Dan diperlukan lagi suatu berkah yang luar biasa untuk dapat belajar dan menerima berkah dari guru spiritual yang baik.
Mereka yang belum berjodoh untuk menemukan seorang guru spiritual yang sesuai dengan ikatan batinnya, tentu jangan berputus asa untuk terus berlatih dan mengumpulkan karma baik dengan berbuat baik terhadap sesama. Bagi yang beruntung karena mempunyai guru spiritual yang sesuai, tentunya dapat lebih bersenang hati karena pintu gerbang menuju Pencapaian Sejati telah terbuka lebar-lebar.
Walau telah mendapatkan guru spiritual, setiap mahluk akan berbeda-beda dalam memahami dan membina intisari ajaran dari sang guru. Hal ini disebabkan karena setiap mahluk memiliki ikatan batin, kepercayaan, keyakinan dan karma yang masing-masing berbeda-beda.
Mereka yang telah mendapatkan ajaran dan berkah dari guru spiritual, harus memanfaatkan karma baik tersebut. Janganlah membuang-buang kesempatan yang telah ada, sehingga telah merasa berpuas diri dan berbangga hati hanya dengan mendapatkan berkah dari sang guru. Berkah yang diberikan guru kepada muridnya, untuk membantu dan memperkuat keyakinan sang murid. Janganlah merasa telah cukup hanya dengan menerima berkah dari sang guru.
Berusahalah untuk menjadi seperti guru anda, sehingga anda tidak hanya menerima berkah tetapi dapat memberikan berkah kepada mahluk lainnya. Untuk dapat menjadi seperti guru anda, harus giat berlatih apa yang telah guru anda ajarkan. Pegang ajaran guru, dan berlatihlah ajaran tersebut hingga mencapai tingkat seperti apa yang dimaksudkan oleh guru anda. Ingatlah, Jangan pula hanya meniru apa yang guru anda perbuat, tetapi pahami kesadaran sejati guru anda yang sebenarnya. Hanya dengan berlatih ajaran yang ditelah diberikan, maka berkah seorang guru akan benar-benar bermanfaat.









































Menjadi Guru
Kamis, 06-11-2008 07:42:32 oleh: Tonny Sutedja
Kanal: Gaya Hidup
"Dunia pendidikan kita kian amburadul...." demikian kata seorang temanku, saat kami sedang berkumpul dan melakukan diskusi tanpa arti di suatu sore sambil memandang laut lepas di sebuah cafe di tepi pantai Losari. Mereka sedang membicarakan pendidikan anak-anak mereka. "Dan mutu-mutu guru pun kian buruk....." Aku memandang kepadanya sambil menggeleng. Dia seorang ayah dan seorang teman yang aku tahu sangat cerdas. Dulu kami pernah kuliah bersama, dan aku selalu menyenangi caranya menjelaskan masalah-masalah yang aku tidak pahami. Sore hari itu, kami berkumpul bersama, mengadakan sebuah reuni kecil, karena kehadiran seorang teman kuliah juga, yang baru tiba dari Sorong, Papua. Dia pun bercerita tentang soal-soal pendidikan anak-anaknya sambil asyik mengunyah "pisang epe" yang kami nikmati bersama di bawah udara sore yang cerah.
Aku memandang kepadanya yang terus bertutur tentang kekecewaannya tentang dunia pendidikan negeri ini. Setelah dia selesai mengeluh, aku lalu bertanya, "jika kau mengeluh tentang dunia pendidikan kita, tentang sikap moral para guru, lalu mengapa kau sendiri tidak mau menjadi seorang pendidik? Aku tahu kau mampu untuk itu. Bahkan lebih dari mampu, bila kau mau...." Dia terdiam. Ya, aku perlu bertanya saat itu dan aku juga ingin menulis sekarang ini. Banyak dari kita yang sesungguhnya bisa dan berbakat menjadi pengajar yang baik, namun menolak kesempatan itu. Mengapa? Menurutku, itu karena materi yang bisa kita terima tak akan mampu menutup gaya hidup kita. Pada akhirnya, menjadi guru hanya menjadi semacam pekerjaan untuk menghidupi kita. Maka tak heran, jika kita menolak untuk menjadi guru karena kita tahu bahwa penghasilan yang akan kita terima takkan pernah mencukupi kebutuhan hidup kita. Hidup yang kita inginkan menjadi sebuah kenyamanan dengan materi yang berlebih. Maka perlukah kita heran jika pada akhirnya, menjadi guru sebagian besar hanya akan dipilih oleh mereka-mereka yang tak punya jalan lain lagi? Tidak semua, memang. Namun nampak jelas bahwa jika ada pilihan lain, mereka-mereka yang mampu takkan mau menjadi guru karena mereka berpikir bahwa menjadi guru tak mempunyai masa depan yang cerah. Maka aku merasa bahwa tidak pada tempatnya temanku itu mengeluh tentang mutu pendidikan kita selama kita sendiri tak mau berkorban untuk masuk ke dalamnya. Maka selama itu yang terjadi, kita hanya mau berdiri di luar sambil terus mengeluh. Tanpa akhir.
Pernah juga, seorang teman yang lain mengeluh tentang betapa mahalnya pendidikan kita. "Buku-buku yang harus dibeli di sekolah setiap semester bisa mencapai 200an ribu" katanya. Aneh, gumamku. Aku tahu dia mampu untuk itu. Dalam beberapa kesempatan, aku bersama dengan keluarganya berjalan-jalan di Mal. Dan setiap kali ke Mal, aku tahu bahwa dia harus mengeluarkan dana ratusan ribu rupiah, untuk belanja anak-anaknya. Dan itu dilakukannya hampir setiap hari minggu. Lalu, mengapa untuk membeli buku-buku pelajaran sekolah anaknya yang hanya setiap semester saja dipermasalahkan? Berapakah nilai hiburan yang didapatkan di Mal jika dibandingkan pendidikan yang diterima anak kita di sekolah? Berapakah nilai permainan di Mal jika dibandingkan dengan nilai buku-buku pelajaran itu? Apa itu sebanding?
Menjadi guru. Menjadi pendidik yang baik di masa-masa sekarang ini tidaklah mudah. Kita harus sadari itu. Saat para guru-guru kita ke sekolah hanya dengan motor atau bahkan dengan kendaraan umum saja, para murid ke sekolah dengan mobil. Bagaimanakah perasaan guru-guru melihat dan merasakan kondisi itu? Pikirkanlah hal itu. Menjadi guru memang tidak mudah. Oleh sebab itu, yang kita perlukan saat ini bukan sebuah keluhan, namun upaya untuk memahami kehidupan mereka, memahami ketidak-berdayaan mereka, memahami ketak-mampuan mereka untuk mendalami ilmu yang mereka ajarkan. Karena bahkan untuk hidup pun mereka harus berjuang, maka mereka takkan mampu untuk membiayai perkembangan ilmu pengetahuan mereka yang memerlukan dana untuk membeli buku-buku pengetahuan terbaru yang kita tahu, sungguh mahal sekarang ini. Menjadi guru saat sekarang ini memang tak mudah. Sungguh tak mudah.
Tonny Sutedja
17 komentar pada warta ini
Senin, 10-11-2008 12:19:26 oleh: Retty N. Hakim
Benar sekali pak, menjadi guru itu tidak mudah...
Ada teman saya guru yang harus rela memboloskan anaknya (karena tidak ada yang jaga adiknya di rumah) sebab si ibu harus mengajar...

Belum lagi kalau sakit terkadang memaksakan diri mengajar karena kasihan murid-murid, takut mereka tertinggal pelajarannya...

Tapi pendidikan yang mahal itu juga belum tentu menghargai pendidiknya dengan benar, karena itu pihak yayasan juga perlu menyadari pendidik sebagai asset mereka. Zaman sekarang ini tenaga pendidik juga termasuk yang dibajak sekolahan baru...he...he...he...padahal menurut saya sebagai orang tua murid justru nilai utama pendidikan ada pada pendidiknya, baru fasilitasnya...
________________________________________
Senin, 10-11-2008 14:43:51 oleh: Tonny Sutedja
Setuju, milai utama pendidikan bukan pada gedung yang bagus, megah atau ber AC, tetapi pada nilai pengertian, kasih sayang dan kemahiran guru.
________________________________________
Selasa, 11-11-2008 07:36:21 oleh: Silvi Anhar
setuju pak.. jadi guru sekarang ini banyak sekali tantangannya... jadi guru sekarang ini harus banyak sabar...tidak mudah terpancing emosi. soalnya kalo jaman sekarang jadi guru suka marah-marah..malah akan dijauhi siswa bukan malah makin disimak pelajarannya :), jadi harus mendekati dengan penuh kasih sayang, dengan penuh hati.

oya pak.. terkadang sebagian kita itu sebenarnya mampu atau cerdas.. namun hanya sedikit yang mampu untuk bisa mentransferkannya lagi...

Terkadang untuk membeli pulsa seseorang mampu tanpa harus berpikir panjang, namun utnuk membeli buku tambahan pengetahuan harus berpikir ribuan kali..itu juga terkadang terjadi pada diri seorang guru pak..

saya dapat suatu masukan dari seorang guru senior.. "silvi.. jika kamu malas menambah wawasan kamu.. lebih baik kamu berhenti menjadi guru..". Komentar ini akhirnya menjadi masukan dan menambah motivasi ssaya pribadi untuk terus belajar dan belajar...
________________________________________
Selasa, 11-11-2008 20:38:02 oleh: rahmah hasjim
Saya pernah menjadi guru jadi tahu betapa enaknya profesi itu karena bagi saya tak ada pekerjaan yg begitu menyenangkan selain menjadi guru. Tak ada pekerjaan yg bisa membuat kita bisa mendengar kepolosan anak2 selain dg menjadi guru. Tak ada pekerjaan yg begitu menantang spt guru karena yg sdg dibentuk adalah manusia masa depan. Makanya saya selalu salut pada org yg mau terus menjadi guru, meski dg penghasilan seadanya. Saya lihat pemerintah terus membenahi perlakuan pada guru. Semoga upaya ini terus ditingkatkan hingga para guru bisa mengangkat kepalanya sama tegak dg profesi lain.
________________________________________
Rabu, 12-11-2008 13:49:44 oleh: Silvi Anhar
mbak rahmah.. bener.. dulu silvi ga mau jadi guru krn ga berani berdiri didepan org banyak. setelah jadi guru, ternyata enak, walau banyak tantangannya. karena siswa itu unik-unik.. jadi bikin awet muda terus deh :-)
________________________________________
Minggu, 16-11-2008 23:08:01 oleh: Kristin
waah ternyata kita punya rasa yang sama terhadap dunia pendidikan kita...memang banyak dari kita yang senengnya ngeluh aja tapi kita sendiri tidak melihat dan menyadari apa yang bisa kita lakukan untuk dunia pendidikan.
kita lupa bahwa tugas guru hanya beberapa jam saja dengan anak2 kita sedangkan pembentukan kepribadian anak juga sangat dipengaruhi dengan guru sejati yang sesungguhnya yaitu orang tua. jadi jika kita juga tidak bisa menuntut terlalu banyak dari guru. so, saya setuju dengan komentar yang ada bahwa kehidupan guru harus ditingkatkan.
masalahnya juga sampai sekarang saya juga belum berani untuk berbakti pada dunia pendidikan. tapi tulisan ini menginspirasi saya.Let's make our generation be better.
________________________________________
Kamis, 20-11-2008 09:38:34 oleh: ahza
Kami sekeluarga punya perspektif yang berbeda, ibu saya guru, tante, sepupu dan saudara ipar saya juga guru bahkan ibu saya mendesak saya untuk ambil akta IV agar bisa menjadi guru. Alasan ibu karena jadi guru (PNS) sekarang enak tiap 2 tahun naik pangkat, banyak liburnya, kerjanya cuma 1/2 hari, gaji utuh walaupun libur, bisa cari obyekan dari LKS, seragam, apalagi jika bisa memberi les. Dengan alasan demikian saya semakin tidak tertarik menjadi guru, apalagi semasa saya bersekolah hanya ada 2 orang guru yang menurut saya adalah guru sejati sedangkan puluhan guru saya yang lain hanya mencari uang dengan cara mengajar. Mereka bukan guru bagi saya, mereka tidak peduli apakah murid2nya paham atau tidak tentang materi yang mereka ajarkan, yang penting tugas mentransfer ilmu sudah dilaksanakan. Makanya wajar jika saya dan teman2 senang sekali jika guru tidak mengajar baik karena rapat atau karena sakit he... :)
________________________________________
Sabtu, 22-11-2008 09:35:07 oleh: abusalwa
Terima kasih pencerahan dan komentar-komentarnya.
Jadi pengen jadi guru.
________________________________________
Minggu, 23-11-2008 15:13:41 oleh: uka
Metode mengajar lebih baik dari materi pelajaran
Guru lebih penting daripada metode mengajar
Jiwa guru lebih penting daripada guru itu sendiri
Menjadi guru itu bukan pilihan tapi kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap orang berilmu
Mentransformasikan nilai dan ilmu kepada yang membutuhkannya
________________________________________
Jumat, 28-11-2008 13:34:44 oleh: khairun niam
guru haruz sering dekat ma siswax banyakin sharing n kasih lasukan yg berguna bgi si murid
________________________________________
Sabtu, 29-11-2008 07:39:16 oleh: erina rusdian sari
luar biasa yang saya rasakan membaca surat teman teman yang perhatian terhadap guru. untuk mewujudkan kepedulian itu saya belajar membuat seminar untuk guru dengan sistim subsidi. saya create acara dengan dana yang ada untuk memberi kesempatan guru meng up grade diri. ada yang tertarik untuk bergabung, kabari saya di erina_rusdiansari@yahoo.com ditunggu....
________________________________________
Kamis, 04-12-2008 16:56:35 oleh: Mujab
siapa mau jadi guru? siapa jadi guru? seperti apakah guru itu?
mari kita semua bersedia menjadi guru. mari kita semua bersedia menjadi murid. mari kita semua tidak berhenti belajar. mari para guru, berhenti mengeluhkan kesejahteraan agar murid2 tidak jadi bangsa pengeluh. mari para guru berhenti menuntut agar para murid tidak jadi bangsa yg hanya pandai menuntut. marilah kita cerdas mencari solusi atas persoalan. marilah kita tangguh dan jangan jadi golongan pecundang.
marilah berhenti menggadaikan SK untuk beli mobil, motor, rumah, tetapi tidak pernah untuk beli buku. marilah menjadi cerdas agar memberi inspirasi pada murid2 untuk menjadi cerdas.
marilah tidak takut kepada kepala sekolah, penilik sekolah, diknas, ketika murid gagal blajar. tetapi marilah meminta maaf pada murid ketika mereka gagal dlam blajar. itu adalah kegagalan guru dalam mengantarkan mereka.
ketika murid ramai dikelas dan malas belajar, atau bakhan bolos, janganlah dimarahi, karena berarti guru sudah sedemikian membosankan dan menjemukan karena mengajar dengan cara dan materi yang itu2 saja. itu adalah tantangan guru untuk lebih kreatif, lebih cerdas, lebih kritis, dan lebih hebat lagi.
tidak ada murid yang jahat dan tidak punya motivasi. buat mereka tertarik pada guru dan bersemangat dalam belajar.
________________________________________
Jumat, 05-12-2008 10:28:17 oleh: rita_imut
Sebetulnya menjadi seorang pengajar itu tidak mudah,banyak hal yang harus kita pelajari terutama dari pribadi kita sendiri,baik itu dari sikap tingkah laku,tutur kata maupun fisik dan mental yang kuat,karna nantinya kitalah yang menjadi contoh atupun panutan untuk murid-murinya di sekolah yang menjadi wali kedua dari anak didiknya tersebut.Semoga bermanfaat.thanks
________________________________________
Sabtu, 06-12-2008 11:19:37 oleh: Tonny Sutedja
Saya setuju. Menjadi guru itu tidak mudah, perlu bakat dan ketrampilan dalam penguasaan pengajaran yang baik. Guru, sama seperti seniman, memerlukan niat dan kemauan untuk melupakan macam-macam kepentingan materi untuk mengajar anak-anak yang dia kasihi seperti anaknya sendiri. Jadi menurut saya, menjadi guru bukan cara untuk mencari keuntungan atau kekayaan tetapi lebih pada semangat untuk membagi ilmu dan kasih kepada murid-muridnya. Thanks atas semua tanggapannya.
________________________________________
Kamis, 11-12-2008 08:54:13 oleh: Masyhadi
saya seorang guru, bapak saya juga guru kakak saya, adik saya,pak lek saya dan bu lek saya juga seorang guru. saya dulu juga merasa begitu tak pernah dan tak mau bercita-cita menjadi guru karena melihat keluarga saya yang saya rasa kurang kecukupan. saya tidak puas jika penghasilan saya nanti seperti bapak saya yang hanya Rp. 120.000 maklum bapak saya adalah guru swasta. tetapi setelah saya menjadi guru saya sangat mencintai profesi saya ini dan tak mau meninggalkanya. ada banyak manfaat yang tidak terduga. menjadi guru adalah tugas mulia. seharusnya semuanya memikirkan para guru negri ini. bukan hanya bisanya mengeluh mari kita berjuang bersama.
________________________________________
Sabtu, 13-12-2008 06:08:27 oleh: martini
"Dunia pendidikan kita kian amburadul...." "Dan mutu-mutu guru pun kian buruk....." Saya sangat tidak setuju dengan kalimat tersebut, kita harus ingat pendidik pertama dan utama adalah orangtua, baik didikan orangtua maka baik juga kedepannya, sekolah bukan pabrik pendidikan dan bukan pula kandang pendidikan, tapi sekolah adalah bengkel pendidikan alias tempat memperbaiki dan menambah yang belum ada. Jangan salahkan dunia pendidikan dan guru lho yaaa ... tidak semua guru yang tidak bermutu, saya bisa berkata demikian, karena saya mengamati (saya menjadi guru sudah lebih kurang 31 tahun) banyak guru zaman sekarang hanya mengajar (MENGHAJAR)bukan mendidik, padahal guru itu adalah pendidik bukan pengajar (PENGHAJAR),apalagi kalau guru itu,dari Jurusan yang bukan pendidikan tapi mengambil Ijazah Akta IV yang bisa ditempuh hanya dengan enam sampai delapan bulan saja, berapa lama mereka bisa menerima mata kuliah Psikologi,Ilmu Mendidik dan Paedagogik ??? sementara yang asli dari jurusan pendidikan saja masih ada yang kurang menghayati apa itu pendidik...bisa dibayangkan mau jadi apa generasi berikutnya ... Untuk membenahi ini semua marilah Dik,kalian kaum muda bersiap jadi guru,hapuslah pendapat orang tentang mutu pendidikan dan mutu guru yang buruk, karena kalian pasti ingin punya anak atau keturunan yang baik baik kaaaaan..... Ayo majulah kaum muda yang berjaya .....Semoga Sukses.
________________________________________
Sabtu, 13-12-2008 10:31:24 oleh: kirby
jadi guru siapa takut? malah dijadikan lahan untuk hidup sekarang, and dulu dihormati sekarang malah jadi royokan/rebutan banyak orang lihat saat tes CPNS 2008, gaji guru semakin melangit yang PNS, yang non menangis.
________________________________________

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-5260758 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY
hursday, October 12, 2006
Tipe Ibu Apakah Anda?
Ibu Pelindung, Powerful , Kreatif atau Penuh Target

Pasti Anda ingin tahu, tipe ibu seperti apakah Anda? Berbekal pemahaman ini Anda dapat lebih waspada pada “kelemahan” Anda dalam mengasuh anak dan selalu yakin pada “kekuatan” yang Anda miliki.

Sisihkan waktu Anda sekitar 5 menit. Ambillah pensil, lalu coret pada jawaban yang Anda pilih. Anda akan menemukan jawabannya di akhir halaman. Jika lebih banyak jawaban (A) yang Anda coret, Anda termasuk dalam tipe ibu A dan seterusnya (Lihat pada masing-masing boks). Tetapi jika ada dua jawaban atau lebih yang sama banyaknya (misalnya, A dan B, atau A, B dan C), maka Anda adalah ibu tipe E. Usahakan untuk tidak melihat boks jawaban terlebih dahulu, agar jawaban yang muncul tidak bias. Namun Anda tak perlu terpaku pada nilai-nilai minus yang mungkin tidak benar-benar mewakili diri Anda yang sebenarnya. Selamat mencoba!

1. Anda mengunjungi seorang sahabat bersama si 3 tahun. Mainan apa yang Anda bawa?
A. Sebuah boneka tangan
B. Sebuah boneka hewan lembut
C. Satu set puzzle kayu besar
D. Sekotak krayon untuk mewarnai

2. Pada suatu hari, sepulang bermain di taman bermain, anak Anda menangis meraung-raung dan mengadu bahwa ia dipukul temannya. Apa reaksi Anda?
A. Anda memberi dukungan kepada si kecil dengan mengatakan, “Jika ada yang merebut mainan ini dari kamu, kamu harus melindungi dirimu sendiri.”
B. Anda berkata dengan gusar, “Tunjukkan pada Ibu, mana anak yang memukulmu!”
C. Anda bertanya dengan hati-hati kepada si kecil, “Apakah kamu melakukan sesuatu pada anak itu sehingga ia memukul kamu?”
D. Anda berbisik dengan lembut, “Kamu tahu tidak… kita bisa bermain petak umpet bersama dan kita kembalikan mainan ini, yuk!”

3. Seandainya Anda seorang penulis buku cerita anak dan sedang diwawancarai wartawan, apa jawaban Anda ketika ditanya, “Buku apa yang akan Anda tulis selanjutnya?”
A. Bino Masuk Taman Kanak-kanak , sebuah cerita anak tentang bocah laki-laki yang akhirnya memperoleh banyak teman setelah melalui masa awal yang sulit.
B. Tina dan Kucingnya , cerita tentang seorang gadis yang sedih karena kucingnya pergi dan tak kembali. Semua temannya turut mencari kucing yang hilang.
C . ABC, puisi berima atau cerita pendek untuk menjelaskan alfabet.
D. Hewan-hewan di Laut , sebuah buku bergambar dengan ilustrasi yang menarik dan berwarna-warni indah.

4. Dalam kasus atau urusan apa Anda paling kesal pada suami Anda?
A. Pada saat ia memanjakan si kecil tanpa batas dan membantu menyelesaikan semua masalah yang dihadapinya.
B. Pada saat ia tak mau memeluk atau mencium si kecil, hanya agar anak Anda tak menjadi terlalu manja atau terlalu lembut.
C. Pada saat ia bercerita tentang keberhasilannya dalam menyontek pelajaran sekolah saat masih kecil.
D. Pada saat ia menuntut si kecil bersikap sedemikian bijaksana seperti halnya orang dewasa.

5. Anda sedang menunggui si kecil di TK bersama ibu teman-teman sekelasnya. Tipe ibu yang bagaimana yang membuat Anda kesal?
A. Ibu yang selalu mengambil alih semua tugas anaknya dan membawakan semua keperluan anak.
B. Ibu yang hanya berpikir tentang dirinya sendiri, mengabaikan anak dan kebutuhannya.
C. Ibu yang berpendapat, anaknya yang paling menonjol dan paling hebat di antara teman-temannya.
D. Ibu yang membesarkan anak dengan berbagai aturan secara keras dan ketat.

6. Terlepas dari bakat dan kondisi anak Anda saat ini, menurut Anda si kecil lebih cocok berprofesi sebagai…
A. Pengacara
B. Dokter atau psikolog
C. Ahli kelautan atau arkeolog
D. Seniman atau disainer

7. Menurut Anda, cabang olahraga apa yang terbaik untuk putra Anda?
A. Cabang olahraga atletik ringan
B. Tenis
C. Bola voli
D. Sepak bola

8. Bagaimana sahabat Anda memuji Anda sebagai pribadi?
A. Anda adalah pribadi yang terbuka dan jujur.
B. Anda dapat berbaur dengan mudah dalam lingkungan dan mudah menerima kekurangan orang lain.
C. Orang lain dapat mengandalkan diri Anda seratus persen.
D. Dengan saya, hari-hari tidak pernah membosankan.

9. Anak Anda masuk TK hari pertama. Guru seperti apa yang Anda bayangkan akan diperoleh si kecil?
A. Seorang guru yang sangat memberikan keyakinan bahwa si kecil bisa mengerjakan tugas-tugas, yang menguatkan rasa percaya diri anak.
B. Seorang guru yang sangat penyayang, perhatian dan pelindung.
C.Seorang guru yang sadar akan tugas yang harus dilakukannya dalam kelas dan sesekali mendampingi anak untuk mengajarkan sesuatu.
D. Seorang guru yang menstimulasi anak didik dengan berbagai bahan dan
alat peraga secara menarik, melalui kegiatan bermain.

10. Apabila Anda berkesempatan menitipkan si kecil pada orang yang Anda percaya, bagaimana Anda menggunakan kesempatan itu bersama suami?
A. Pergi bersama suami ke sebuah pesta dan benar-benar menikmati
suasana yang berlangsung, makanan, dan tertawa bersama teman lama.
B. Berkencan bersama suami dan menghabiskan waktu untuk
berbincang-bicang mengenai berbagai hal menarik dan romantis.
C. Pergi bersama suami ke sebuah konser musik atau pertunjukan
teater atau menonton film menarik di bioskop.
D. Keluar rumah bersama suami, sekadar berjalan-jalan ke
tempat-tempat yang indah dan menarik.
JAWABAN :
Tipe A: Ibu Powerful
Jawaban lebih banyak A , Anda masuk dalam tipe ibu powerful. Tak dapat dipungkiri, Anda adalah ibu yang kuat. Selalu berkata-kata tegas dan yakin tentang apa yang Anda inginkan dan apa yang tak berkenan. Anda hampir selalu diminta mengorganisasikan kegiatan bersama di TK atau di antara ibu-ibu teman si kecil yang baru bisa merangkak. Sebab, Anda adalah orang yang paling dapat Anda andalkan.

Tipe ibu seperti ini cenderung menempatkan kekuatan sebagai sesuatu yang penting dalam membesarkan anak. Anda berusaha mengajarkan berbagai keterampilan agar si kecil dapat mengatasi masalah dan tak menjadi lemah ketika menghadapi kesulitan. Tak mustahil, sejak dini, Anda akan mengajak si kecil berenang agar ia terampil sejak dini. Dengan dukungan yang Anda berikan, Anda hendak membesarkan anak yang memiliki pribadi kuat, yakin pada diri sendiri dan berani.

Meskipun Anda tak punya kesulitan menghadapi berbagai dilema dan kesulitan, tetapi tetap saja Anda memiliki kelemahan. Anda sulit menerima kelemahan anak Anda. Anda memberi reaksi berlebihan jika menemukan anak Anda pemalu atau si kecil tak berani bertindak saat mainannya direbut. Padahal, pada situasi seperti ini anak membutuhkan pengertian Anda. Berusahalah untuk memberikan si kecil kebebasan untuk membuat keputusan, “setuju” atau “tidak setuju” terhadap sesuatu. Dengan demikian Anda membantu anak membangun keyakinan diri yang sejati.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tipe B: Ibu Pelindung
Jawaban lebih banyak B, Anda bertipe pelindung. Anda adalah ibu yang penuh cinta, hangat dan tak ragu memperlihatkan kasih sayangnya pada keluarga. Anda ibu yang penolong, penuh empati dan merasa bersalah apabila Anda tak dapat memenuhi permintaan bantuan orang lain. Anda juga pendengar sekaligus pemberi saran yang baik. Anda ibu yang peka dan selalu tahu bila anak membutuhkan Anda, sehingga Anda selalu ada untuk anak-anak di saat yang tepat: mengantar si kecil bersama teman-teman di TK ke Kebon Binatang atau menjadi wakil orang dan wali murid saat tak ada orang tua yang mau mencalonkan diri. Anda selalu mau menerima tugas-tugas orang tua tanpa mengeluh.

Tentu saja Anda akan mengutamakan keterampilan bersosialisasi sebagai sesuatu yang penting bagi anak. Anda selalu berhasil membujuk atau menenangkan si kecil yang sedang sedih. Meskipun Anda cenderung mengutamakan ketentraman dan lebih memilih untuk menghindari perselisihan, Anda juga bisa berubah secara tiba-tiba. Anda bisa menjadi singa betina yang galak saat ada yang hendak mengusik buah hati Anda.

Sejauh ini mungkin semuanya baik-baik saja. Hanya saja, cobalah Anda tidak selalu sekonyong-konyong memberikan uluran tangan pelindung pada anak. Tak perlu Anda mengurus semua kebutuhannya sampai ke hal-hal kecil. Tunggulah sejenak, sampai anak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Anak Anda sebenarnya lebih kuat dari yang Anda kira, lho.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Tipe C: Ibu Penuh Target

Anda ibu penuh target jika Jawaban Anda lebih banyak C . Apa saja yang Anda lakukan, biasanya, berakhir dengan sebuah sukses. Bukan karena keberhasilan itu senantiasa singgah pada Anda, tetapi semua yang dilakukan memang didasarkan pada usaha dan Anda pantas menerimanya. Kesuksesan Anda adalah kombinasi dari totalitas dan disiplin. Anda memiliki ambisi yang sehat, karena selalu yakin, apabila ingin mencapai hasil terbaik, Anda harus berusaha.

Tak heran, jika Anda tak hanya muncul sebagai wanita yang berhasil, namun Anda juga berhasil dalam beberapa pencapaian dalam urusan anak. Anda selalu berhasil mengatasi masalah anak, karena selalu mencari informasi terbaru dari berbagai sumber. Dengan begitu Anda tahu persis si kecil kini berada di tahapan apa. Anda tak hanya melatih si kecil menjadi anak yang selalu bersabar, berjiwa seni dan juga selalu rajin, Anda pun konsekuen. Anda adalah ibu yang juga menjadi teladan anak-anak.

Meskipun demikian, Anda harus hati-hati. Jangan hanya mengukur anak atau melihatnya dari satu sisi. Jangan terlalu berpegang pada apa yang diuraikan dalam buku-buku dan sumber informasi lain. Setiap anak adalah unik, sehingga anak memiliki ritme tahapan perkembangan dan pertumbuhan masing-masing. Yang perlu Anda lakukan sebagai orang tua adalah improvisasi. Cobalah untuk tidak senantiasa menuntut anak mencapai target-target yang selama ini Anda pahami secara teoritis. Jangan lupa pula untuk senantiasa memberi sentuhan kehangat pada anak, dan membebaskannya dari tekanan untuk selalu mencapai target-target Anda.
------------------------------------------------------------------------------------------
Tipe D: Ibu Kreatif

Jawaban Anda lebih banyak D , Anda ibu kreatif. Jika Anda tak terlalu suka menjalani hanya satu pola piker dan lebih suka belajar sambil menjalani tugas sebagai orang tua, bisa dipastikan Anda tipe ibu kreatif. Rutinitas bagi Anda juga menjadi musuh utama. Yang Anda cari adalah spontanitas. Anda kerap memanfaatkan kelebihan Anda dalam menjalani seni menjadi orang tua dengan banyak aktivitas, permainan dan ide-ide menarik.

Fantasi dan kreativitas Anda memperkaya si kecil. Anda mendidik dan mengajarkan nilai-nilai dengan cara-cara yang tak terpikirkan dan menyenangkan. Cara Anda mengatasi masalah dan menghadapi anak selalu berubah-ubah dari hari ke hari. Anda sangat menikmati kegiatan orang tua menghias ruang kelas TK si kecil dengan berbagai pernik menarik, juga membuatkan kostum khusus untuk karnaval anak-anak.

Anda memiliki hubungan pertemanan yang baik dengan si buah hati. Namun, tampaknya, menjadi orang tua yang terlalu longgar juga kurang menguntungkan untuk perkembangan anak. Anak membutuhkan rutinitas dan ritual agar menjadi pribadi yang disiplin, mampu mengikuti aturan main dan memiliki komitmen. Tentu saja, kreativitas dibutuhkan di rumah bersama anak. Terlalu longgar menghadapi si kecil membuat hidup menjadi penuh warna, sekaligus membingungkan. Mendidik anak butuh keseimbangan antara spontanitas dan ritual.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Tipe E: Ibu Kombinasi

Jika jawaban Anda tidak merupakan dominasi dari salah satu A, B, C atau D melainkan berimbang misalnya, A dan B dan seterusnya, Anda tak mewakili satu tipe tertentu, melainkan memiliki beberapa ciri dari dua tipe atau lebih yang telah disebutkan. Anda adalah pribadi yang memiliki banyak sisi: sisi yang kuat, penuh kasih, spontan tapi terkadang juga sangat berpedoman pada teori dalam membesarkan anak. Pada dasarnya, sangat menguntungkan jika Anda memiliki banyak sisi dalam kehidupan menjadi ibu. Anak Anda terhindar dari kebosanan akibat rutinitas tetapi juga sangat tahu aturan main.

Untuk lebih mengetahui kecenderungan tipe yang menggambarkan diri Anda, Anda mungkin dapat menghitungkan kembali jumlah terbanyak dari jawaban A, B, C, atau D. Kemudian Anda akan dapat menyingkap kelebihan serta kelemahan Anda yang sedikit perlu diperbaiki. Perhatikan nilai-nilai plus yang Anda miliki tanpa mengabaikan sisi yang sedikit kurang untuk dievaluasi.
Sumber : Ayah Bunda
posted by Thya_Salsabila @ 8:38 PM
2 Comments:
• At 9:56 PM, putri said…
Setelah milih... jwban saya kebanyakan A dan D. Pengin tahu lebih jauh analisisnya.. kalau si anak dah lbh besar, bisa dibaca dimana ya kira2?

Salam kenal...

• At 5:37 AM, Mama & Key said…
Makasih ya mbak,wawasan saya sebagai ibu jadi bertambah dengan tulisan ini.Oh ya lam kenal :)













beina-prafantya




Perasaan, Pemikiran, Gagasan, Apa Pun tentang Aku
February 22, 2008
Siapkah Saya?
Filed under: Serius — beina-prafantya @ 6:06 am
SIAPKAH SAYA MENJADI SEORANG GURU?

Oleh: Beina Prafantya, S.S.


Ketika hati kecil saya kembali mempertanyakan, “Apakah saya siap menjadi seorang guru?”, keraguan pun kembali menerobos pikiran saya. Aneh, tapi memang begitulah kenyataannya. Saya kembali meneropong peristiwa lampau ketika saya baru saja menjadi seorang sarjana segar yang kebingungan dengan macam kerja apa yang akan menjadi nasib saya kelak. Berbagai kemungkinan datang silih berganti di benak saya: menjadi editor buku atau majalah, menjadi pengajar internasional (maksudnya mengajar di luar negara kita tercinta ini, hal yang menjadi cita-cita terbesar saya), dan terakhir, menjadi pengajar lokal alias mengajar di sekolah formal. Jangankan pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, menjadi management trainee, menjadi tenaga administrasi atau tata usaha, bahkan menjadi tenaga pemasaran pernah terbersit di kepala saya sehingga saya mengajukan lamaran kerja ke instansi, lembaga, atau perusahaan tersebut. Ketika itu, cuma satu yang ada di pikiran saya: yang penting kerja! Menganggur adalah sebuah hal yang sangat saya benci. Hal itulah yang membuat saya berpikir bahwa pekerjaan apapun asalkan halal akan saya jalani jika memang nasib sudah berpihak. Karena memang Allah Swt. sudah merencanakan hidup saya, semua lamaran saya tidak bersambut kecuali lamaran-lamaran yang tertuju ke institusi pendidikan. Ya, akhirnya saya menjadi guru.


Teaching is a work of heart.
Kalimat itu saya dapatkan dari sebuah pelatihan dasar untuk menjadi guru sejati (baca: profesional). Hal itulah sesungguhnya yang menjadikan pekerjaan guru adalah pekerjaan berat. Ketika mengajar, pikiran (kognisi), hati (afeksi), dan tingkah laku (psikomotor), harus benar-benar sejalan. Luar biasa! Mungkin itulah pula sebabnya Bloom mengatakan dalam taksonominya bahwa pembelajaran harus melibatkan tiga aspek: kognisi, afeksi, dan psikomotor. Tidak hanya siswa yang harus mencapai tiga aspek tadi, tetapi guru sebagai pengemban tugas pendidikan juga harus melibatkan tiga aspek tadi.


Dalam pandangan saya, melibatkan pikiran, hati, dan tingkah laku secara tepat dan selaras ketika mengajar merupakan percontohan bagi siswa sebagai objek didik. Mereka secara sadar atau tidak sadar melihat, mendengar, merasakan, menyerap, sampai akhirnya melakukan hal yang paling tidak hampir sama dengan tujuan pembelajaran. Yang sulit adalah mencari perimbangan antara hati dan pikiran. Ketika pikiran logis yang berperan, biasanya emosi menjadi kaku. Ketika emosi yang dikedepankan, pikiran logis tiba-tiba tersembunyi. Belum lagi menentukan tingkah laku yang tepat setelah hati dan pikiran seimbang. Benar adanya bahwa setiap aspek menjadi hal penting dalam pembelajaran.


Kebanyakan orang berpikir bahwa yang penting dalam pembelajaran adalah keberhasilan pendidikan yakni ketika siswa mampu menyelesaikan studinya dengan nilai tertinggi. Saya ingin mengutip teori Jerome Bruner yang saya peroleh dalam program Akta Mengajar IV bahwa pembelajaran dapat dikatakan berhasil jika terjadi transfer. Namun, jika memang teori itu harus dijadikan pegangan, janganlah lupa bahwa teori lain – di antaranya teori R.M. Gagne – mengatakan bahwa pembelajaran dikatakan berhasil jika telah terjadi perubahan tingkah laku secara tepat dan permanen. Tingkat teori Gagne nampak lebih tinggi karena memandang ilmu sebagai kebutuhan untuk melangsungkan kehidupan nyata secara benar dengan ilmu pengetahuan yang didapat melalui pembelajaran (transfer) tadi.


Terlepas dari berbagai teori pendidikan, segala kenyataan di lapangan begitu kuat menciutkan diri saya sebagai seorang tenaga pendidik. Kesulitan demi kesulitan melemahkan keyakinan saya tentang keberhasilan pendidikan. Dalam hal ini, kreativitas saya sebagai seorang guru benar-benar dipertanyakan. Kompetensi saya benar-benar diuji. Di mana letak loyalitas saya sebagai seorang guru profesional?


Sempat saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Chaedar Alwasilah tentang kompetensi seorang guru di sebuahsurat
kabar. Artikel tersebut membuat saya semakin “melek” akan “ketidakmelekan” saya terhadap dunia pendidikan. Ditambah lagi pernyataan-pernyataan dari buku Menjadi Guru Profesional yang ditulis oleh Uzer Usman yang membuat jantung saya makin dag-dig-dug. Makin saya dalami tulisan tersebut, makin saya merasakan bahwa peran saya dalam pendidikan belum termaknakan. Setidaknya beberapa hal harus menjadi pertimbangan saya (lagi) sebagai langkah berikutnya ketika benar-benar ajeg (baca: telanjur) untuk memutuskan menjadi seorang guru.


Kira-kira, pernyataan tentang seorang guru yang membekas di kepala saya saya rangkum menjadi beberapa hal berikut.

(1) paling tidak memiliki kapasitas ilmu yang cukup sesuai dengan latar belakang pendidikannya, juga memiliki pengetahuan yang cukup tentang pendidikan dan keguruan,

(2) memiliki keinginan dan kemampuan untuk menyampaikan ilmu dengan berbagai strategi serta metode yang tepat,

(3) memiliki kemahiran berbicara dan menulis yang baik sehingga dapat meyakinkan peserta didik,

(4) memiliki kemauan dan kemahiran membuat perencanaan pembelajaran yang kreatif,

(5) memiliki kemampuan manajerial yang baik,

(6) peka dengan perubahan lingkungan dan percepatan perubahan ilmu pengetahuan,

(7) memiliki keinginan dan membiasakan diri untuk meningkatkan kualitas diri,

(8) memiliki kemampuan mengevaluasi,

(9) memiliki kemampuan negosiasi dan diplomasi,

(10) memiliki optimisme terhadap perubahan tingkah laku perserta didik.


Kesepuluh hal tersebut baru beberapa dari banyak hal yang sebenarnya harus dimiliki seorang guru. Saya semakin bingung ketika menemukan kenyataan bahwa banyak pihak termasuk saya masih mengabaikan aspek-aspek penting yang seharusnya menjadi paket dalam diri seorang guru.


Fenomena Sertifikasi Guru


Sebelumnya, di negeri kita terdapat sekolah khusus untuk pendidikan guru yang disebut SPG. Menurut cerita, betapa ketatnya sistem perekrutan calon siswa SPG sehingga selanjutnya guru-guru produk SPG benar-benar berkualitas. Namun, terdengar cerita juga bahwa kemudian kualitas SPG semakin menurun karena keketatan sistem yang melonggar. Guru bukan lagi menjadi primadona karir, tetapi menjadi alternatif (bahkan terakhir) sehingga akhirnya SPG ditutup karena dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.


Kemudian, pemerintah memutuskan bahwa untuk menjadi guru dibutuhkan Akta Mengajar IV. Akta tersebut awalnya hanya bisa dimiliki oleh para lulusan ilmu kependidikan atau IKIP (sekarang sudah menjadi universitas). Namun, selang beberapa waktu akta tersebut bisa juga dimiliki seorang lulusan non-kependidikan alias ilmu murni dari berbagai perguruan tinggi dengan syarat dia harus mengikuti perkuliahan khusus kependidikan paling tidak selama enam bulan.


Banyak lulusan ilmu murni yang mengikuti program ini termasuk saya dengan berbagai motivasi.Ada
beberapa orang yang benar-benar idealis untuk menjadi seorang guru. Mereka merasa diri terpanggil menjadi guru sejati. Seketika setelah lulus mereka memutuskan untuk mendalami ilmu pendidikan.Ada
beberapa orang yang mengikuti program akta mengajar untuk menjadi guru pegawai negeri.Ada
yang merasa telanjur basah menjadi guru padahal bukan lulusan kependidikan.Ada
beberapa orang yang terpaksa mengikuti karena dipaksa institusi. Bahkan, ada pula yang mengikuti untuk mengisi waktu luangnya daripada menganggur tak karuan.


Sekalipun pernah bercita-cita menjadi guru sejak SMP, saya sendiri merasa berada dalam ketelanjuran. Semuanya serba tanggung setelah saya menjalani beberapa tahun menjadi guru. Tadinya, saya berpikir jam terbang saja cukup. Ternyata tidak! Pikiran saya sangat buta terhadap ilmu pendidikan. Selain itu, saya juga pernah merasa tersentil karena kredibilitas keguruan saya pernah dipertanyakan melalui simbol selembar kertas: Akta Mengajar IV. Semua hanya terbatas pada itu saja. Padahal, dalam program tersebut semua peserta diajak untuk membuka cakrawala yang sangat luas tentang pendidikan. Semua itu tidak ditemukan dalam perkuliahan ilmu murni. Sungguh mengherankan jika program ini dianggap sebelah mata.


Kini, pemerintah memang berkeputusan lagi bahwa guru haruslah memiliki sertifikat. Untuk memeroleh sertifikat ini pemerintah masih dalam tahap sosialisasi yang secara teknis saya sendiri tidak memahaminya. Apapun bentuknya: Akta IV, sertifikasi guru, atau apapun, alangkah indahnya dunia pendidikan jika semua orang tenaga kependidikan memiliki sebagian besar aspek dalam paket keguruan di atas. Alangkah mendekati sempurna jika dunia pendidikan kita dihuni oleh orang-orang yang benar-benar sadar bahwa dunia pendidikan bukanlah alternatif terakhir dunia karir.


Tanpa bermaksud bergibah, saya ingin membagi cerita tentang pengalaman saya belajar di program Akta Mengajar IV. Ketika kami tiba pada waktu micro-teaching, semua peserta diharuskan tampil sekitar sepuluh menit sebagai ajang uji coba mengajar. Setiap orang tampil dengangaya
masing-masing, termasuk saya. Tampillah seorang rekan sekelas saya. Setelah beberapa menit pertama, tak satu kata pun keluar dari mulutnya. Kami berpikir bahwa beliau sedang melucu karena dalam kesehariannya, beliau termasuk orang yang kocak dan iseng. Namun, beberapa menit kemudian kami tersadar bahwa beliau benar-benar tak mampu melakukan micro-teaching, mungkin karena demam panggung. Semua teman berusaha menyemangati dan meyakinkan bahwa beliau bisa. Namun, harapan itu tidak terwujud. Beliau tetap dalam kebisuannya sampai akhirnya dosen kami mempersilakan beliau untuk duduk kembali. Semua orang membicarakannya, sungguh hal ini sangat membuat kami sedih dan cemas. Bagaimana jika kami pun demikian di hadapan siswa. Sanggupkah kami menjadi guru yang profesional?


Akhirnya, saya semakin yakin bahwa menjadi guru memang bukanlah hal mudah. Begitu banyak hal melingkupinya. Semuanya harus dimaknai secara penuh, bukan hanya dijadikan formalitas. Sungguh berat! Sekali lagi, siapkah saya?


Bandung
, 27 Januari 2008

Pukul 20.20

Comments (0)
Tentang Wafatnya Soeharto
Filed under: Serius — beina-prafantya @ 5:59 am
SEBERAPA ARIF KITA MENYIKAPI WAFATNYA SOEHARTO?

Oleh: Beina Prafantya



Soeharto dikenal dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai pribadi sekaligus mantan orang kuat di Indonesia. Sebagai mantan presiden, masyarakat memiliki pandangan dan kesan yang beragam. Bagi masyarakatIndonesia
yang sempat berada di bawah kepemimpinan beliau, begitu terasa pengaruh kuat beliau baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Saya tidak akan membahas sebagaimana kuatnya pengaruh beliau. Saya juga tidak akan merunut sejarah kepemimpinan beliau di negeri kita tercinta ini karena itu akan menghabiskan waktu selama tiga puluh dua tahun, bahkan lebih! Apalagi, saya bukanlah politisi atau sejarawan.


Yang pasti, begitu ramai orang mempertanyakan kapankah mantan Presiden ke-2 RI itu akan wafat sejak kondisi kesehatan beliau dikabarkan semakin memburuk. Pers begitu santer mencari berita, hingga berita sekecil dan sesederhana apapun, penting ataupun tidak penting asal berkaitan dengan sakitnya Soeharto, pasti menjadi nilai jual yang cukup mahal. Tak dipungkiri bahwa banyak orang secara sadar ataupun tidak menjadi sangat peduli dengan perubahan per detik berkaitan dengan hal itu.


Beberapa siswa di sekolah tempat saya mengajar bahkan sempat bertanya tentang kematian Soeharto. Saya geram mendengar pertanyaan mereka karena saya membaca nada ketidakbijakan. Yang mengherankan saya adalah bahwa mereka adalah remaja yang saya yakin seratus persen belum sadar betul akan kualitas kepemimpinan Soeharto karena saya tahu kebanyakan mereka terlahir beberapa tahun sebelum Soeharto lengser dari kepemimpinan beliau.


Saya sedang berada dalam sebuah toko pakaian di Jalan Aceh ketika berita tentang wafatnya Soeharto disampaikan oleh orang yang melayani kami. Senyum tidak jelas muncul dari bibir kawan-kawan saya, entah senyum senang, entah senyum sedih, entah senyum tidak percaya, entah senyum penasaran, entah senyum puas. Sebuah SMS dari HP seorang kawan saya pun memastikan berita kematian tersebut. Saya baru betul-betul yakin dengan berita tersebut ketika menyaksikan sebuah stasiun televisi swasta menayangkan keadaan di sekitar Jalan Cendana Jakarta. Benar adanya bahwa Soeharto sungguh-sungguh wafat. Innalillahi wa innalillahi rojiun ….


Tanpa bermaksud ikut-ikutan menghujat Soeharto, sebenarnya mungkin saja Soeharto memang pernah membuat kesalahan-demi kesalahan dalam menentukan langkah politiknya, mungkin saja beliau sebagai manusia pernah khilaf, silau karena jabatan dan kekayaan. Saya pikir, itu manusiawi. Toh, kita tidak tahu pasti, bisa saja beliau telah melakukan tobat sebenar-benarnya tobat (tobat nasuha). Yang tahu semuanya hanya Allah Swt. yang Maha Pengampun, yang Maha Berhak atas segala keputusan yang ada di langit dan bumi ini. Mungkin perasaan kasihan sebagai seorang manusia saja yang muncul dari nurani saya ketika kita lebih banyak memojokkan beliau. Kita saling meng-isme-i, kesalahan-kesalahan Soeharto dikuakkan selebar-lebarnya seolah beliau tidak punya sisi baik dalam dirinya. Halodo sataun lantis ku hujan sapoé ‘kemarau setahun hilang karena hujan sehari’. Kebaikan yang begitu luas telah sirna oleh guyuran kesalahan!


Saya berpikir lagi, apa pengaruhnya kematian beliau bagi kita? Toh keadaan negeri kita akan tetap seperti ini karena memang sudah seperti ini. Apakah dengan kematian Soeharto negara kita akan menjadi aman sehingga banyak orang begitu mengharapkannya? Atau sebaliknyakah yang akan terjadi, dengan kematian beliau negara kita akan semakin carut-marut? Tidak! Sesungguhnya Allah Swt. tidak akan pernah mengubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang mengubahnya (QS


Senja hari pasca-kematian Soeharto saya kembali menyaksikan tayangan televisi. Beberapa saluran menyiarkan berita yang mirip. Kemudian saya menyaksikan siaran langsung wawancara tim dokter yang menangani Soeharto. Telinga saya menangkap bahwa sang pembawa acara menganggap seolah tim dokter tersebut serba-tahu setiap mili kesehatan tubuh Soeharto, beserta perubahan kondisi kesehatannya sepersekian detik sejak masuk rumah sakit hingga menjelang wafat. Padahal, jika kita kembali ke yang sebenarnya, Allah dengan kuasa-Nya memang sudah menentukan waktu wafatnya mantan Presiden ke-2 RI tersebut hari Minggu, 27 Januari 2007, pukul 13.10 WIB! Mengapa kita ribut memikirkan sebab-musababnya?


Mungkin memang sangat sederhana bagi saya untuk berteori. Namun, apa tidak sebaiknya kita berpikir lebih bijak? Apakah tidak sebaiknya kita membuat langkah nyata untuk melakukan sesuatu yang lebih bernilai manfaat dibanding yang mudarat? Nampaknya, membicarakan orang yang sudah meninggal tidaklah menjadi nilai manfaat untuk kita sekalipun sejarah tetap mencatat apa yang pernah dilakukan oleh seseorang semasa hidupnya, apalagi orang kuat seperti Soeharto. Sebaliknya, menjadikan peristiwa ini sebagai cermin diri akan menjadikan nilai manfaat bagi kita. Melihat sisi baik Soeharto (yang sebenarnya sangat banyak) dan menjadikannya sebagai teladan akan sangat mendewasakan kita. Menyorot sisi kelam beliau untuk dijadikan perenungan akan sangat mematangkan kita. Tidakkah bisa kita menempatkan diri sebagai beliau? Setidaknya, maukah kita membayangkan seandainya kematian kita begitu diharapkan banyak orang? Alangkah sengsaranya hidup kita ketika hidup dan setelahnya.


Yang saya dengar dari orang bijak adalah bahwa bukanlah hak kita untuk menilai apa yang dilakukan seseorang di masa lalu, termasuk Soeharto. Yang lebih penting adalah waspada karena kemungkinan kita belum lebih baik daripada beliau. Sesungguhnya semua ini bermuara pada diri kita, sebagaimana arif kita menyikapi berita kematian Soeharto.


Bandung
, 27 Januari 2007

Pukul 21.43

Comments (0)






Menjadi Guru: yang Mau dan Mampu Mengajar dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual
Dec 18, '08 5:40 PM
for everyone
Category: Books
Genre: Reference
Author: Hernowo
Judul Buku : Menjadi Guru: yang Mau dan Mampu Mengajar dengan
Menggunakan Pendekatan Kontekstual
Penulis : Hernowo
Penerbit : MLC (Mizan Learning Center)
Cetakan I : Agustus 2005
Tebal buku : 120 halaman
Peresensi : Lutfi Fadila

Sistem pembelajaran sekolah di Indonesia sejak dulu selalu menekankan pada intelektual semata—yang menurut Bobbi DePorter, pengarang buku Quantum Learning, hanya mengembangkan fungsi otak sebelah kiri saja. Sedangkan fungsi otak sebelah kanan yang membawahi kecerdasan emosional dan kreativitas dibiarkan tertekan tidak berkembang. Padahal otak menusia juga perlu diseimbangkan dengan memfungsikan kedua belah otak kiri dan kanan. Sehingga seorang siswa tidak hanya pandai secara intelektual tetapi juga sosial dan emosional.
Pembelajaran yang berorientasi pada intelektual belaka menjadikan penilaian guru terhadap siswanya hanya pada hasil semata. Sedangkan proses pemelajaran dan pemahaman siswa tidak diperhitungkan. Orientasi terhadap hasil tersebut akhirnya hanya akan mengajarkan kepada siswa untuk melakukan segala cara agar mendapat hasil akhir (baca: rapor) yang memuaskan. Seperti kebiasaan siswa yang tetap tumbuh subur sampai sekarang; menyontek.
Sejak diperkenalkannya Quantum Learning, Quantum Teaching dan dilanjutkan buku-buku impor sejenis hasil karya pendidik-pendidik yang peduli dengan kegiatan belajar mengajar yang efektif, sistem pengajaran di Indonesia sedikit demi sedikit turut memperbaiki diri. Sekarang pemerintah tengah mengefektifkan sistem KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Menurut Hernowo, pendidik serta pembangkit motivasi membaca dan menulis, sistem KBK tersebut telah mengimbangi sistem pemelajaran yang selama ini mengacu pada knowledge saja dengan mengembangkan aspek kognitif yang sebanding linear dengan aspek psikomotorik dan afektif.
Di dalam ruang kelas yang menggunakan sistem KBK, para pengajar diharapkan menciptakan suasana belajar mengajar yang kondusif bagi siswa untuk menyerap materi pelajaran. Menghias ruang kelas dengan gambar-gambar menarik atau moto-moto pembangkit semangat dapat membantu siswa menghilangkan perasaan tertekan selama duduk seharian menerima pelajaran.
Dalam buku Menjadi Guru: yang Mau dan Mampu Mengajar dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual ini, Hernowo mencoba menjabarkan cara mengajar dengan pendekatan kontekstual sehingga kegiatan belajar mengajar dapat lebih efektif. Caranya adalah dengan menciptakan lingkungan tempat belajar yang alami. Belajar akan lebih bermakna jika siswa ‘mengalami’ apa yang dipelajarinya, bukan sekedar ‘mengetahui’ apa yang dipelajarinya. Konsep belajar seperti itu sering dikenal dengan CTL (Contextual Teaching and Learning).
Dalam pendekatan kontekstual, para siswa didorong untuk mengaitkan materi yang telah dipelajarinya di sekolah dengan kehidupannya di lingkungan masyarakat. Disini guru harus pandai-padai berperan sebagai jembatan antar dunia teoretis dengan dunia nyata. Dalam mengajarkan mata pelajarannya, seorang pengajar dapat menghadirkan seorang tokoh sukses di bidang tersebut. Ada banyak manfaat yang didapat dalam mempelajari tokoh-tokoh masyur. Yang pertama, kita dapat membawa manfaat mata pelajaran tersebut bagi masa depan siswa. Selanjutnya, kita juga dapat belajar tentang keteladanan, kesuksesan, serta rintangan melalui kacamata tokoh yang bersangkutan.
Misalnya dalam mengajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, tokoh-tokoh yang bisa dijadikan teladan bagi siswa untuk menyukai mata pelajaran tersebut adalah Putu Wijaya, Rendra, Hilman ‘Lupus’, Helvy Tiana Rosa, Taufiq Ismail, dan sederet sastrawan Indonesia lainnya. Biografi, poster dan karya tokoh-tokoh diatas dapat dijadikan titik pijak bagaimana pelajaran Bahasa Indonesia yang sering dinilai sebelah mata telah menjadikan orang-orang diatas sukses dalam kancah dunia sastra (hal. 27).
Strategi pengajaran menggunakan pendekatan kontekstual ini bisa disamaartikan dengan pendidikan bergaya konstruktif. Jika dulu murid diibaratkan cangkir dan guru adalah teko yang menuangkan isinya ke cangkir, maka sekarang cangkir tersebut diubah menjadi tanaman. Maka ketika isi teko dituangkan ke arah tanaman, tanaman tersebut akan menyerap dan memanfaatkannya untuk tumbuh berkembang (hal 63).
Menurut penulis, ada satu kelemahan dalam KBK, yaitu pelibatan aspek afektif kurang maksimal. Penulis memasukkan opini Tony Buzan, penemu metode canggih mencatat, mind mapping, “Sebelum mengajarkan fakta di luar individu, penekanan pendidikan haruslah terlebih dahulu mengajarkan fakta dirinya—fakta tentang cara manusia belajar, berpikir, dan menyelesaikan masalah.”
Kurikulum pendidikan diri, masih menurut penulis, sebaiknya mengikuti konsep self-science temuan Daniel Goleman. Kurikulum Self-sience yang menekankan pada kecerdasan emosional tersebut meliputi pemelajaran tentang; kesadaran diri, pengambilan keputusan pribadi, mengelola perasaan, empati, komunikasi, membuka diri, pemahaman, menerima diri sendiri, tanggung jawab pribadi, ketegasan, dinamika kelompok, dan penyelesaian konflik.
Selain sebagai seorang pendidik, penulis adalah seorang instruktur sekaligus penulis yang menyampaikan materi dengan teknik-teknik terbaru belajar mengajar. Hernowo mengonsep pelatihan-pelatihan untuk membangkitkan potensi membaca dan menulis pada pijakan aspek psikologis dan neurologis. Dia yakin melalui kegiatan baca tulis ditinjau dari ilmu kejiwaan dan ilmu saraf otak, seseorang dapat merasakan manfaat yang tak terbatas.
Dengan berpegang pada konsep pemelajaran afektif, penulis juga menerapkan konsep pendekatan afektif pada pembacanya. Hal tersebut tampak pada kemasan tulisan dalam buku ini yang menarik dan enak dinikmati. Di setiap lembar-lembar genap, penulis menyisipkan ilustrasi menarik dan rangkuman singkat tentang penjabaran teori-teori pengajarannya.
Tampaknya buku ini merupakan kumpulan konsep-konsep pemelajaran efektif dari pelbagai pendidik terkemuka dunia, seperti Thomas Amstrong, Tony Buzan, Elaine Johnson, dan ahli-ahli di bidang pendidikan lainnya. Dengan rangkuman bernas tersebut, penulis mengajak pengajar-pengajar di tanah air untuk menerapkan metode pemelajaran yang efektif kepada siswanya. Sehingga siswa tidak memaksakan diri melakukan berbagai macam cara untuk mendapat hasil akhir yang sempurna tetapi lebih antusias pada proses belajar dan pemahamannya.
Tags: tutorial
Prev: Konflik, Aksi, dan Ketegangan: Meramu Kisah Dramatis Menuju Klimaks dalam Cerita
Next: Ulysses
reply share



audio reply video reply
Add a Comment



Add a comment to this review, for everyone

Send resensibukufpkm a personal message







How would you rate this book? (optional)


















Pujiastuti Sindhu: Menjadi Guru Sekaligus Murid Yoga
View: New views
1 Messages — Rating Filter: Alert me


Pujiastuti Sindhu: Menjadi Guru Sekaligus Murid Yoga

by red_conjurer Nov 12, 2007; 10:19pm :: Rate this Message: - Use ratings to moderate (?)
Reply | Reply to Author | Print | View Threaded | Show Only this Message
Pujiastuti Handayani Dewi Sindhu
Menjadi Guru Sekaligus Murid Yoga
BANYAK orang ikut yoga dengan tujuan olah raga dan membentuk tubuh.
Pujiastuti Sindhu (31) memilih yoga justru untuk mendapatkan unsur
spiritualnya. Postur tubuh indah hanya sebagai bonus. Yoga bukan saja
membuatnya mampu mengendalikan masalah pribadinya, juga membuatnya
semakin berempati kepada orang lain. Bonus lain, ia bisa lebih khusyuk
berhubungan dengan Sang Pencipta saat menjalankan ibadah salat lima
waktu.

Sebelum mengenal yoga, kisah hidup Ujie--demikian ia dipanggil-- bak
sinetron namun bukan untuk dipertontonkan. "Aku emosional, gampang
marah, dan mudah tertekan. Penyebabnya mungkin karena ada masalah
keluarga. Mungkin juga karena bawaanku yang begitu. Ditambah lagi tugas
kuliah bikin stres," kata Ujie, bercerita tentang masa-masa penuh
gejolak saat menjadi mahasiwa Seni Rupa Institut Teknologi Bandung
(ITB).

Tak sengaja ia menemukan sebuah buku bekas tentang yoga di bursa buku
Palasari Bandung. Buku tersebut menjadi magnet luar biasa, menarik kuat
ke dunia yang tadinya begitu asing baginya. Dengan tekun ia mempelajari
yoga dari buku impor tersebut. Walaupun petunjuk jelas, tetap ada
keterbatasan. Ujie memutuskan memperdalam ilmunya dengan berguru
langsung ke perguruan yoga di Bandung dan Jakarta, yaitu Murnianda
Brotherhood, Yayasan Ananda Marga Indonesia, dan Jawaharlal Nehru India
Cultural Centre. Ibarat candu, yoga membuatnya ketagihan. Negara India,
Malaysia, Singapura, Thailand, Hong Kong, dan Amerika adalah rute yang
dilaluinya untuk memenuhi hasratnya. Dari perguruan-perguruan
internasional tersebut, Ujie mendapat sertifikat profesional sebagai
seorang guru yoga.

"Kini aku lebih santai, pasrah, dan menikmati hidup apa adanya. Aku juga
merasa lebih bisa ikhlas, berhati lembut, dan mudah berempati pada orang
lain. Aku merasa bahagia menemukan yoga di hidupku," kata Ujie tentang
yoga yang mengubah hidupnya.

Dari segi fisik, Ujie mendapati yoga mampu melakukan terapi kesembuhan.
Tahun 1994, ia mengalami kecelakaan mobil di jalan tol Padaleunyi
Bandung. Tulang bahu kanannya patah dan posisi tulang panggul agak
terpuntir karena terbentur aspal. Kecelakaan itu menyebabkan pertumbuhan
bahunya terhambat, lebih pendek, kecil dan lemah. Berkat latihan yoga
teratur, kekuatan kedua bahunya kini kembali seimbang.

**

Menguasai yoga, menurut Ujie, membuat kita mampu menikmati setiap detik
dan setiap peristiwa yang dilalui. Dalam bahasa populer selalu enjoy.
Lewat kebiasan-kebiasaan yoga itu juga Ujie mampu lebih khusyuk saat
menjalankan kewajibannya selaku Muslim, salat lima waktu.

"Kuncinya sederhana. Nikmati semua yang kita lakukan. Mulai dari wudu
hingga melakukan gerakan-gerakan salat. Lakukan perlahan-lahan, jangan
membaca bacaan salat dengan tergesa-gesa. Rasanya akan nikmat sekali,"
katanya.

Mendapati yoga begitu berkhasiat, Ujie tidak ingin menikmatinya sendiri.
"Ilmu bagaikan pohon, tak akan berguna bagi orang lain jika buahnya
tidak kita bagikan. Pohon akan semakin bermanfaat jika semakin banyak
orang menikmati buahnya," kata Ujie dengan kearifan seorang guru yoga.

Selain itu Ujie meyakini sebuah kata mutiara "to teach is to become
a true learner". Dengan mengajar, Ujie mendapat manfaat timbal balik.
Dengan mengajar ia justru belajar lagi menjadi siswa yoga sejati. "Aku
tidak hanya sebagai pusat ilmu (guru), tetapi juga menerima banyak
pelajaran dari murid-murid. Tentang cara mengajar dengan lebih baik,
bagaimana menciptakan hubungan baik antara manusia, dan tentu saja
berusaha menjadi contoh baik," kata Ujie.

Bagaimana yoga bisa mengubah hidup dan menjaga kesehatan seseorang
secara bersamaan? Menurut Ujie sederhana sekali. Perempuan menarik ini
menganologikan tubuh sebagai kendaraan, sedangkan pikiran adalah
pengemudinya. Saat "mengemudikan" tubuh, pikiran terpengaruh oleh tiga
hal, yaitu emosi, akal, dan aksi. Agar tubuh tetap dapat beroperasi
dengan baik, ketiga hal tersebut harus dijaga seimbang. Dengan berlatih
yoga, seseorang bagaikan pemilik kendaraan yang mampu merawat dan
memperbaiki sendiri kendaraannya apabila terjadi kerusakan. Dengan
begitu kendaraan selalu berada dalam keadaan prima. Sementara
gerakan-gerakan teratur dan elastis yoga membuat tubuh otomatis langsung
memetik hasilnya, bugar dan proporsional

Umumnya murid Ujie yang berjumlah 200 orang datang kepadanya dengan
tujuan fisik. Ketika mendalaminya, bonus keseimbangan jiwa mereka
peroleh. Kalau dua hal ini sudah didapat, banyak muridnya merasa rugi
jika melewatkan waktu beryoga bersama sang guru. Tengok saja Swasti,
atlet menembak yang Sabtu siang lalu berlatih dengan tekun. Sebenarnya
pada saat bersamaan Swasti memiliki acara lain. Tetapi gadis ini memilih
tetap datang ke "Yoga Leaf Centre" untuk berlatih bersama Ujie.

Ya, sebagai nama pusat latihan yoga di kawasan Jalan Terusan Jakarta,
Ujie mengambil nama dari bagian pohon. Menurut pengagum pohon beserta
bagian-bagiannya ini, leaf atau daun adalah bagian alami dari bumi dan
merupakan bagian yang bernapas dari pohon. Praktik hatha-yoga (aliran
dalam yoga yang diambil Ujie) menekankan pentingnya bernapas dengan
benar. Napas adalah jembatan antara tubuh dan pikiran. Semakin dalam
napas, semakin tenang pikiran, akan semakin relaks tubuh. "Napas juga
akan mengantarkan energi atau prana yang akan menyehatkan sisi spiritual
kita, " kata Ujie. Ujie ingin "Yoga Leaf Centre" menjadi sebuah pohon
besar dengan daun rindang yang akan memberikan oksigen atau energi bagi
lingkungan di sekelilingnya.

**

Ketika kita sangat menikmati dan menginginkan sesuatu, selalu ada jalan
untuk mendapatkannya. Ujie telah membuktikannya. Secara menakjubkan,
Ujie berhasil menjelajah banyak negara karena kesenangannya ini. Jika
bukan lewat undangan, ada saja rezeki yang diperolehnya untuk menuju
ilmu yoga. Perempuan yang struggle karena pengalaman hidupnya ini biasa
menjelajah bagian dunia ini sendirian. Ia tak pernah takut sesuatu
menimpa dirinya di perjalanan. Baginya, jika melakukan sesuatu dengan
niat baik, hal baik pula yang akan diperoleh.

Pengalaman yang membuatnya bahagia adalah ketika ia berhasil belajar
langsung ke India, negara asal yoga. Di sana ia mendapat karma atas
perbuatan baiknya selama ini.

"Ibu-ibu di sana baik sekali kepada saya. Menurut mereka, kebaikan itu
saya peroleh karena saya baik kepada ibu saya," kata Ujie sambil
tertawa.

Selama ini Ujie memang tinggal bersama ibunya. Ujie, anak ke-4 dari 5
bersaudara ini tak tega melihat ibunya tinggal sendiri. Ujie rela
meninggalkan rumah pribadinya dan bergabung di rumah ibunya. Suaminya
sendiri tidak keberatan, terlebih karena selama beberapa tahun ini
mereka hidup terpisah. Sang suami seorang insinyur berkerja di
Palembang, Sumatra Selatan.

Melihat nama di belakang Ujie, sekilas orang menyangka ia berasal dari
India. Nama Sindhu diperolehnya dari suaminya yang orang Jawa Tengah
asli, lengkapnya B. Sindhu Asmoro (32). "Kebetulan nama suami rasanya
pas," ujar perempuan yang bernama asli Pujiastuti Handayani Dewi ini.
Ditambah seorang anak yang lucu bernama Aryadipa Yudhistira, dipanggil
Deepak (dari bahasa Sansekerta artinya cahaya) lengkap sudah kebahagiaan
batin perempuan bertahi lalat di dagu ini.

"Tantanganku saat ini adalah menyosialisasikan yoga yang selama ini
dikenal sebagai produk eksklusif," katanya mantap.

Yoga saat ini memang masih "beredar" di kalangan terbatas. Sebagian
orang bahkan menganggap sebagai lifestyle atau gaya hidup. Sebagian
orang lain menganggap yoga adalah agama.

"Padahal tidak. Yoga merupakan sistem kesehatan menyeluruh (holistik)
yang terbentuk dari kebudayaan India kuno sejak 3000 SM lalu. Intinya
melalui yoga seseorang akan lebih baik mengenal tubuhnya, pikiran, dan
jiwanya. Semakin mengenal seluruh aspek dirinya, semakin dekat pula ia
dengan sang penciptanya," ujar Ujie.

Ujie ingin semua lapisan masyarakat bisa merasakannya. Ketika ada biaya
yang harus dikeluarkan, menurut Ujie apa boleh buat karena adanya cost ,
di antaranya berupa tempat latihan yang harus dibayar. Untuk lebih
memasyarakatkan yoga, bersama komunitasnya Ujie rutin melakukan berbagai
kegiatan seperti "Yoga Goes to Campus" atau terlibat dalam
kegiatan-kegiatan sosial seperti menyantuni anak-anak jalanan saat bulan
Ramadan lalu.

Ia juga menulis buku Hidup Sehat dan Seimbang dengan Yoga. Bukunya ia
buat sedemikian rupa agar mudah dimengerti dan dapat ditiru pembaca.
Berawal dari buku bekas, Ujie meneruskannya juga melalui buku ber-cover
menarik. "Yoga bukan untuk orang dewasa, juga bisa untuk anak. Yoga
mampu meningkatkan konsentrasi anak, sebuah masalah yang sering
dikeluhkan orang tua tentang anaknya," kata Ujie yang juga sudah
mengajarkan yoga kepada Deepak, sang buah hati satu-satunya. (Uci
Anwar)***

Source:
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/11/geulis/binangkit.htm








>




































Okt
29th
Manfaat Waktu dalam Kehidupan Seorang Muslim
Files under | Posted by Akbar Muzakki
Bila diajukan satu pertanyaan kepada anda tentang salah satu nikmat yang sangat besar dan berharga dimana keberadaannya tidak bisa dinilai dengan materi dan kekayaan manusia, perjalanannya berlalu begitu cepat dan tidak terasa, dan tidak akan pernah terulang kembali seperti sedia kala ! Maka apakah jawaban anda tentang pertanyaan tersebut ?

Tentunya sebagai orang yang arif dan cerdas kita akan menjawab, itulah dia yang dinamakan denganwaktu, karena dia adalah kehidupan, apabila dia habis, maka habislah kehidupan tersebut. Berikut ini ada beberapa hal yang menjadikan pentingnya kita sebagai seorang muslim untuk menjaga waktu.

Hal-hal yang menjadikan pentingnya menjaga waktu antara lain:

1. Waktu adalah modal yang lebih berharga dari Harta
Sesungguhnya modal utama seorang muslim dalam hidup ini adalah waktu, karena di situlah kehidupan manusia. Dia lebih berharga dari harta bahkan lebih mahal nilainya dari harta. Hal ini dapat kita lihat bersama-sama ketika seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut, lalu dia meletakkan seluruh kekayaannya supaya dengan harta tersebut umurnya bisa bertambah satu hari, maka apakah yang dilakukannya tersebut mampu menambah umurnya ? Jawabannya tentulah tidak, karena ajal telah ditentukan. Pada saat itu harta tidak lagi berguna, sehingga barulah kita menyadari betapa pentingnya waktu tersebut ketika sakratul maut telah menjemput.

Semboyan orang-orang barat yang mengatakan waktu adalah uang merupakan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip ajaran Islam, karena waktu adalah ibadah, manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala, bukan semata-mata mencari materil.

2. Begitu pentingnya waktu, sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah dengan waktu
Di dalam Al-Qurân kita dapatkan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala sering bersumpah dengan waktu, seperti Allah ‘Azza wa Jalla bersumpah dengan waktu malam, waktu Dhuha, waktu Ashar, bahkan di dalam Surat al-‘Ashri Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan sifat-sifat orang yang beruntung, yaitu mereka yang mampu menjaga waktunya dengan beriman dan beramal shaleh sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala sebutkan dalam surat tersebut yang artinya:

"Demi masa (waktu ‘ashar). Sesungguhnya manusia berada dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, dan mereka saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran." (QS. al-‘Ashri: 1-3)

Syaikh Abdurrahman Nasir Sa'di rahimahullah di dalam menafsirkan ayat tersebut berkata; bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan betapa meruginya manusia dalam hidup ini secara umum kecuali apabila mereka memiliki empat sifat:
Sifat pertama adalah beriman dengan apa-apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala perintahkan, dan tidaklah Iman itu akan bisa menjadi benar kecuali dengan Ilmu karena ilmu merupakan cabang dari iman tersebut dan tidak sempurna iman seseorang kecuali jika dia memiliki ilmu.

Sifat yang kedua adalah amal shaleh yang mencakup semua kebaikan, mulai dari kebaikan yang bersifat zhohir hingga kebaikan yang bersifat bathin, dimana hal itu berkaitan dengan hak-hak Allah dan hak-hak hambanya baik hal-hal yang hukumnya bersifat wajib ataupun yang bersifat anjuran.
Sifat yang ketiga adalah saling menasehati dengan kebenaran tersebut (Iman dan amal shaleh) artinya saling mendorong sesama mereka untuk saling menasehati.
Sifat yang yang keempat adalah saling menasehati dengan sabar, bersabar dalam menta'ati Allah ‘Azza wa Jalla, sabar dalam menghadapi maksiat dan sabar dengan ketentuan Allah ‘Azza wa Jalla atau dalam menghadapi musibah.

3. Karena waktu adalah nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya: "Tidak akan beranjak kaki seorang hamba di akhirat kecuali setelah ditanya tentang empat perkara: ditanyakan tentang umurnya lalu bagaimana ia menggunakannya dan ditanyakan kepadanya tentang ilmu yang didapatkannya lalu apa yang dilakukannya dengan ilmu tersebut, ditanyakan kepadanya tentang harta yang ia dapatkan dari mana ia mendapatkannya dan kemana harta itu dibelanjakan dan ditanyakan kepadanya tentang jasadnya lalu kemana dipergunakannya. (HR.Tirmidzi yang telah dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya Al-Jami')

4.Waktu adalah salah satu ni'mat yang dianggap sepele dan dilalaikan oleh manusia
Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Ada dua ni'mat yang dilalaikan oleh manusia, manusia tertipu dengan nikmat tersebut: yaitu nikmat sehat dan waktu kosong." (HR. al-Hakim yang telah dishahihkan Syaikh al-Albani dalam kitab Al-Jami')

Hal ini dapat dirasakan seseorang ketika dia ditimpa oleh penyakit, terasa baginya ketika itu betapa nikmatnya sehat, demikian juga ketika waktu sudah sempit barulah teringat bagi seseorang nilai dari waktu, sehingga ada ungkapan yang menyatakan baik atau buruknya sesuatu akan bisa diketahui ketika ada lawannya, seperti sakit lawannya sehat, senang lawannya susah, hidup lawannya mati


Realita kehidupan manusia dengan waktu
Bila dilihat realita keadaan kehidupan manusia dengan waktu dan bila ditanya untuk apakah mereka diciptakan maka kebanyakan mereka akan menjawab bahwa kami diciptakan untuk makan, untuk minum, untuk bersenang-senang, untuk membangun gedung dan memperbanyak keturunan, dan ini adalah kenyataan yang banyak kita temukan.
Kalau untuk itu manusia diciptakan maka tidak ada bedanya dia dengan binatang ternak atau hewan, karena yang menjadi harapan dan yang dicari dalam hidup binatang adalah: makan,minum bersenang-senang dengan kenikmatan dunia tanpa memperhatikan apakah itu halal atau haram.

Penciptaan manusia untuk tujuan yang mulia.
Tujuan penciptaan manusia berbeda dengan makhluk yang lain. Manusia diciptakan untuksuatu tujuan yang sangat mulia yaitu untuk beribadah kepadanya, dimana dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku". (QS. adz-Dzaariyat: 56)
Imam Nawawi rahimahullah dalam menafsirkan ayat tersebut berkata bahwa: ayat ini secara jelas menerangkan kepada kita bahwa manusia diciptakan untuk beribadah, maka wajib bagi setiap manusia memperhatikan tujuan tersebut dan berpaling dari kemewahan dunia yang disertai zuhud, karena dunia adalah negeri fana bukan negeri yang kekal dan abadi. Dunia adalah tempat persinggahan bukanlah tempat yang kekal untuk dihuni selama-lamanya.

Didalam Hadits yang Shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Jagalah lima perkara sebelum datang yang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu senggangmu sebelum datang waktu sempitmu, masa hidupmu sebelum datang waktu kematianmu." (HR. Bukhori)

Hadits di atas memiliki makna yang dalam bagi kita tentang menjaga nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang pada intinya nikmat-nikmat tersebut tidak bisa dipisahkan dengan waktu.

Ketahuilah bahwa umur manusia yang dijalaninya selama hidup di dunia ini adalah seperti musim bercocok tanam sedangkan hasil panennya akan dia petik di akhirat, maka boleh jadi apa yang ditanamnya selama di dunia ini tidak membuahkan hasil yang baik disebabkan mereka tidak bercocok tanam dengan benar, laksana tanaman yang dimakan hama wereng.

Oleh karena itu tidaklah pantas bagi seorang muslim menyia-nyiakan waktunya dan mempergunakan harta kekayaannya kepada perkara-perkara yang tidak ada faedahnya.

Situasi dan kondisi yang akan menyebabkan penyesalan bagi diri seseorang yang menyia-nyiakan waktu
Seseorang yang tidak mengerti dengan nilai dari waktu akan timbul penyesalan dari dalam dirinya ketika ia berada dalam beberapa keadaan, diantaranya:

1. Ketika manusia menghadapi sakaratul maut
Ketika masa ini telah datang, maka barulah manusia menyadari betapa penting dan tingginya nilai waktu tersebut, karena tidak lama lagi dia akan meninggalkan dunia yang fana ini dan akan menuju kampung akhirat, disaat ini terlintas dalam benak/fikiran manusia alangkah baiknya kalau sekiranya Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi tangguh umurnya beberapa saat saja supaya dia bisa beramal sebanyak-banyaknya dan memperbaiki amal perbuatannya sebelum ajal menjemputnya.

2. Ketika telah berada di Akhirat.
Semua apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta'ala di dunia maka di akhirat Allah akan menetepati janjinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membalas amal-amal yang dilakukan manusia dan juga pada saat itu Allah ‘Azza wa Jalla akan masukkan orang-orang yang berhak untuk masuk surga ke dalam surganya Allah Ta'ala, dan orang-orang yang berhak untuk masuk ke dalam neraka, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla masukkan ke dalam neraka. Di negeri akhirat ini para penghuni neraka bercita-cita untuk kembali ke dunia supaya mereka bisa melaksanakan ibadah dan amal sholeh. Namun apalah daya nasi telah jadi bubur, hidup di dunia hanya sekali dan apabila sudah meninggalkan dunia mustahil untuk kembali, waktu untuk beramal telah habis.

Penyesalan akan menjadi perkara yang sia-sia ketika kita berada di dalam keadaan di atas, dimana penyesalan tidak hanya milik orang-orang kafir yang tidak mau untuk beriman dan beramal sholeh tetapi juga menjadi milik orang-orang yang beriman dan beramal sholeh yaitu ketika balasan dari amalan perbuatan mereka telah diperlihatkan, mereka berharap alangkah bagusnya kalau seandainya dahulu di dunia mereka mengerjakan amal sholeh lebih giat dan lebih banyak lagi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dengan mengkhabarkan kepada kita tentang penyesalan orang-orang kafir di akhirat nanti: "(Demikianlah keadaan orang-orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ya Allah ya Rabbku: kembalikanlah aku ke dunia". (QS. al-Mu'minun: 99)

Pada ayat berikutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan alasan kenapa mereka ingin kembali ke dunia: "agar aku bisa beramal Shaleh untuk memperbaiki apa yang telah aku tinggalkan." (QS. al-Mu'minun: 100)

Bahkan hal ini diperkuat dalam surat yang lain dimana Allah Ta'ala berfirman: "Dan (alangkah ngerinya), jikalau sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa menengadahkan kepalanya di hadapan Robb mereka sambil mengatakan: Duhai Robbku, telah kami saksikan azab-Mu dan telah kami dengar azab-Mu, maka kembalikanlah kami ke dunia untuk beramal Sholeh karena sesungguhnya kami benar-benar telah meyakininya." (QS. as-Sajadah: 12)

Namun semua ungkapan tersebut adalah penyesalan yang tiada gunanya lagi. Karena itu, apabila kita ingin menyesalinya, maka sesalilah dari sekarang selama waktu masih ada, selama kesempatan untuk beramal masih ada, selama umur masih ada dan jangan pernah kita tunda-tunda.

Sesungguhnya zaman itu sama halnya dengan harta, keduanya wajib untuk dijaga secara hati-hati, mulai dari cara kita dalam menggunakannya, menginfaqkannya hingga mengaturnya. Adapun harta mungkin saja kita bisa mengumpulkannya, lalu kita tabungkan bahkan juga bisa kita kembangkan, sementara zaman/masa tidaklah demikian, setiap detik yang telah berlalu tidak akan pernah kembali lagi walaupun kita menginfaqkan seluruh harta untuk menebus waktu yang telah berlalu niscaya hal itu tiada berguna.

Oleh karena itu ketika kita telah mengetahui bahwa zaman itu terbatas, tidak akan bisa untuk dimajukan ataupun dimundurkan, dan menjadi berharga ketika seseorang mempergunakan waktu kepada hal yang baik dan benar, maka wajiblah bagi kita untuk menjaga waktu dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Nasehat untuk generasi muda
Wahai para pemuda dan pemudi, "Ingatlah dirimu dan masa depanmu yang masih panjang. Jangan kalian menyalahgunakan waktu kalian untuk berleha-leha di dunia. Ingatlah bahwa hidupmu di dunia hanya satu kali dan tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya. Janganlah kalian terpedaya dengan ajakan teman kalian untuk menghabiskan waktu kepada hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebaik-baik teman adalah teman yang mampu mengajakmu untuk ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidakkah kalian ingat dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang akan dia lakukan untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu lakukan". (QS. Al-Hasyar:18 )

Jagalah matamu dari melihat apa-apa yang dilarang oleh Allah, jagalah pendengaranmu dari mendengar hal-hal yang dilarang oleh Allah, dan jagalah seluruh nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang engkau dapatkan dengan mensyukurinya dan timbanglah kebenaran dengan Al-Qurân dan As-Sunnah dan akal sehatmu, janganlah kamu timbang suatu kebenaran dengan hawa nafsu dan perasaanmu.

Demikianlah tulisan singkat ini. Mudah-mudahan mampu memberikan arti bagi kita semua dalam menjaga waktu dan memanfaatkannya sehingga kita lagi tidak menjadi orang yang tertipu dan lalai. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk ke dalam hamba-hamba yang menjaga waktu.

Referensi:
"Ringkasan terjemahan dari makalah Nilai Waktu dalam Kehidupan Seorang Muslim, Kitab ad-Durus Ramadhaniyah oleh tim pembahas Ilmu dari Yayasan Haramain."
Post a Comment
Name (required)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar