Minggu, 27 Juni 2010

PAHALA BERBUAT BAIK

Berpahalakah berbuat baik tanpa niat???
Niat adalah kehendak, kemampuan dan keinginan untuk melakukan sesuatu entah itu baik atau buruk dan tempat niat adalah didalam hati. Niat di katakan suatu hal yang urgen atau penting atau mendasar karena menjadi tolak ukur perbuatan seseorang dan di sebabkan dengan niat seseorang bisa mendapat balasan pahala ataupun dosa. Jika niat baik maka perbuatan bisa baik atau bisa buruk dan jika niat buruk maka perbuatannya juga bisa buruk atau bisa baik sedangkan jika yang muncul perbuatan buruk maka bisa jadi ada yang tidak beres dengan niatnya atau hatinya. Sebagaimana sabda beliau “Ingatlah,bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika baik maka seluruh tubuh menjadi baik dan jika dia rusak maka seluruh tubuh menjadi rusak. Ketahuilah itu adalah hati” (Hadits Shohih Biwayat Bukhori dan Muslim dari Nu’man bin Basyir radhiyaallahu ‘anhu).
Banyak ayat Al Qur’an dan hadist yang menyatakan bahwa seseorang akan mendapat balasan sesuai apa yang di niatkannya. Jika niat seseorang baik dan perbuatannya juga demikian maka dia bisa mendapat pahala dan di janjikan surga sedangkan jika sebaliknya maka dosa dan neraka akan menjadi balasan dan tempat baginya.
Terkadang ada seseorang yang kritis bertanya kepada anda seperti ini “Kita tahu bahwa Alloh akan membalas perbuatan seseorang sesuai niatnya namun jika suatu saat kita terlupa berniat ketika berbuat baik, apakah perbuatan kita akan dibalas?? Dan adakah dalil yang menerangkannya??”…
Maka jawabnya “Perbuatan kita akan dibalas pahala oleh Alloh tapi balasan tsb tidak sebanyak jika kita melakukan perbuatan tsb di sertai niat. Dalilnya dari Al Qur’an dalam surat an Nisaa’ ayat 114 : “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian Karena mencari keridhaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”. Seorang ulama menafsirkan ayat ini bahwa “Alloh menjelaskan kalau perbuatan-perbuatan itu mengandung kebaikan, baik di barengi niat ataupun tidak”. Menyuruh seseorang untuk bersedekah baik berupa ilmu seperti dosen yang mengajar kepada mahasiswa atau berupa harta seperti seseorang yang memberikan sebagian harta bendanya kepada orang yang berhak, semuanya itu adalah perbuatan yang baik dan ma’ruf baik pelakunya mempunyai niat ataupun tidak. Akan tetapi jika pelakunya mempunyai niat untuk mencari keridhoan Alloh maka Alloh berjanji “kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”. Maksudnya, kebaikannya akan dilipatgandakan dan Alloh akan menganugerahi karunia yang sangat besar. Subhanalloh !!!
Kemudian dalil dari Hadist yaitu dari Jabir radhiyaallahu ‘anhu berkata : Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Jika seorang muslim menabur benih, maka apa yang di makan dari tanaman itu adalah sedekah baginya, apa yang di curi darinya adalah sedekah, apa yang di kurangi oleh orang lain darinya adalah sedekah” (Hadist Shohih Riwayat Muslim). Hadist tsb juga menjadi dalil bahwa segala perbuatan baik anda yang tidak disertai dengan niat maka anda bisa mendapat balasan yaitu berupa pahala”.
Ada 5 contoh yang sangat menarik dan bisa jadi anda sering mengalaminya:
1. Suatu saat anda masuk ke kelas dan ketika itu anda melihat buku yang besar milik teman anda jatuh dan secara tiba-tiba atau spontan anda mengambilnya dan menyerahkan kepadanya. Kemudian anda teringat jika anda tadi melakukannya tanpa niat. Maka berdasarkan dua dalil di atas perbuatan anda ini berpahala.
2. Di waktu pagi hari anda selesai makan kemudian anda menaruh piring sisa makanan anda di depan kamar anda. Tanpa di sadari selang beberapa waktu piring anda sudah banyak di penuhi semut dan jumlahnya tak terhitung. Maka berdasarkan dua dalil diatas maka anda sudah bersedekah dengan semut tersebut tanpa di sertai niat dan anda kelak mendapat balasan.
3. Di suatu siang anda sedang duduk-duduk santai di kampus kemudian anda mendapat pesan dari dosen bahwa anda hari ini mendapat tugas mengajar dan anda kaget lantas anda langsung memenuhi permintaan dosen anda. Setelah selesai mengajar anda teringat dan berkata dalam hati “Oya tadi aku lupa apakah aku niat atau tidak ketika mengajar, berpahala ngga ya??” maka jawabnya “Perbuatan baik anda berpahala”.
4. Hari libur Idul Fitri tiba dan anda beramai-ramai dengan teman anda pulkamnabis (pulang kampung naik bis). Lantas ketika istirahat di perjalanan anda melihat seorang ibu dan bayi merintih kesakitan karena lapar. Anda merasa kasihan dan seketika itu juga anda langsung mengeluarkan makanan yang ada di dalam tas anda dan memberikan kepada ibu tsb. Kemudian setelah melanjutkan perjalanan andapun bertanya-tanya “Tadi aku lupa niat ketika memberikan makanan kepada si ibu. Berpahala ngga ya??” maka bisa di jawab “Perbuatan anda berpahala, InsyaAlloh”.
5. Ketika di sebuah malam setelah selesai sholat isya’ berjama’ah hujan deraspun tiba laksana air yang ditumpahkan dari tempat yang sangat besar. Anda sedang berdiri menyandar di tiang masjid sambil membawa payung menunggu hujan reda. Kemudian anda melihat seorang kakek yang ingin pulang ke rumah tapi alangkah malangnya si kakek tsb, dia tidak membawa payung jadi dia terhalang untuk pulang padahal ada hajat yang sangat mendesak dengan keluarganya. Lalu andapun segera mengantar kakek tsb pulang dan saat sampai di rumah anda teringat sesuatu “Yaa Alloh, aku lupa berniat!! Berpahala ngga ya perbuatanku tadi??” dan jawabannya adalah “InsyaAlloh Ta’ala berpahala”.
Dari tulisan yang singkat ini bisa di petik beberapa faedah. Diantaranya:
a. Alloh Maha Pemurah atas segala sesuatunya. Termasuk dalam memberi pahala.
b. Disebabkan oleh niat seseorang bisa mendapatkan pahala ataupun mendapat dosa.
c. Niat yang baik harus di sertai perbuatan yang baik juga.
d. Perbuatan baik yang tidak di sertai niat akan mendapat pahala namun pahalanya tidak sebesar jika di barengi niat.
e. Bersegaralah untuk meringankan kesulitan orang lain jika memiliki kemampuan.
Semoga Alloh selalu menunjukkan hidayahNya kepada kami dan anda semuanya
Alhamdulillaah…


SELALU BERBUAT BAIK
Jumat, 26 Desember 2008 @ 13:47 WIB - Diari


Setiap kali pikiran dan hati manusia jernih,tidak terkotori tipu daya syetan,maka saat itulah ia akan berbuat baik.Yang perlu ditanya pada diri kita apa yang mendorong orang selalu berbuat baik?.
Pertama, orang berbuat baik karena merasa dirinya selalu dalam pengawasan Allah SWT,Allah SWT senantiasa melihat apa yang dikerjakannya,maka tentu saja Ia akan memberikan pahala atas apa yang telah dilakukan.
Kedua, selalu ingat kebaikan Allah SWT.Tidak dipungkiri keberadaan kita di dunia merupakan sebuah kebaikan Allah SWT.Maka semua makhluk-Nya sudah selayaknya mencontoh Sang Khalik,kenapa mesti meniru makhluk yang sudah jelas jelek yaitu syetan.
Ketiga, adanya niat.Niat akan memotivasi seseorang sesuai apa yang ia niatkan.Adapun jika niatnya baik,maka Insya Allah pasti akan baik pula amalannya.Akan tetapi jika niatnya buruk,maka kerugianlah yang akan ia tuai.
Firman Allah SWT:
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama dengan lurus,dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus".(QS.98:5)

disadur dari:
lembar risalah "annatijah"
(membangun tradisi iman dan taqwa)
Sebuah keluarga di Jakarta Selatan punya cara untuk berbuat baik. Simpel- ditujukan di lingkungan terdekat.
Tidak jauh dari kediamannya ada sebuah Taman Pendidikan Agama.
Selintas dari luar, bangunan yang menyatu dengan lingkungan masjid terlihat mewah.
Banyak anak-anak lingkungan sekitar menjadikan TPA ini satu-satunya tempat mereka mendapat pendidikan formal. Tapi bila kita melihat ke dalam tidak terbayangkan bahwa mereka duduk di lantai selama pelajaran berlangsung.
Selain dingin – duduk terlalu lama di lantai membuat tidak nyaman murid menyimak pelajaran yang dipikirkan. Kemudian Sang istri mempunyai ide untuk memberikan sumbangan agar anak-anak dapat nyaman selama belajar. Terpikirlah ide untuk membelikan karpet warna-warni terbuat dari karet.
Harganya lebih terjangkau dibanding karpet biasa yang berbulu. Perawatannya pun jauh lebih mudah.
Mudah-mudahan kegiatan ini bisa memberikan inspirasi kepada pembaca – bahwa berbuat baik bisa dilakukan dengan cara yang tidak rumit, dan di lingkungan terdekat kita banyak hal yang bisa dilakukan. Selamat berbuat baik.

Hadits Ke-17

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus rodhiallohu ‘anhu, Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya Alloh mewajibkan (kalian) berbuat baik terhadap segala sesuatu, maka bila kalian hendak membunuh orang (dalam peperangan ataupun yang lainnya), bunuhlah dengan cara yang baik, dan bila kamu menyembelih (binatang), maka sembelihlah dengan cara yang baik, hendaklah kalian menajamkan pisau dan memperlakukan hewan sembelihan dengan lembut.” (HR Muslim)

AL-IHSAN
Al-Ihsan adalah menjadikan sesuatu menjadi baik. Dengan demikian, hakikat ihsan berbeda-beda sesuai dengan perbedaan konteks pembicaraannya. Apabila dalam konteks pembicaraan ibadah maka hakikat ihsan dalam ibadah seperti telah dijelaskan pada hadits ke-2. Apabila dalam konteks pembicaraan muamalah dengan sesama maka hakikat ihsan adalah menunaikan hak-hak sesama dan tidak menzholiminya. Karena wujud sesama berbeda-beda, maka bentuk ihsannya pun berbeda-beda sesuai dengan keadaannya masing-masing.
Syariat mewajibkan untuk berbuat ihsan dalam segala hal. Pengambilan hukum wajib tersebut diambil dari kata kitaabah. Ulama ushul menyatakan bahwa kata kitaabah dan derivasinya menunjukkan makna wajib.
Tata Cara Menyembelih Yang Memenuhi Kriteria Ihsan
Ihsan dalam menyembelih adalah mencari cara terbaik agar sembelihan cepat mati tanpa menderita kesakitan. Hal itu bila memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Menajamkan pisau.
2. Mempercepat jalannya pisau.
3. Memegang sembelihan dengan benar.
4. Ahli menggunakan pisau.
5. Tidak di hadapan binatang lain.
Demikianlah Islam memerintah berbuat ihsan kepada binatang dan menunjukkan contoh prakteknya. Maka ihsan kepada yang lebih mulia kedudukannya dari pada binatang tentu lebih diperintahkan dan lebih dijelaskan contohnya. Oleh karena itu tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya tentang ihsan kepada Alloh, kepada sesama makhluk baik yang berakal atau tidak berakal. Sungguh rahmat Alloh dekat dengan muhsiniin.
Sumber: Ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi - Syaikh Shalih Alu Syaikh Hafizhohulloh - http://muslim.or.id
Penyusun: Ustadz Abu Isa Abdulloh bin Salam (Staf Pengajar Ma’had Ihyaus Sunnah, Tasikmalaya)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar