Minggu, 27 Juni 2010

LAKI-LAKI SHOLEH

Laki-Laki yang Sholeh Hanya untuk Wanita yang Sholehah
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji,laki-laki yang keji untuk wanita yang keji pula.wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik,dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula..” Allah telah berfirman dengan jelas dalam An-Nur 26 seperti ini.Itu berarti formula untuk mendapatkan pasangan hidup telah pula ditegaskan.Dulu..saya berpikir lantas apakah wanita yang tidak baik tidak berhak mendapat laki-laki yang baik? atau sebaliknya?.. Firman Allah memang tidak bisa ditelan mentah-mentah,tetapi jika kita renungkan kembali,semua yang difirmankan Allah adalah benar adanya dan pasti bermanfaat untuk kebaikan manusia.
Banyak sekali laki-laki berkata:”aku ingin mendapat istri yang sholehah” akan tetapi ia sendiri tidak melihat dirinya masih berperilaku layaknya playboy,gonta-ganti pacar,pegang-pegang wanita yang bukan muhrimnya,cipika-cipiki sana sini,sholat sering ditinggalkan,mendengar adzan diabaikan. Lantas bagaimana ia akan mendapat wanita yang sholehah sedang dirinya sendiri tidak sholeh?
Demikian pula wanita berharap:”aku ingin mendapat suami yang sholeh” akan tetapi ia masih mengenakan rok mini di atas lutut,atasan tank top,aurat terbuka kemana-mana,gampang sekali digandeng oleh laki-laki walaupun dengan alasan klise hanya sebagai teman. Lisannya berkata:”aku punya harga diri” tapi dimana?.. Bagaimana akan ada laki-laki yang sholeh mau memilihnya menjadi istrinya? sementara setiap saat ia terlihat bergantian laki-laki yang bersamanya. Apakah ada laki-laki sholeh yang mau memiliki istri seperti ini?
Ketika seorang laki-laki yang sholeh memilih seorang istri,tentunya ia berharap bahwa istrinya akan menutup aurat,menurut perintah suami, membatasi pergaulan tidak terlalu bebas pergi-pergi dengan laki-laki lain,bisa menerima penghasilan suami dengan ikhlas,melahirkan dan menyusui anak-anaknya,merawat dan mendidik anak-anaknya,memasak untuk suami,dll seabrek tugas wanita di rumah. Akan tetapi jika si wanita takut bodinya berubah karena melahirkan,takut tangannya kasar karena memasak,takut tidak bebas jalan bersama kawan-kawan lakinya.Maka wanita ini belum bisa mendapat suami yang sholeh,karena sebenarnya dirinya sendiri belum siap menjadi sholehah.
Jika hal seperti ini dipaksakan,misal salah satu pihak belum siap dengan konsekwensi menjadi istri yang sholehah/suami yang sholeh,maka ujung-ujungnya adalah perceraian,nautzubillah.Karena itu perbaiki dulu diri kita,jika telah sepadan..( dalam arti usaha untuk menjadi wanita yang sholehah atau laki-laki yang sholeh) maka insyaAllah Allah tidak akan tinggal diam.
Dia Maha Melihat, Dia Tidak Tidur,Dia Maha Penerima Taubat,yang mengetahui usaha hambanya untuk menjadi lebih baik,memperbaiki diri.
Islam adalah agama yang indah,mengatur segala sesuatu untuk kemaslahatan manusia.Jika ini diterapkan akan terwujud kebahagian yang dijanjikan Allah.Tapi sayang banyak orang islam yang tidak memahami,atau mungkin faham tapi mencoba menutup mata karena lebih memperturutkan kemajuan zaman dan nafsu diri.
Biqudrotika ya Ghoffurur Rahim..
Engkau telah tentukan petunjuk untuk kebahagian kami
Ampunilah jika diri kami masih lebih condong kepada nafs
Berilah kami syafaatmu dan kemudahan mengendalikan diri agar kami bisa termasuk laki-laki yang sholeh/wanita yang sholehah.
Amin..
Ditulis dalam Artikel, Bersihkan Hati, Keimanan












Rabu, 2008 Juli 23
MENIKAHLAH DENGAN ROJULUN SHOLEH

Kebahagiaan akan diperoleh kaum wanita jika menjalani kehidupan berumah tangga. Disini pernikahan merupakan kunci kebahagiaan bagi wanita. Pandangan ini mendapat argumentasi yang kuat dari firman Allah:

“ Dan diantara bukti-bukti kekuasaan-Nya, Dia telah menciptakan dari diri kalian pasangan-pasangan hidup agar kalian merasa tenteram kepadanya (pasangan hidup kita), dan Dia jadikan diantara kalian cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memikirkan”. (QS. Ar-Rum:21).

Watak dasar wanita sendiri ialah membutuhkan bimbingan dan pimpinan dari seseorang yang berkepribadian kokoh dan dapat dipercaya. Hal itu dapat dipahami dari sabda Nabi ketika beliau menggambarkan karakter kaum wanita. Beliau bersabda :

“ Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, maka sebengkok-bengkoknya tulang rusuk adalah yang paling atas. Jika engkau bersikap keras terhadapnya (tulang rusuk itu), maka engkau akan mematahkannya. Namun jika engkau membiarkannya, maka ia (tulang rusuk itu) akan terus bengkok “. (HR.Al-Bukhari-Muslim).

Tampak jelas bahwa seorang wanita harus dibimbing dan dipimpin menuju jalan yang lurus, lapang dan bahagia. Kita tidak bisa dibiarkan berjalan sendirian atau menempuh jalan dengan cara kita sendiri.

Pertanyaan selanjutnya, dengan siapa seorang wanita harus menikah?

Secara teori kita bisa menikah dengan siapa saja yang kita sukai.Tetapi sosok suami yang benar-benar akan membimbing kita meraih tujuan kebahagiaan itu HANYALAH LAKI-LAKI SHOLEH. Jika pernikahan ditujukan hanya untuk hidup bersama-sama, makan minum bersama, berketurunan, serta bersenang-senang bersama, tentu dengan laki-laki manapun hal itu bisa dilakukan. Namun hal itu lambat laun akan bermasalah.

Karenanya, MENIKAHLAH DENGAN ROJULUN SHOLEH (LAKI-LAKI SHOLEH)...KENAPA???
• Seorang laki-laki sholeh tidak akan membiarkan di dalam rumahnya tumbuh perilaku-perilaku buruk yang bisa mengundang murka Allah Swt.
Seorang laki-laki sholeh tidak mungkin akan berbuat dzalim kepada saudara semuslim, apalagi kepada orang tua, mertua, istri dan anak-anaknya. Tidak semua suami bisa memenuhi kewajibannya terhadap keluaraga secara layak, tetapi bagi seorang laki-laki sholeh, dia akan berusaha sekuat kemampuannya. Dia baru akan berhenti berusaha jika sudah tidak ada lagi jalan yang bisa ditempuh. Jika usaha maksimal telah ditempuh, tetapi hasilnya tidak memadai, dengan lapang dada dia akan meminta maaf atas kekurangan dirinya. Singkatnya, tindakan MENYENGAJA agar keluarganya hidup menderita, hal itu, mustahil akan dilakukanseorang laki-laki sholeh, bahkan terlintas dalam pikirannyapun tidak.
• Seorang laki-laki sholeh akan menghargai pendapat atau pandangan istrinya dan keluarga besarnya, meskipun tidak otomatis akan selalu menurutinya.
Seorang laki-laki sholeh bersikap lapang dada dan memaafkan kekurangan istri dan anak-anak beserta keluarga besarnya.
Seorang laki-laki sholeh tidak akan membuka aib-aib keluarganya di depan umum. Membuka aib keluarga sama dengan membuka aib diri sendiri.
Seorang laki-laki sholeh tidak akan mengkhianati kepercayaan keluaraganya. Didepan keluarganya ia bermoral, dan ketika jauh dari keluarganyapun, dia tetap bermoral. Seorang laki-laki sholeh tidak takut kepada istri atau anak-anaknya serta keluarga besarnya, tetapi takut kepada Allah yang selalu mengawasinya. Berbeda dengan banyak laki-laki yang manis di depan istri dan mertuanya, tetapi blingsatan ketika jauh dengan istri.
• Dan yang paling utama, seorang laki-laki sholeh siap bertanggungjawab menghadapi tuntutan Allah di akherat ketika ditanya tentang anak-anak dan istrinya.
Rosulullah bersabda:
“ Sesempurna-sempurna keimanan seorang mukmin, ialah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian ialah yang paling baik kepada wanita-wanitanya “. ( HR. At-Tirmidzi )
“ Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya (istri dan anak-anaknya ), sedang aku adalah yang paling baik kepada keluargaku “. ( HR. Ath-Tharbawi dan Al-Hakim )
• Jadi hanya dengan pernikahan yang penuh barokah, seorang wanita akan mendapatkan kebahagiaan hidup, sedangkan hal itu akan terlaksana jika dia menikah dengan seorang ROJULUN SHOLEH.
SIAPAKAN ROJULUN SHOLEH???
Kita sudah sering mendengar laki-laki sholeh, kini saatnya kita memahami profil kayak apa sih dia?
Yup, seseorang yang sering dibicarakan, jangan dibiarkan melayang sekedar menjadi sebuah obrolan, tetapi alangkah baiknya jika kita bisa menyelami maknanya lebih dalam.
Konon katanya orang-orang sholeh bukanlah makhluk abstrak yang sulit dikenali bentuknya. Mereka adalah manusia biasa juga, tetapi memiliki kelebihan tertentu dibandingkan manusia-manusia lainnya. Kelebihan mereka adalah dari segi keyakinan, kepedulian, mentalitas serta amal perbuatan.
Dalam diri mereka terkumpul kebaikan-kebaikan itu, bukan salah satunya saja. Bahkan kita bisa mengenali mereka dari sikap dan perilaku hidupnya sehari-hari. Lihatlah mereka dengan HATI, maka kita akan menemukan tanda-tanda kebaikan mereka.
Lelaki sholeh dijelaskan dalam Al-Qur'an adalah sebagai berikut:
"Dan diantara ahli kitab ada sekelompok orang yang berlaku lurus. Mereka membaca ayat-ayat Allah di malam hari, sedang mereka bersujud (maksudnya, mengerjakan sholat malam sambil membaca kitabullah). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka mengajak pada kebaikan dan mencegah dari perbuatan mungkar, dan mereka bersegera mengerjakan kebaikan-kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang sholeh". (Ali Imron 133-134).

Secara nyata, kesholehan ini bisa terlihat dari tanda-tandanya yaitu:
• Seseorang secara tekun dan sabar menunaikan kewajiban pokok, seperti sholat 5 waktu, zakat dan puasa Ramadhan. Kemudian dia menjalankan ibadah tambahan, baik berupa sholat sunnah, puasa sunnah serta bershodaqoh dijalan kebaikan.
Seseorang yang menjauhi perbuatan dosa besar, misal membunuh, berzina, sihir, memakan harta riba, menganiaya anak yatim, durhaka kepada orang tua, kedukun, sumpah palsu dll.
• Seseorang yang peduli dengan keadaan sekelilingnya. Ketika disekitarnya banyak orang yang meninggalkan kewajiban, dia mengajak mereka mengerjakan kewajiban itu. Begitu pula ketika disekelilingnya banyak orang melakukan perbuatan dosa, dia mencegah agar perbuatan itu dijauhi atau dihentikan. Jika dia memiliki ilmu, dia memberi nasehat dengan perkataan atau melalui tulisan. Singkatnya, hatinya tidak tentram ketika melihat perintah Allah diabaikan dan larangan Allah dikerjakan.
• Seorang yang senantiasa bersemangat untuk menambah kebaikan, baik ilmu, keimanan dan amalan. Dia tidak merasa puas dengan kebaikan yang sudah diperoleh dan tidak merasa jenuh untuk berbuat yang lebih baik. Setiap kita bertemu dengannya, dia selalu lebih baik dari sebelumnya.
• Seorang yang mendedikasikan dirinya untuk sungguh-sungguh untuk menjalankan sholat tahajjud di akhir malam. Dalam sholat itu dia bacakan ayat-ayat yang mampu dia hafal dari Al Qur'an. Jika memungkinkan, hafalannya selalu bertambah dari waktu ke waktu. Namun tidak berarti apa yang semula dihafalnya, lalu hilang kembali.
Demikian tanda-tanda orang sholeh yang dapat diamati. Kita bisa mengamati secara langsung atau melalui informasi yang disampaikan oleh orang yang terpercaya. (Sumber:milis uje)
Wallaahu A'lam bishowab.



Joined: 05 Mar 2006
Posts: 294

Posted: Sat Mar 25, 2006 1:49 am Post subject: JAGA DERMAGAMU


________________________________________
alhikmah.com - “Dik, jangan gegabah seperti itu,
pikirkan dulu masak-masak dampaknya kelak.
Sayang jika kau nodai apa yang sudah dengan
susah payah kau bangun dan bina selama ini.
Bersabarlah, saatnya pasti akan tiba. Saat yang
telah diputuskan Allah sejak kau dalam rahim
ibumu. Pada hari yang dijanjikan itu, pasti akan
bersua jua dirimu dengannya.”

“Adik sudah cukup lelah bersabar, kak. Sampai
kapan adik harus menunggu? Sementara detik
demi detik terus berpacu, adik sudah tidak muda
lagi sekarang”

“Semua wanita memiliki fitrah yang sama, ingin
segera membina sebuah keluarga. Tapi jodoh itu
kan Allah yang mengatur. Kau tidak sendiri, dik!
Masih banyak saudari-saudarimu yang usianya
jauh lebih tua darimu juga belum diperkenankan
Allah untuk memikul amanah itu. Kau sendiri tahu
kan berapa umur kakak ketika menikah...”

“Ya, kalau pada akhirnya happy ending seperti
kakak...Kak, semua saudara seperjuangan juga
sudah angkat tangan membantu mempertemukan
adik dengan laki-laki pilihan itu, terus apa nggak
boleh kalau kemudian adik berusaha sendiri?”

“Adikku sayang, bukan berarti kau tidak boleh
mencari sendiri. Tapi kecenderungan rasa kita
pada seseorang biasanya akan membutakan mata
hati kita karena semua yang ada pada si dia akan
terlihat begitu indah tanpa cela. Cukuplah kakak
yang mengalaminya. Ingat, dik, sesal itu selalu
datang diakhir cerita”

“Tapi laki-laki dari kantor pusat itu orang baik, kak!
Dia rajin sholat, santun dan ikut pengajian rutin.
Menurut teman-temanku sih begitu...”


“Teman-temanmu yang mana? Teman-teman
kantor yang kau bilang biasa dugem di kafe-kafe
sampai pagi? Sudah berapa kali kakak bilang jauhi
mereka! Dan laki-laki itu, apakah bisa disebut laki-
laki baik kalau dia tak pernah absen mengirim puisi-
puisi sentimentil untukmu? Jangan-jangan dia juga
biasa mengirim puisi-puisi itu ke perempuan-
perempuan lain. Atau gara-gara dia selalu
mengirim sms untuk mengingatkanmu sholat, lalu
kau anggap dia itu laki-laki baik? Ironisnya,
mengapa dia tidak mengirim sms yang sama
kepada teman-temanmu yang lain supaya mereka
juga ingat sholat...”

“Ah, pasti kakak mau bilang bahwa dia bukan laki-
laki yang tepat untuk adik, kan? Kak, yang
namanya laki-laki sholeh itu jauuuuh...jauh di ujung
laut sana. Kalaupun dia mau berlabuh, pasti akan
memilih dermaga yang bagus. Dermaga yang
cantik, pintar, kaya, tinggi, putih bersih, dst...dst!
Kalau seperti aku dengan tampang cuma nilai
enam, IQ standar, pegawai biasa dan kulit sawo
kematangan sih nggak bakal masuk hitungan.
Waiting listnya kepanjangan, kak!”

“Ya, berusaha dong menjadi dermaga yang bagus.
Dermaga yang bagus kan nggak selalu dengan
kriteria seperti itu. Perbaiki dermagamu dengan
mempercantik akhlak, memperbanyak ibadah,
meningkatkan potensi diri, dengan izin Allah pasti
akan ada yang berlabuh juga.”

“Kakak nggak ngerti sih. Siapa sih yang nggak
mau berjodoh dengan laki-laki pilihan yang punya
tujuan hidup sama dengan kita. Laki-laki sholeh,
yang akan membimbing istri dan anak-anak ke
surga...Kalaulah pada akhirnya adik berjodoh
dengan laki-laki yang “biasa-biasa saja”, bukan
sesuatu yang nggak mungkin kan kalau adik yang
justru membimbing dia ke arah sana?”

“Dik, kakak sangat mengerti kegundahan hatimu,
karena kakak pernah mengalami masa-masa usia
krisis sepertimu. Dalam keputus-asaan, kakak
mencoba mencari si dia dengan cara kakak
sendiri, tabrak sana sini. Kakak pun dulu
mempunyai prinsip yang sama denganmu, bertekat
akan bimbing si dia menjadi laki-laki yang sholeh.
Mencari-cari waktu agar sering bersama,
mengenalkan si dia lebih jauh dengan Islam. Meski
tak pernah dijamah, tapi itu namanya sudah berdua-
duaan, berkhalwat! Toh, semua berakhir
mengecewakan, si dia tak seperti yang kakak
harapkan. Mudahnya berpaling ke perempuan lain,
karena dengan kakak banyak yang tak bolehnya.
Begitu seterusnya, beberapa bahkan ada yang
sudah ikut pengajian rutin sebelum kenal dengan
kakak. Mereka sempat membuat hari-hari kakak
begitu berbunga-bunga, sekaligus menderita!
Karena semua bunga itu semu, dan tak akan
pernah menjadi buah. Kakak merasa lelah, capek!
Ternyata apa yang kakak harapkan dengan
melanggar takdir itu pun tak pernah membuah kan
hasil. Kakak telah mencoreng muka sendiri, hina
rasanya dimata Allah, dan malu dengan teman-
teman seperjuangan. Tapi Allah Maha Pemurah
dan Penyayang, Allah mengirimkan seorang laki-
laki pilihanNya, seorang yang begitu baik untuk
kakak. Ketahuilah dik, rasa bersalah itu tidak
pernah hilang, meski si Abang ikhlas dan mau
mengerti dengan “story” kakak sebelum menikah
dengannya.”

“Lalu adik harus bagaimana mengisi hari-hari
sendiri, kak? Hampa rasanya, ilmu-ilmu yang adik
terima tentang membina rumah tangga sakinah,
tentang mendidik dan membina anak, semua itu
hanya tinggal sebuah teori indah dalam khayal.
Mubazir, karena nggak jelas kapan akan
dipraktekkan. Bagaimana jika sampai akhir hayat
adik ditakdirkan tetap sendiri, karena laki-laki
pilihan itu tak kunjung datang?”

“Adikku sayang, percayalah pada takdir Allah dan
bersabarlah. Mungkin Allah belum mengabulkan
doa-doamu karena belum kau panjatkan dengan
segenap kepasrahan, belum kau lepas
keangkuhanmu karena kau berusaha menerjang
ketetapanNya yang berlaku bagimu. Mungkin juga
kau belum tinggalkan segala hal yang mendekati
kemaksiatan. Itulah yang menjauhkan terkabulnya
doa-doa kita,dik. Ketahuilah jika Allah memang
berkehendak, jodoh adik bisa datang tanpa
disangka dan diduga. Akan tetapi jika kehendak
Allah sebaliknya, Insya Allah, itulah hal terbaik
yang ditetapkan Allah bagi dirimu. Mungkin, Allah
berkehendak memperjodohkan adik dengan
bidadarinya di surga kelak ”

***
“Saya terima nikahnya Muthmainnah binti Syaiful
dengan mas kawin....”

“Alhamdulillah,ya Allah... Kak, hari yang dijanjikan
itu akhirnya datang juga. Laki-laki pilihan itu kini
mengikat janji untuk berlabuh di dermagaku...”

“Subhanallah! Biarkan bulir-bulir bahagia itu luruh di
matamu,dik. Kakak bangga, kesabaran adik pada
akhirnya berbuah kebahagiaan. Kesucian
dermagamu telah kau jaga dengan baik, dan hanya
kau peruntukkan bagi laki-laki sholeh yang mulai
saat ini akan menemanimu menempuh bahtera
kehidupan, dunia akhirat. Barokallah, semoga
Allah memberkatimu dan memberikan berkah atas
kamu serta menyatukan kalian berdua dalam
kebaikan, adikku sayang...”
Back to top




Versi cetak - Dibaca 535 kali
Lelaki Pilihan

tentang-pernikahan.com - ehemm ... Lelaki Pilihan Siapa laki-laki pilihan para wanita muslimah untuk menjadi pendamping hidup? Seorang pejabat, hartawan, atau si wajah tampan? Bisa jadi itu semua bukan pilihan utama dan lebih menjatuhkan pilihannya pada laki-laki dengan syarat ketinggian taraf keimanan, ibadah serta aktifitas sosial dan dakwah yang lebih darinya. Ataukah cukup yang biasa-biasa saja dan setara bahkan lebih rendah dari dirinya dengan catatan selama ia masih beragama Islam. Pilihan-pilihan itu sering mengemuka seiring dengan rencana dan keinginan seorang wanita untuk menempuh jalinan rumah tangga. Sebab, konon saat ini semakin sulit mencari laki-laki ideal dan "jempolan". Tentu bukan karena timpangnya perbandingan jumlah laki-laki dan wanita. Namun lebih dimungkinkan karena semarak aktifitas keislaman lebih berkembang di kalangan wanita muslimah dibandingkan laki-laki, meski hal itu masih perlu dilakukan verifikasi dengan data statistik yang benar.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah wajarkah seseorang wanita mensyaratkan kadar keimanan (agama) yang lebih tinggi atas calon suaminya? Nikah adalah ikatan paling kuat dan kekal antara dua jenis insan . Ia pun banyak membawa hal-hal yang lebih positif bagi seseorang daripada hidup membujang. Jiwa perlu diikat dengan pengikat yang kuat lagi kokoh. Pengikat ini adalah aqidah. Karena hanya aqidah yang dapat mengarahkan hidup seseorang, menyetir hati, pikiran dan perasaannya, serta menanamkan pengaruh yang paling berkesan, kemudian menentukan jalan kehidupan mereka.

Dalam kaitan inilah, para ulama bersepakat atas haramnya seorang wanita muslim mengawini laki-laki kafir, baik kafir musyrik ataupun kafir kitabi. Hal itu juga ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya, "... dan janganlah kamu menikahkan orang musyrik dengan wanita beriman sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu'min lebih baik dari seorang musyrik walaupun ia menarik hatimu ..." (QS/ Al-Baqarah:221). Secara teoritis, tabiat wanita akan cenderung mengikuti suaminya. Sementara dalam sistem Islam, kepala keluarga adalah suami. Hal ini mencerminkan bahwa kondisi calon suami yang lebih mapan dan tinggi keimanannya menjadi satu syarat yang tidak bisa diabaikan.

Sementara itu, ada kecenderungan laki-laki muslim untuk (sengaja atau tidak) menunda pernikahan dengan beragam alasan. Studi, karir, masalah ekonomi, ingin lebih mendahulukan kepentingan keluarga dan berbagai alasan lainnya. Kondisi tersebut sesungguhnya justru sangat kontradiktif dengan keadaan yang dialami para muslimah. Bagi para wanita muslimah yang memahami konsep Islam secara baik, yang menjadi ukuran utama adalah kadar ketaqwaan dan tingkat keimanan dari calon suami. Sementara harta, jabatan, penampilan fisik dan latar belakang menjadi tidak lebih diutamakan meski tidak pula menampik hasrat untuk mendapatkan yang 'lebih' dari semua persyaratan itu. Artinya, keinginan untuk mendapatkan suami dengan penampilan menarik, harta yang cukup ditopang jabatan yang menjanjikan menjadi tidak lebih penting bagi seorang wanita muslimah jika syarat utamanya, yakni kadar keimanan dan akhlaq yang baik tidak dimiliki oleh calon pendampingnya.

Banyak wanita muslimah saat ini yang berpendapat bahwa tidak ada salahnya untuk memperoleh pendamping hidup yang sholeh, tampan, cukup harta dan berpendidikan. Pendapat itu tidak salah, namun juga tidak menjadi benar jika itu menjadi alasan untuk menolak setiap laki-laki sholeh yang datang karena tidak memenuhi syarat lainnya.

Hal itu ditegaskan Rasulullah SAW dalam haditsnya, Dari Abi Hatim al Muzani, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, "Apabila datang (meminang) kepadamu orang yang kamu ridhai agamanya dan akhlaqnya, maka nikahkanlah (anakmu dengan) dia. Jika tidak kamu lakukan maka akan timbullah fitnah di bumi dan kerusakan yang besar," Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, jika hal itu memang ada?" Beliau menjawab, "Apabila datang (meminang) kepadamu, orang yang engkau ridha (karena) agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah anakmu dengan dia." (diucapkan tiga kali) (HR. Tirmidzi)

Imam Asy Syaukani mengatakan, "orang yang kamu ridhai karena agama dan akhlaqnya" dalam hadits diatas, menunjukkan bahwa kufu itu menyangkut segi agama dan akhlaq. Sedangkan Imam Malik menegaskan bahwa kufu itu hanya menyangkut agama saja. Demikian juga apa yang dikutip dari Umar dan Ibnu Mas'ud dan kalangan tabi'in seperti Muhammad Ibn Sirin dan Umar bin Abdul Aziz dengan dasar firman: "Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling taqwa kepada-Nya."

Dari sudut pernikahan, kufu dalam arti agama memang menjadi suatu ketentuan yang mutlak. Namun, kufu dari sisi akhlaq merupakan pertimbangan yang lebih jauh. Ini menyangkut masa depan keutamaan sebuah keluarga muslim di tengah keluarga muslim lainnya. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menyatakan bahwa apabila yang datang itu adalah seorang yang baik agama dan akhlaqnya, maka (jika anak perempuannya juga tidak keberatan) pinangannya harus diterima.

Agama dan akhlaq adalah ukuran yang ideal bagi suami yang baik. Dari sisi inilah wajar bila seorang wanita muslimah ingin mendapatkan nilai lebih dari diri calon suaminya, minimal dibandingkan dirinya sendiri. Tetapi cukuplah bersyukur atas nikmat dan anugrah yang diberikan Allah SWT jika memang Allah menentukan pilihan bagi seorang muslimah yang ...ehm, Sholeh, tampan, berpendidikan dan cukup harta. Hendaknya ia tidak menjadi takabbur menganggap dirinya lebih mulia dari wanita muslimah lainnya, karena sesungguhnya atas segala nikmat yang Allah berikan, Allah titipkan pula ujian didalamnya untuk menguji apakah hamba-Nya bersyukur atau sebaliknya. (bay/beberapa sumber)
Sumber : www.dudung.net

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar