Senin, 28 Juni 2010

PERLUKAH SEX EDUCATION BAGI REMAJA?

APA PERLU PENDIDIKAN SEX MASUK DALAM KURIKULUM SEKOLAH?
Oleh
Drs. Agus Wasisto Dwi Doso Warso,MPd
( Widya Iswara LPMP DIY)


Polemik tentang perlu tidaknya materi pendidikan sex dan kesehatan reproduksi dimasukkan kedalam kurikulum sekolah, merupakan wacana yang pada akhir-akhir ini sering muncul di media masa maupun dalam forum-forum seminar maupun diskusi.
Wacana ini bertitik tolak dari hasil-hasil riset yang telah banyak dilakukan menunjukkan bahwa perilaku seksual remaja sekarang ini cenderung berada dalam tataran yang cukup mengkhawatirkan.
Kalau kita melihat banyaknya kasus - kasus yang muncul yang berkaitan dengan perilaku remaja, misalnya kasus hamil pra nikah, aborsi , maupun pembuangan bayi hasil hubungan gelap yang dilakukan oleh remaja, menunjukkan bahwa telah ada penyimpangan perilaku sexual pada sebagian remaja kita.
Tentunya kita sepakat bahwa perilaku menyimpang yang berkaitan dengan kehidupan seksual remaja perlu untuk segera kita luruskan, karena disamping perilaku ini bertentangan dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai kemanusian, nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat, perilaku seksual yang menyimpang tersebut juga akan bisa merusak citra diri remaja, citra keluarga maupun mengganggu kesehatan reproduksi remaja tersebut.
Permasalahannya sekarang adalah bagaimana upaya yang bisa dilakukan agar
remaja atau pelajar mempunyai persepsi dan pemahaman yang benar terhadap masalah seksualitas, pacaran, pernikahan , kehamilan maupun tentang kesehatan reproduksi?.Kemudian siapa yang harus bertanggung jawab dalam membentuk perilaku remaja ? Dan juga bagaimana jika masalah pendidikan sex dan reproduksi remaja tersebut masuk dalam kurikulum pendidikan formal?
Tri pusat pendidikan?
Ada tiga institusi yang akan mempengaruhi pribadi dan tingkah laku seorang anak yaitu keluarga, masyarakat maupun sekolah. Tiga institusi ini tidak bisa dipisahkan satu-sama lainnya dalam mempengaruhi kepribadian maupun perilaku seseorang. Karena begitu kuat dan pentingnya ketiga institusi tersebut dalam mempengaruhi tingkah laku seseorang maka walaupun tidak sepenuhnya benar ada pepatah mengatakan bahwa " kalau ingin melihat bagimana kondisi keluarga, masyarakat dan sekolah yang ada maka lihat bagaimana perilaku yang ditampilkan oleh anggota masyarakatnya".
Pepatah tersebut menggambarkan betapa besar peranan keluarga, masyarakat dan sekolah dalam mempengaruhi persepsi, sikap dan perilaku seseorang. Karena perilaku seseorang yang dalam hal ini para remaja sangat dipengaruhi oleh seberapa jauh mereka memahami tentang berbagai hal yang mereka hadapi dalam kehidupannya.
Berbagai potensi yang mereka miliki akan tumbuh dan berkembang secara optimal dan akan sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budaya yang ada di dalam keluarga, masyarakat, dan sekolah.
1. Keluarga
Keluarga merupakan institusi pertama dimana seseorang akan mengenal bermacam-macam nilai sosial yang ada. Keluarga, akan menjadi tempat berlangsungnya proses sosialisasi dan internalisasi nilai dan beragam ketrampilan dasar dalam hidup seseorang. Sehingga jika proses sosialisasi dan internalisasi nilai berlangsung dengan baik maka kepribadian anak akan menjadi mantap.
Oleh karena itu keluarga menjadi tempat pertama seorang anak mengenal nilai - nilai yang ada dimasyarakat maka peran orang tua dan anggota keluarga yang lain menjadi sangat menentukan dalam membentuk kepribadian dan perilaku anak. Qrang tua akan menjadi patron dan referensi pertama oleh anak dalam melakukan tindakan tertentu. Maka orang tua akan selalu dijadikan rujukan dan teladan bagi anak dalam bertingkah 1aku, karena seorang anak yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan kepribadian akan cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa.
Karena begitu pentingnya peran keluarga dalam membentuk pribadi dan perilaku seorang anak, maka orang tua harus bisa menjadi idola anak, tempat anak bertanya berbagai hal yang anak ingin ketahui dalam hidupnya, dan sebagai tempat terjadinya transformasi dan pewarisan berbagai macam nilai- nilai kehidupan.
Termasuk dalam kaitannya tentang pendidikan sex, keluarga mempunyai peran yang sangat besar walaupun dalam batas-batas tertentu dalam memberikan pemahaman tentang seksualitas anak. Pemahaman tentang seksualitas anak pertama kali akan didapatkan dari keluarga walaupun dalam tataran yang paling minimal. Paling tidak perbedaan fisik alat kelamin antara yang dimiliki oleh anak laki- laki dengan anak perempuan.
Karena anak itu paling lama berinteraksi dengan anggota keluarganya, maka orang tua maupun saudara-saudaranya yang lebih dewasa harus bisa memberikan jawaban yang benar tentang seksualitas kepada anak atau adiknya yang bertanya. Dan juga orang dewasa harus mau menegur dan mengingatkan jika ada anak maupun adiknya yang sekiranya mempunyai pemahaman yang keliru tentang persoalan seksualitas. Sehingga persepsi yang keliru itu bisa segera diluruskan paling tidak bisa dijelaskan duduk persoalannya. Disinilah peran dan posisi orang tua menjadi sangat penting dalam memberikan teladan dan contoh yang benar kepada anaknya.
Karena penyimpangan perilaku yang ditunjukkan oleh sebagian remaja atau anak kita bisa jadi terjadi perbedaan persepsi khususnya pada anak atau remaja terhadap berbagai hal yang menyangkut kehidupan seksualitasnya, misalnya terjadinya perbedaan persepsi remaja tentang seksualitas, pacaran , kehamilan, dan perkawinan. Persepsi masing-masing seseoarang khususnya anak remaja tentang pacaran, hubungan seksual, kehamilan, pernikahan maupun tentang keluarga akan sangat dipengaruhi oleh latar belakang sosial, budaya, agama, pendidikan maupun pengalaman hidup yang mereka miliki.
Persepsi terhadap berbagai hal yang menyangkut kehidupan mereka itulah, yang akan membentuk sikap dan perilaku mereka, apakah mereka akan melanggar norma yang ada atau tidak. Oleh karena itu peran keluarga dalam membentuk persepsi, sikap dan perilaku anak sangat menentukan, sehingga peran orang tua. dan orang dewasa yang ada dalam keluarga untuk bisa menjadi figur teladan maupun yang menjadi rujukan ana.kdalam bertingkah laku akan menjadi sangat penting sekali.
2. Masyarakat
Disamping keluarga, kepribadian dan perilaku anak juga sangat dipengaruhi oleh masyarakat. Dari masyarakatlah anak akan belajar tentang berbagai nilai yang ada, karena dimasyarakatlah anak akan berinteraksi dengan berbagai macam orang dengan latar belakang sosial, budaya, agama , pendidikan maupun pengalaman hidup yang berbeda-beda.
Anak mungkin akan menemukan suatu pengalaman yang baru yang tidak dijumpai dalam keluarganya. Sehingga sesuatu yang baru itu tentunya akan menjadi bagian dari pemahaman anak terhadap lingkungan sosialnya. Berbagai macam pengetahuan baru yang mereka miliki dari teman-temannya, bacaan-bacaan, telivisi maupun berbagai macam media yang ada di masyarakat akan menjadi bagian pengalaman dalam hidupnya, termasuk pengetahuan mereka tentang seksualitas maupun reproduksi.
Seberapa jauh pengaruh pengalaman - pengalaman baru yang diperoleh dari masyarakat itu akan mempengaruhi persepsi, sikap dan perilaku seseorang akan sangat ditentukan oleh seberapa besar anak tersebut sudah mempunyai pemahaman awal yang mereka peroleh dari keluarga, daya seleksi dan kritis terhadap pengalaman baru yang mereka peroleh dari masyarakat
Oleh karena setiap anak itu mempunyai bekal awal yang berbeda tentang berbagai hal, misalnya masalah seksualitas dan reproduksi sehat dari keluarganya, serta karena setiap orang mempunyai daya seleksi dan kekritisan yang berbeda, dan juga sudah menjadi sifat anak atau remaja kalau mereka itu punya kecenderungan suka meniru terhadap apa yang dilihat dan didengar maka masyarakat dituntut juga harus bertanggung jawab dan berusaha untuk bisa memberikan pengalaman yang benar sesuai dengan nilai¬-nilai yang berlaku didalam masyarakat terhadap anak atau remaja yang menjadi bagian dari masyarakatnya.
Sehingga tidak terjadi konflik psikologis pada diri anak atau remaja tentang apa yang telah diketahui datam keluarga dengan apa yang terjadi pada masyarakat, anak harus mendapatkan pemahaman yang sinkron tentang sesuatu nilai antara yang didapatkan dari keluarga dengan apa yang diperoleh didalam masyarakat.
Pemahaman anak tentang seksualitas maupun reproduksi sehat harus sinkron antara apa yang diketahui dari keluarga dengan apa yang diketahui dari masyarakat. Jangan sampai saling kontradiktif, misalnya dalam perilaku berpacaran anak remaja, mungkin dirumah orang tua mengajarkan tentang norrna berpacaran bahwa yang namanya mencium lawan jenisnya yang bukan muhrimnya itu dilarang 0leh agama , sehingga tidak boleh dilakukan, tetapi setelah diluar anak remaja tersebut setiap hari dihadapkan atau melihat balk dilayar kaca dalam sinetron maupun dijalan anak-anak yang bukan muhrimnya saling berciuman dengan bebas, kalau berboncengan megangnnya seperti layaknya suami istri dan lain-lain. Kondisi ini tentunya akan menjadi sesuatu yang membingungkan bagi anak remaja tersebut.
Agar anak mempunyai pemahaman yang benar maka masyarakat dengan berbagai unsur yang membentuk masyarakat harus bisa memberikan contoh-contoh perilaku yang benar sesuai dengan norma yang berlaku didalarn masyarakat, media massa, maupun telivisi juga harus mau menampilkan tayangan-tayangan yang memberikan contoh yang benar, yang tidak provokatif tidak merangsang anak remaja untuk melanggar norma yang ada.
3. Sekolah
Institusi ketiga yang ikut berperan dalam membentuk kepribadian dan perilaku anak adalah sekolah. Institusi sekolah merupakan tempat terjadinya transformasi ilmu rpengetahuan maupun nilai-nilai yang berlaku didalam masyarakat. DI dalam sekolah pula akan terjadi proses pewarisan budaya dan penyebaran budaya secara sistematis dan terprogram.
Oleh karena fungsi keluarga sebagai tempat terjadinya transformasi pengetahuan , }eknologi dan nilai maka keberadaannya menjadi sangat penting di tengah masyarakat. 1Karena proses pewarisan, transformasi maupun prases penyebaran beragam pengetahuan, teknologi, budaya berlangsung secara sistematis dan terprogram maka pengalaman yang akan diperoleh oleh anak juga akan relatif sistematis, terprogram dan terukur.
Dengan demikian agar pemahaman anak tentang seksualitas maupun reproduksi yang sehat itu benar, maka peran sekolah sangat penting dan strategis. Karena pengetahuan yang akan diperoleh oleh anak sudah seragam, sistematis. Namun masalahnya pada bagaimana teknisnya agar pemahaman tentang seksualitas dan reproduksi sehat itu tidak justru memprovokasi siswa untuk coba-coba.
Pada dasarnya penulis sepakat bahwa pendidikan sex dan juga reproduksi sehat perlu dipahami oleh semua anak. Karena melalui sekolah pemahaman tentang sexsualitas dan reproduksi yang sehat akan lehih jelas, sistematis dan terprogram. Karena perlu juga dipahami bahwa pendidikan sex tidak hanya terkait dengan masalah alat kelamin, da hubungan sexual semata, namun juga menyangkut pola hubungan antara oran.g yang lain jenis, kehamilan, norma maupun penyakit yang mungkin timbul akibat hubungan sexual yang tidak benar.
Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana teknis pelaksanaannya apakah pendidikan sex dan reproduksi sehat itu dimasukkan dalam program kurikulum muatan lokal atau dalam pegembangan diri dalam ekstraurikuler. Kalau masuk dalam ekstra kurikuler maka sifatnya hanya pilihan dan bisa dikaitkan dalam bidang yang lain. Kalau masuk dalam intrakurikuler ada beberapa hal yang perlu disiapkan terlebih dahulu agar program pendidikan sex dan reproduksi sehat ini bisa mencapai sasaran maka perlu dipersiapkan terlebih dahulu dari aspek :
• Kurikulumnya yang meliputi:
standar kompetensinya dan kompetensi dasarnya,
siapa gurunya,
berapa waktu yang disediakan
bagaimana metodenya
bagaimana media yang digunakan
bagaimana sistem penilaiaanya
bagaimana sarana dan prasarananya
Dari sisi lain yang juga perlu dipersiapkan √°dalah Apakah anak sudah siap secara psikologis maupun fisiologis dan juga apakah masyarakat sudah siap menerima kenyataan bahwa kehidupan pribadi orang dewasa dibicarakan secara terbuka.
Disamping aspek kurikulum, guru, siswa, masyarakat juga perlu dipikirkan sarana pendukung misalnya buku paket. Hal - hal seperti ini harus dipikirkan terlebih dahulu karena pada dasarnya tingkat perkembangan psikologis anak remaja berbeda dengan orang dewasa misalnya mahasiswa sehingga harus dipertimbangkan dan dipersiapkan yang matang agar program pendidikan ini justru menjadi bumerang bagi kehidupan anak karena tergesa-gesa karena tuntutan modernisasi kesalahan dalam mendesainnya.
Akhirnya penulis berkesimpulan bahwa pendidikan sex maupun reproduksi sihat pada dasarnya perlu untuk anak remaja, dan penyampaiannya itu menjadi tanggungjawab keluarga, masyarakat dan sekolah. Karena kelebihannya yang dimiliki oleh sekolah maka sekolah mempunyai peran yang strategis dalam menyampaikan pendidikan sex dan reproduksi sehat ini kepada anak, namun dalam implementasinya perlu dipesiapkan secara matang tentang kesiapan kurikulum, guru, siswa, masyarakat maupun saranya pendukung yang lainnya. Semoga kita terburu-buru agar tidak keliru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar